Breaking News
light_mode
Istilah Penting
Beranda » AQIDAH » AQD-36: Sifat 20 – Perdebatan dan Penjelasan Ulama Ahlussunnah – Memahami Landasan dan Hikmah di Balik Perumusan Sifat Allah

AQD-36: Sifat 20 – Perdebatan dan Penjelasan Ulama Ahlussunnah – Memahami Landasan dan Hikmah di Balik Perumusan Sifat Allah

  • account_circle mahadulmustaqbal
  • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
  • visibility 28
  • comment 0 komentar






AQD-36: Sifat 20 – Perdebatan dan Penjelasan Ulama Ahlussunnah – Ma’hadul Mustaqbal


AQD-36: Sifat 20 – Perdebatan dan Penjelasan Ulama Ahlussunnah

Memahami Landasan dan Hikmah di Balik Perumusan Sifat Allah


🖼️ INFORMASI GAMBAR

Alt-text: Ilustrasi para ulama Ahlussunnah yang sedang berdiskusi tentang sifat-sifat Allah, dengan latar belakang kitab-kitab kuning dan cahaya ilmu yang menerangi.

Caption: Perumusan 20 sifat wajib bagi Allah merupakan salah satu warisan intelektual terbesar para ulama Ahlussunnah, terutama dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah. Namun di balik perumusan ini, terdapat perdebatan dan diskusi panjang di kalangan ulama. Apakah perumusan 20 sifat ini wajib diketahui? Apakah ini merupakan satu-satunya cara memahami sifat Allah? Artikel ini akan mengupas tuntas perdebatan seputar Sifat 20, penjelasan para ulama Ahlussunnah, serta posisi yang benar dalam memahami sifat-sifat Allah. Pemahaman yang tepat akan menghindarkan umat dari perselisihan yang tidak perlu dan menjaga kemurnian aqidah.

Description: Infografis ini menjelaskan tentang perdebatan dan penjelasan ulama Ahlussunnah seputar Sifat 20: sejarah perumusan, perbedaan pendapat, pandangan para ulama, posisi yang moderat, serta hikmah mempelajari sifat-sifat Allah.

A. PENDAHULUAN: WARISAN INTELECTUAL AHLUSSUNNAH

Perumusan 20 sifat wajib bagi Allah adalah salah satu warisan intelektual terbesar para ulama Ahlussunnah, terutama dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah. Para ulama ini berusaha merumuskan sifat-sifat Allah secara sistematis untuk membentengi umat dari penyimpangan akidah yang muncul pada masanya, seperti paham Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan lainnya. Namun di kalangan umat Islam sendiri, muncul perdebatan seputar status dan kewajiban mempelajari Sifat 20 ini. Apakah setiap muslim wajib mengetahui dan menghafal 20 sifat ini? Apakah ini merupakan satu-satunya cara memahami sifat Allah? Apakah perumusan ini merupakan bid’ah? Artikel ini akan mengupas tuntas perdebatan seputar Sifat 20, penjelasan para ulama Ahlussunnah, serta posisi yang benar dalam memahami sifat-sifat Allah. Pemahaman yang tepat akan menghindarkan umat dari perselisihan yang tidak perlu dan menjaga kemurnian aqidah.

Artikel AQD-36 ini akan membahas secara mendalam tentang perdebatan dan penjelasan ulama Ahlussunnah seputar Sifat 20: sejarah perumusan, perbedaan pendapat, pandangan para ulama, posisi yang moderat, serta hikmah mempelajari sifat-sifat Allah.

Allah SWT berfirman: “Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dia memiliki nama-nama yang terbaik (al-asma’ al-husna).” (QS. Thaha: 8)

B. BAB I: SEJARAH PERUMUSAN SIFAT 20

1. Latar Belakang Sejarah

Pada abad ke-2 dan ke-3 Hijriah, muncul berbagai aliran pemikiran yang menyimpang dalam masalah akidah. Mu’tazilah muncul dengan paham bahwa akal dapat menentukan baik dan buruk, serta menolak sifat-sifat Allah dengan alasan menjaga keesaan. Jahmiyyah menolak seluruh sifat Allah. Sementara itu, golongan Mujassimah menyerupakan Allah dengan makhluk. Dalam situasi ini, para ulama Ahlussunnah seperti Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H) dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi (w. 333 H) berusaha merumuskan akidah Ahlussunnah secara sistematis. Mereka mengumpulkan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, lalu merumuskannya menjadi 20 sifat wajib untuk memudahkan umat dalam memahami akidah.

