Breaking News
light_mode
Istilah Penting
Beranda » BIOGRAFI » BIO-22: Kisah Sa’id bin Musayyab – Pemimpin Tabi’in – Keteladanan Sang Imam yang Teguh dalam Kebenaran, Zuhud, dan Keberanian Menolak Penguasa

BIO-22: Kisah Sa’id bin Musayyab – Pemimpin Tabi’in – Keteladanan Sang Imam yang Teguh dalam Kebenaran, Zuhud, dan Keberanian Menolak Penguasa

  • account_circle mahadulmustaqbal
  • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
  • visibility 28
  • comment 0 komentar






BIO-22: Kisah Sa’id bin Musayyab – Pemimpin Tabi’in – Ma’hadul Mustaqbal


BIO-22: Kisah Sa’id bin Musayyab – Pemimpin Tabi’in

Keteladanan Sang Imam yang Teguh dalam Kebenaran, Zuhud, dan Keberanian Menolak Penguasa


🖼️ INFORMASI GAMBAR

Alt-text: Ilustrasi Sa’id bin Musayyab sang pemimpin tabi’in, seorang ulama besar Madinah yang terkenal dengan keteguhannya dalam memegang kebenaran, ibadah yang khusyuk, dan kisah menikahkan putrinya dengan murid miskin.

Caption: Sa’id bin Musayyab adalah pemimpin para tabi’in, seorang faqih yang fatwanya menjadi rujukan, ahli ibadah yang tidak pernah meninggalkan shaf pertama selama 50 tahun, dan sosok yang tegas menolak bujuk rayu penguasa demi menjaga agama.

Description: Infografis ini menampilkan potret keteladanan Sa’id bin Musayyab dalam empat aspek utama: keilmuan sebagai pemimpin tujuh fuqaha Madinah dan Rawiyatul Umar (periwayat Umar), kezuhudan dengan menolak harta dan jabatan, keteguhan dalam menghadapi penguasa yang dicambuk karena menolak baiat, dan kisah inspiratif menikahkan putrinya dengan murid miskin Abdullah bin Wada’ah dengan mahar dua dirham.

A. PENDAHULUAN: SANG PEMIMPIN PARA TABI’IN

Di antara lautan nama besar generasi tabi’in, ada satu sosok yang menonjol bagaikan bulan purnama di malam yang gelap. Beliau adalah Sa’id bin Musayyab, seorang ulama yang dijuluki Sayyidut Tabi’in (pemimpin para tabi’in) dan termasuk dalam tujuh fuqaha Madinah yang termasyhur. Beliau lahir pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, tepatnya pada tahun 15 H, dua tahun setelah Umar menjabat sebagai khalifah [citation:1]. Hidup di tengah-tengah para sahabat besar, beliau menyerap ilmu langsung dari sumbernya yang paling murni.

Artikel BIO-22 ini akan mengupas tuntas perjalanan hidup Sa’id bin Musayyab, mulai dari masa kecilnya di Madinah, proses menuntut ilmu dari para sahabat, ketekunan ibadahnya yang luar biasa, hingga kisah-kisah heroiknya dalam menghadapi penguasa yang zalim. Kisah pernikahan putrinya dengan seorang murid miskin menjadi salah satu pelajaran terindah tentang memilih pasangan hidup berdasarkan ketakwaan, bukan harta dan kedudukan.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata tentang Sa’id bin Musayyab: “Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat pemuda ini, sungguh beliau akan sangat menyukainya.” [citation:2]

B. BAB I: NASAB DAN KELAHIRAN SANG PEMIMPIN

1. Nasab yang Mulia

Sa’id bin Musayyab memiliki nasab yang mulia. Beliau adalah Abu Muhammad Sa’id bin al-Musayyab bin Hazn bin Abi Wahb bin ‘Amr bin ‘Aidz bin Imran bin al-Makhzumi al-Qurasyi [citation:1]. Beliau berasal dari Bani Makhzum, salah satu kabilah Quraisy yang terhormat. Ayahnya, al-Musayyab bin Hazn, adalah seorang sahabat Nabi yang ikut berjuang dalam menyebarkan dakwah Islam. Kakeknya juga termasuk sahabat Rasulullah. Dengan demikian, Sa’id bin Musayyab tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan mencintai Islam [citation:4].

2. Kelahiran di Masa Keemasan Islam

Sa’id bin Musayyab lahir di Madinah al-Munawwarah pada tahun 15 Hijriyah (636 M) [citation:1]. Masa itu adalah masa keemasan Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab. Madinah sebagai ibu kota negara Islam dipenuhi oleh para sahabat besar yang masih hidup dan aktif mengajarkan ilmu. Lingkungan yang penuh berkah ini menjadi madrasah pertama bagi Sa’id kecil. Beliau tumbuh menyaksikan langsung bagaimana para sahabat menjalankan ajaran Islam dan memimpin umat [citation:4].