2. Metodologi Perumusan

Para ulama tidak serta-merta menetapkan angka 20 secara sembarangan. Mereka mendasarkan pada:

  • Dalil Naqli: Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang menyebutkan sifat-sifat Allah.
  • Dalil Aqli: Menggunakan pendekatan akal untuk menetapkan sifat-sifat yang pasti ada pada Allah.
  • Klasifikasi: Membagi sifat menjadi empat kelompok: nafsiyah, salbiyah, ma’ani, dan ma’nawiyah.

📌 Perbedaan Perumusan Asy’ariyah dan Maturidiyah

Imam Al-Asy’ari dan Imam Al-Maturidi memiliki perumusan yang sedikit berbeda. Asy’ariyah merumuskan 20 sifat, sementara Maturidiyah merumuskan 7 sifat (al-Asma’ al-Husna) dengan perincian yang berbeda. Maturidiyah membagi sifat menjadi: Sifat Dzat (Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatu lil hawadits, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyyah) dan Sifat Ma’ani (Qudrah, Iradah, ‘Ilmu, Hayah, Sam’, Bashar, Kalam). Namun secara substansi, keduanya memiliki tujuan yang sama: menetapkan sifat-sifat Allah sesuai dengan keagungan-Nya.

C. BAB II: PERDEBATAN SEPUTAR SIFAT 20

📜 Apakah Sifat 20 Wajib Diketahui?

Sebagian ulama berpendapat bahwa mengetahui 20 sifat ini adalah wajib ‘ain (kewajiban individu) bagi setiap muslim. Pendapat ini didasarkan pada keharusan mengenal Allah dengan sifat-sifat sempurna-Nya. Namun sebagian ulama lain berpendapat bahwa yang wajib adalah mengimani sifat-sifat Allah secara umum, tidak harus menghafal angka 20. Imam Al-Ghazali dalam Al-Iqtishad fi al-I’tiqad menyebutkan bahwa yang penting adalah meyakini sifat-sifat Allah dengan benar, bukan menghafal hitungannya.

🕌 Apakah Sifat 20 Merupakan Bid’ah?

Beberapa kelompok menuduh bahwa perumusan Sifat 20 adalah bid’ah karena tidak ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Namun para ulama Ahlussunnah menjawab bahwa perumusan ini adalah bagian dari ijtihad untuk memudahkan umat dalam memahami akidah. Sifat-sifat yang dirumuskan semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Imam An-Nawawi dalam Fatawa-nya menegaskan bahwa pembahasan sifat Allah dengan metode seperti ini dibolehkan selama tidak melampaui batas dan tidak menyimpang dari manhaj Salaf.

📖 Apakah Sifat 20 Satu-Satunya Cara?

Para ulama sepakat bahwa perumusan Sifat 20 bukanlah satu-satunya cara memahami sifat Allah. Manhaj Salaf (generasi awal) lebih memilih untuk menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam nash, tanpa merumuskan dalam angka tertentu. Kedua cara ini—manhaj tafwidh (penyerahan) dan manhaj takwil (penakwilan dengan metode Asy’ariyah)—sama-sama diakui sebagai bagian dari Ahlussunnah, selama tidak melanggar prinsip dasar.

📖 Pendapat Imam An-Nawawi tentang Sifat 20

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab berkata: “Pembahasan tentang sifat-sifat Allah adalah pembahasan yang sangat agung. Para ulama Ahlussunnah telah merumuskan sifat-sifat Allah menjadi beberapa kelompok untuk memudahkan pemahaman. Tidak ada salahnya mempelajari perumusan ini selama kita memahami bahwa yang terpenting adalah meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat sempurna, terbebas dari segala kekurangan, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya.”

D. BAB III: PENJELASAN ULAMA AHLUSSUNNAH TENTANG SIFAT 20

📚 Pandangan Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam Al-Iqtishad fi al-I’tiqad menjelaskan bahwa mengetahui sifat-sifat Allah adalah kewajiban, tetapi tidak harus dengan angka tertentu. Beliau menyusun sendiri klasifikasi sifat Allah dalam kitabnya. Yang terpenting adalah meyakini bahwa Allah Maha Ada, Maha Kekal, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Berbicara. Beliau juga menekankan pentingnya membersihkan Allah dari segala kekurangan.

📖 Pandangan Imam Fakhruddin Ar-Razi

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Asas at-Taqdis memberikan penjelasan mendalam tentang sifat-sifat Allah. Beliau menggunakan pendekatan filosofis namun tetap dalam koridor Ahlussunnah. Beliau membagi sifat menjadi dua: sifat dzatiyyah dan sifat fi’liyyah. Meskipun menggunakan metode yang berbeda, tujuannya sama: menegaskan kesempurnaan Allah dan membersihkan-Nya dari kekurangan.

📜 Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah lebih memilih manhaj Salaf dalam memahami sifat Allah. Beliau tidak menggunakan perumusan 20 sifat, tetapi menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa takwil dan tanpa tasybih. Beliau berkata: “Manhaj Salaf adalah yang paling selamat. Mereka menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan dan tanpa menolak.”

📌 Kesimpulan: Sifat 20 adalah Ijtihad yang Diakui

Perumusan Sifat 20 adalah ijtihad para ulama Ahlussunnah untuk memudahkan umat dalam memahami akidah. Ijtihad ini tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya cara, tetapi juga tidak boleh dicela sebagai bid’ah. Para ulama Ahlussunnah seperti Imam An-Nawawi, Imam Al-Ghazali, dan Imam Ar-Razi mengakui manfaat perumusan ini, sementara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah lebih memilih manhaj Salaf. Keduanya adalah ulama besar Ahlussunnah yang patut dihormati. Yang terpenting adalah tidak terjatuh ke dalam sikap ekstrem yang mengkafirkan atau membid’ahkan saudara sesama Ahlussunnah karena perbedaan metode dalam memahami sifat Allah.

E. BAB IV: POSISI MODERAT AHLUSSUNNAH

⚖️ Menghormati Semua Metode

Ahlussunnah wal Jama’ah memiliki posisi moderat dalam menyikapi perbedaan metode memahami sifat Allah. Mereka menghormati manhaj Salaf yang menetapkan sifat tanpa takwil, juga menghormati manhaj Khalaf (Asy’ariyah, Maturidiyah) yang menggunakan takwil tertentu. Kedua metode ini memiliki landasan yang kuat dan sama-sama berusaha menjaga kemurnian akidah. Yang penting adalah tidak keluar dari prinsip dasar Ahlussunnah: menetapkan sifat Allah tanpa tasybih dan tanpa ta’thil.

🤝 Tidak Mengkafirkan karena Perbedaan Metode

Para ulama Ahlussunnah sepakat bahwa perbedaan dalam metode memahami sifat Allah—apakah dengan tafwidh atau takwil—tidak menjadikan seseorang kafir atau sesat. Selama seseorang meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat sempurna dan tidak menyerupakan-Nya dengan makhluk, ia tetap dalam lingkaran Ahlussunnah. Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku tidak mengkafirkan siapa pun karena perbedaan pendapat dalam masalah ini.”

📚 Mengedepankan Adab dan Hikmah

Ahlussunnah mengajarkan adab yang tinggi dalam membahas masalah akidah. Mereka tidak boleh mencela ulama yang berbeda metode, tidak boleh memvonis sesat tanpa bukti yang jelas, dan selalu mengedepankan hikmah dalam berdakwah. Inilah akhlak Ahlussunnah yang menjadi rahmat bagi umat.

💡 Pesan Imam Asy-Syafi’i tentang Perbedaan Pendapat

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Pendapatku benar namun mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar.” Sikap ini menunjukkan adab yang tinggi dalam menyikapi perbedaan pendapat. Demikian pula dalam masalah sifat Allah, kita harus menghormati perbedaan metode selama tidak keluar dari koridor Ahlussunnah. Jangan sampai perbedaan ini memecah belah umat.