Beliau hidup di masa-masa yang penuh peristiwa bersejarah. Sa’id bin Musayyab menyaksikan masa pemerintahan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, hingga masa Bani Umayyah. Ia juga menyaksikan peristiwa-peristiwa besar seperti terbunuhnya Umar, Utsman, dan perseteruan yang terjadi di kalangan umat Islam pada masa Ali. Namun demikian, beliau tetap istiqamah dan tidak terlibat dalam fitnah yang terjadi [citation:4].

📌 Catatan Penting

Menurut sebagian riwayat, Sa’id bin Musayyab lahir dua tahun setelah Umar bin Khattab menjadi khalifah. Umar wafat pada tahun 23 H, sehingga Sa’id saat itu berusia sekitar 8 tahun. Meskipun ada perbedaan pendapat tentang apakah beliau sempat bertemu langsung dengan Umar, namun beliau dikenal sebagai Rawiyatul ‘Umar (periwayat Umar) karena pengetahuannya yang mendalam tentang kebijakan-kebijakan Umar [citation:1].

C. BAB II: PERJUANGAN MENUNTUT ILMU

1. Berguru kepada Para Sahabat Besar

Sejak kecil, Sa’id bin Musayyab telah menunjukkan semangat luar biasa dalam menuntut ilmu. Beliau berguru kepada puluhan sahabat Nabi, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar. Di antara guru-gurunya adalah:

  • Umar bin Khattab – meskipun ada perbedaan pendapat tentang apakah beliau sempat bertemu langsung, namun pengetahuannya tentang kebijakan Umar sangat mendalam [citation:7].
  • Utsman bin Affan – beliau berguru dan meriwayatkan hadis dari khalifah ketiga ini [citation:3].
  • Ali bin Abi Thalib – dari Ali, beliau mempelajari berbagai masalah fikih [citation:3].
  • Zaid bin Tsabit – Sa’id sendiri pernah berkata, “Aku mengambil ilmuku ini dari Zaid bin Tsabit” [citation:7].
  • Abu Hurairah – beliau kemudian menjadi menantu Abu Hurairah sehingga semakin dekat dan banyak meriwayatkan hadis darinya [citation:3].
  • Aisyah radhiyallahu ‘anha – Sa’id sering mendatangi rumah Aisyah untuk mempelajari fikih dan ilmu. Beliau memandang pertanda baik dari sabda Rasulullah: “Ambillah agama kalian dari Humaira’ ini (Aisyah)” [citation:7].
  • Ummu Salamah – istri Nabi lainnya yang juga menjadi gurunya [citation:7].
  • Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan masih banyak lagi [citation:7].

2. Menjadi Menantu Abu Hurairah

Salah satu keputusan bijak Sa’id bin Musayyab dalam menuntut ilmu adalah menikahi putri Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Meskipun beliau berasal dari keturunan Quraisy yang terhormat dan memiliki peluang menikahi siapa saja, beliau memilih untuk mendekatkan diri kepada salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis [citation:4]. Dengan menjadi menantu Abu Hurairah, beliau memiliki akses lebih luas untuk mempelajari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat mulia ini. Pernikahan ini kemudian dikaruniai seorang putri bernama Ribab atau disebut juga dengan nama lain [citation:1].

3. Kecerdasan dan Daya Ingat Luar Biasa

Sa’id bin Musayyab dianugerahi kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa. ‘Umran bin Abdullah Al-Khuza’i berkata tentang beliau, “Demi Allah, aku tidak pernah melihatnya sama sekali ketika ada sesuatu yang melewati telinganya, kecuali hatinya pasti dapat menangkap dan memahaminya.” [citation:7]

Kecerdasan ini membuat beliau mampu menghafal hadis dan fatwa-fatwa para sahabat dengan sangat baik. Beliau dikenal sebagai orang yang paling hafal tentang keputusan-keputusan Umar bin Khattab, sehingga dijuluki Rawiyatul ‘Umar (periwayat Umar) [citation:1]. Beliau juga hafal tentang keputusan-keputusan Abu Bakar, Utsman, dan para sahabat lainnya. Bahkan Sa’id sendiri pernah berkata, “Tidak tersisa seorang pun yang lebih mengetahui tentang seluruh hukum yang diputuskan oleh Rasulullah, Abu Bakar, maupun Umar, daripada aku.” [citation:7]