F. BAB V: HIKMAH MEMPELAJARI SIFAT 20

1. Memudahkan Pemahaman Aqidah

Perumusan Sifat 20 memudahkan umat Islam, terutama yang tidak memiliki latar belakang ilmu mendalam, untuk memahami sifat-sifat Allah secara sistematis. Ini adalah bentuk dakwah yang bijaksana.

2. Membentengi dari Penyimpangan

Dengan mengetahui sifat-sifat Allah, seorang muslim terlindungi dari paham sesat seperti Jahmiyyah (menolak sifat), Mujassimah (menyerupakan), dan Mu’tazilah (mengutamakan akal).

3. Menumbuhkan Kedekatan dengan Allah

Semakin mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya, semakin bertambah cinta, takut, dan harap seorang hamba kepada-Nya. Inilah inti dari ibadah.

4. Landasan Ibadah yang Benar

Ibadah yang benar harus didasari dengan pengetahuan yang benar tentang Allah. Siapa yang mengenal Allah dengan benar, ia akan beribadah kepada-Nya dengan benar pula.

5. Menghargai Warisan Ulama

Mempelajari Sifat 20 adalah bentuk penghargaan terhadap perjuangan para ulama Ahlussunnah dalam menjaga kemurnian akidah. Ini adalah bagian dari menjaga warisan intelektual Islam.

6. Menyatukan Umat

Pemahaman yang benar tentang sifat Allah akan menjadi pemersatu umat Islam, karena mereka memiliki keyakinan yang sama tentang keagungan dan kesempurnaan Allah.

📌 Renungan Akhir: Persatuan di Atas Aqidah yang Benar

Perbedaan metode dalam memahami sifat Allah tidak boleh menjadi sebab perpecahan umat Islam. Ahlussunnah wal Jama’ah memiliki kelapangan dalam menerima perbedaan ijtihad selama masih dalam koridor yang benar. Yang terpenting adalah kita semua bersatu dalam keyakinan bahwa Allah Maha Sempurna, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Marilah kita jadikan perbedaan ini sebagai rahmat, bukan sebagai sumber permusuhan. Semoga Allah menjaga kita semua di atas jalan yang lurus, memahami sifat-sifat-Nya dengan benar, dan mengamalkan aqidah yang murni.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

G. DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Asy’ari, Abu Hasan. (2005). Maqalat al-Islamiyyin. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

Al-Maturidi, Abu Manshur. (2005). Kitab at-Tauhid. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

Al-Ghazali, Abu Hamid. (2005). Al-Iqtishad fi al-I’tiqad. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

Ar-Razi, Fakhruddin. (2000). Asas at-Taqdis. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. (2004). Majmu’ Fatawa. Riyadh: Dar Alam Al-Kutub.

An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. (1999). Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Beirut: Dar Al-Fikr.

An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. (1999). Fatawa An-Nawawi. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: LPMQ.

NU Online. (2023). “Sifat 20: Perdebatan dan Penjelasan Ulama.” https://islam.nu.or.id/

Ma’hadul Mustaqbal. (2025). Kurikulum Aqidah Islam: Materi Sifat 20 dan Perdebatannya. Artikel internal.

Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.

🏷️ 30 TAGS ARTIKEL

sifat 20
20 sifat allah
perdebatan sifat 20
penjelasan sifat 20
ulama ahlussunnah
imam al asy’ari
imam al maturidi
imam al ghazali
imam fakhruddin ar razi
syaikhul islam ibnu taimiyah
imam an nawawi
manhaj salaf
manhaj khalaf
sifat allah dalam islam
tafwidh dan takwil
mu’tazilah
jahmiyyah
mujassimah
aqidah ahlussunnah
aswaja
perbedaan pendapat dalam islam
adab berdebat
al iqtishad fi al i’tiqad
maqalat al islamiyyin
kitab at tauhid
majmu fatawa
ma’hadul mustaqbal
pondok pesantren
aqidah islam
sifat allah menurut ahlussunnah


  • Penulis: mahadulmustaqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less