Sa’id bin Musayyab berkata: “Aku mengambil ilmuku ini dari Zaid bin Tsabit. Aku juga mendatangi rumah-rumah istri Nabi dan mempelajari fikih dari Aisyah dan Ummu Salamah. Dan tidak ada satu rumah pun di Madinah yang menaungiku setelah rumahku sendiri, kecuali aku mendatangi putriku dan terkadang mengucapkan salam kepadanya.” [citation:9]

D. BAB III: KETELADAN DALAM IBADAH DAN KETAKWAAN

1. Konsistensi dalam Shalat Berjamaah

Sa’id bin Musayyab adalah sosok yang sangat konsisten dalam melaksanakan shalat berjamaah. Berbagai riwayat menyebutkan bahwa selama 40 hingga 50 tahun, beliau tidak pernah sekalipun meninggalkan shalat berjamaah di masjid [citation:1][citation:4]. Beliau selalu berada di shaf pertama sehingga tidak pernah melihat punggung orang yang shalat di depannya [citation:1].

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Imran al-Jauni bahwa Sa’id bin al-Musayyab tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah dalam semua salatnya selama 40 tahun. Abu Sahal Utsman bin Hakim berkata, “Aku mendengar Sa’id bin al-Musayyab berkata, ‘Sejak 30 tahun yang lalu, setiap kali muadzin mengumandangkan azan, aku pasti sudah berada di masjid.’” [citation:1]

2. Ibadah Haji Puluhan Kali

Dalam kitab Hulyat Aulia dikisahkan bahwa Sa’id bin Musayyab telah menunaikan ibadah haji sebanyak 40 kali [citation:4]. Ini menunjukkan kecintaannya yang luar biasa kepada Baitullah dan kesungguhannya dalam beribadah. Beliau tidak pernah merasa puas dengan ibadah yang telah dilakukan, tetapi terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah.

3. Kekhusyukan dalam Shalat

Burd, maula (budak yang dimerdekakan) Sa’id bin Musayyab, ditanya tentang shalat beliau. Ia menjawab, “Mengenai shalatnya di masjid, tentunya semua orang telah mengetahuinya. Sedangkan shalatnya di rumah, beliau banyak melaksanakan shalat dengan membaca ‘Shad wal Qurani dzi dzikri’.” [citation:9] Beliau juga tidak pernah berbicara pada waktu shalat Jumat sampai selesai melaksanakan shalat dan imam telah pergi [citation:9].

4. Wara’ dan Zuhud

Sa’id bin Musayyab adalah seorang yang sangat wara’ dan zuhud. Beliau memiliki tunjangan sebesar 30.000 dirham dari baitul mal, namun tidak pernah diambilnya [citation:1]. Beliau mencari nafkah dengan bekerja sebagai penjual minyak, dan tidak pernah mau menerima pemberian dari siapa pun [citation:1]. Khalifah Walid bin Abdul Malik pernah memanggilnya dan menawarkan tunjangan, namun Sa’id menolak dengan tegas [citation:1].

💡 Pelajaran Berharga

Konsistensi Sa’id bin Musayyab dalam shalat berjamaah selama 50 tahun mengajarkan kepada kita tentang pentingnya istiqamah dalam beribadah. Bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi terus-menerus hingga akhir hayat. Inilah salah satu rahasia mengapa beliau mencapai derajat yang begitu tinggi di sisi Allah dan dihormati oleh para ulama serta penguasa.

E. BAB IV: KETEGUHAN MENGHADAPI PENGUASA YANG ZALIM

1. Menolak Baiat untuk Walid bin Abdul Malik

Salah satu kisah paling heroik dari Sa’id bin Musayyab adalah penolakannya untuk membaiat putra mahkota Bani Umayyah. Pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, gubernur Madinah Hisham bin Isma’il al-Makhzumi memaksa Sa’id untuk membaiat Walid bin Abdul Malik sebagai putra mahkota [citation:2][citation:3]. Sa’id menolak dengan tegas.

Akibat penolakannya, Sa’id dicambuk sebanyak 60 kali (dalam riwayat lain 50 atau 60 cambukan) dan diarak keliling kota Madinah [citation:1][citation:3]. Orang-orang yang melihatnya berkata, “Ini adalah sebuah kehinaan.” Dengan penuh keyakinan, Sa’id menjawab, “Sebaliknya, kami lari dari posisi hina ke posisi yang kami sukai (ini).” [citation:3]

Ketika teman-temannya seperti Masruq dan Thawus menasihatinya agar menyetujui kekhalifahan Walid untuk menyelamatkan diri dari siksaan, Sa’id menjawab dengan kalimat yang menggugah: “Manusia mengikuti kita dalam bertindak. Jika kita menyetujui, bagaimana kita akan bisa menjelaskan hal ini kepada mereka?” [citation:2]

2. Dihormati oleh Khalifah Abdul Malik

Ketika Khalifah Abdul Malik mengetahui apa yang dilakukan gubernurnya terhadap Sa’id, beliau sangat marah dan mengirim surat kepada gubernur tersebut: “Menghadapi seorang Sa’id, demi Allah, menjalin hubungan baik dengannya lebih engkau butuhkan daripada mencambuknya. Sesungguhnya kami sudah tahu pendapatnya yang berbeda.” [citation:3]

3. Sikap Sa’id ketika Dipanggil Khalifah

Ada kisah menarik ketika Khalifah Abdul Malik datang ke Madinah dan ingin bertemu dengan Sa’id. Sang khalifah mengirim utusan ke masjid untuk memanggil Sa’id. Namun Sa’id menolak untuk datang dan berkata kepada utusan itu, “Barangsiapa menghendaki sesuatu, seharusnya dialah yang datang. Di masjid ini ada ruangan yang luas jika dia menginginkan hal itu. Lagi pula, hadits lebih layak untuk didatangi, sementara dia tidak mau mendatangi.” [citation:10]

Utusan itu kembali dan melaporkan kejadian tersebut kepada Khalifah. Abdul Malik bin Marwan menghela nafas panjang dan bergumam, “Pasti dia adalah Sa’id bin al-Musayyib.” [citation:10]

4. Keberanian Menegur Hajjaj bin Yusuf

Pada suatu ketika, Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi yang terkenal kejam itu shalat dengan tergesa-gesa dan tidak menyempurnakan rukuk dan sujud. Melihat itu, Sa’id mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke tubuh Hajjaj. Hajjaj pun menyadari kesalahannya dan kemudian memperlambat gerakan shalatnya [citation:3]. Peristiwa ini terjadi sebelum Hajjaj memangku jabatan gubernur di kerajaan Bani Umayyah.

🔍 Pelajaran dari Keteguhan Sa’id bin Musayyab

Kisah keteguhan Sa’id bin Musayyab menghadapi penguasa mengajarkan bahwa kebenaran tidak boleh dikorbankan demi keselamatan duniawi. Beliau lebih memilih dicambuk daripada menodai agamanya dengan membaiat orang yang tidak berhak. Ketika ditanya mengapa tidak menyetujui permintaan penguasa, beliau menjawab bahwa umat mengikuti teladan ulama. Inilah tanggung jawab besar seorang ulama: menjadi teladan dalam kebenaran.

F. BAB V: KISAH MENIKAHKAN PUTRI DENGAN MURID MISKIN

1. Lamaran dari Putra Mahkota

Sa’id bin Musayyab memiliki seorang putri yang sangat cantik dan shalihah. Putrinya ini juga dikenal sebagai perempuan yang paling mendalami ilmu Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Suatu hari, Khalifah Abdul Malik bin Marwan datang menemui Sa’id untuk meminangkan putranya, Al-Walid bin Abdul Malik (putra mahkota), dengan putri Sa’id [citation:6].

Namun alangkah terkejutnya sang khalifah ketika Sa’id dengan tegas menolak lamaran tersebut. Alasannya, Sa’id khawatir jika putrinya terbutakan oleh kehidupan keluarga kerajaan yang bergelimang harta, serta karena Al-Walid dikenal sebagai pemuda yang banyak melakukan dosa dan lemah agamanya [citation:6]. Penolakan ini membuat Sa’id kembali mendapatkan hukuman. Dalam satu riwayat disebutkan, beliau dicambuk sebanyak 100 kali [citation:6].

2. Menikahkan Putri dengan Murid Miskin

Suatu ketika, Sa’id bin Musayyab melihat seorang muridnya bernama Abdullah bin Wada’ah (atau Katsir bin Abi Wada’ah) yang beberapa hari tidak hadir di majelis ilmu. Sa’id menanyakan kabarnya, dan Abdullah menjawab bahwa istrinya meninggal dunia sehingga ia tersibukkan dengan urusan pemakaman [citation:6].

Kemudian Sa’id bertanya, “Apakah kamu sudah menemukan perempuan lain sebagai penggantinya?”

Abdullah menjawab dengan pasrah, “Semoga Allah merahmatimu. Siapa yang bersedia menikahkan putrinya denganku, sedangkan aku tidak mempunyai kekayaan selain dua atau tiga dirham saja!?” [citation:6]

Dengan mantap Sa’id berkata, “Aku akan menikahkanmu dengan putriku.”

Abdullah terkejut dan berkata bahwa dirinya tidak sebanding dengan putri Sa’id. Namun Sa’id tetap pada pendiriannya. Beliau kemudian memanggil beberapa orang Anshar untuk menjadi saksi pernikahan putrinya dengan Abdullah bin Wada’ah. Mahar yang diberikan adalah dua atau tiga dirham saja [citation:4][citation:6].

3. Mengantarkan Putri ke Rumah Murid

Setelah akad nikah dilaksanakan, Sa’id bin Musayyab sendiri yang mengantarkan putrinya ke rumah Abdullah bin Wada’ah. Beliau juga membawakan seorang pembantu, beberapa dirham uang, dan makanan untuk bekal putrinya [citation:3]. Sungguh pemandangan yang mengharukan: seorang ulama besar yang menolak lamaran putra mahkota, justru menikahkan putrinya dengan seorang murid yang miskin namun bertakwa.

💝 Hikmah di Balik Kisah Pernikahan

Kisah ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada harta dan kedudukannya, tetapi pada ketakwaan dan ilmunya. Abdullah bin Wada’ah adalah seorang penuntut ilmu yang alim dan cerdas, meskipun secara materi ia miskin. Inilah yang menjadi pertimbangan Sa’id bin Musayyab dalam memilih menantu. Beliau ingin putrinya menikah dengan laki-laki yang mampu membimbingnya dalam agama, bukan laki-laki yang hanya kaya tetapi lemah imannya.

Kisah ini juga mengajarkan tentang keberanian dalam memilih meskipun harus berhadapan dengan tekanan penguasa. Sa’id lebih memilih dicambuk daripada menjodohkan putrinya dengan orang yang tidak baik agamanya.

4. Pujian dari Sang Khalifah

Ketika Khalifah Abdul Malik mengetahui bahwa Sa’id menikahkan putrinya dengan orang biasa, beliau berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Sa’id lebih mengetahui kepada siapa ia menyerahkan putrinya.” [citation:6] Kalimat ini menunjukkan bahwa sang khalifah pun akhirnya mengakui kebijaksanaan Sa’id dalam memilih menantu.

G. BAB VI: PENGHORMATAN DARI UMAR BIN ABDUL AZIZ

1. Konsultasi Sebelum Memutuskan Hukum

Khalifah Umar bin Abdul Aziz, salah satu murid Sa’id bin Musayyab, sangat menghormati dan mengagumi gurunya. Beliau tidak akan memutuskan suatu hukum sebelum berkonsultasi dengan Sa’id. Umar bin Abdul Aziz bahkan berkata tentang Sa’id, “Di Madinah ini tidak ada seorang ulama pun kecuali dia akan datang kepadaku dengan membawa ilmunya, dan aku telah diberi apa yang dimiliki oleh Sa’id bin al-Musayyab.” [citation:7]

2. Permintaan Maaf Sang Khalifah

Pada suatu hari, Umar bin Abdul Aziz mengirimkan seorang utusan kepada Sa’id bin Musayyab untuk bertanya tentang suatu permasalahan fikih. Namun si utusan justru mengajak Sa’id untuk menghadap kepada sang khalifah. Ketika Sa’id datang, Umar bin Abdul Aziz berkata seraya tersenyum, “Utusan itu telah salah, wahai Sa’id. Sesungguhnya kami mengutusnya untuk bertanya kepadamu di majelismu.” [citation:7]

Ini menunjukkan betapa besarnya penghormatan Umar bin Abdul Aziz kepada Sa’id. Sang khalifah tidak ingin merepotkan gurunya, dan meminta maaf karena gurunya sampai harus datang ke istana. Sikap ini mencerminkan adab seorang murid kepada gurunya, meskipun sang murid adalah seorang khalifah.

Sa’id bin Musayyab memiliki murid-murid yang menjadi ulama besar, di antaranya adalah Umar bin Abdul Aziz (yang kemudian menjadi khalifah yang adil), Ibnu Syihab az-Zuhri (ulama hadis terkemuka), Qatadah, dan Yahya bin Sa’id al-Ansari [citation:2].

H. BAB VII: KISAH AKHIR HAYAT DAN WARISAN ILMU

1. Menjelang Wafat

Di akhir usianya, Sa’id bin Musayyab jatuh sakit. Ketika dijenguk oleh Nafi’ bin Jubair, Sa’id jatuh pingsan. Nafi’ meminta keluarganya untuk menghadapkan Sa’id ke arah kiblat. Ketika sadar, Sa’id berkata, “Seandainya aku bukan orang yang biasa menghadap kiblat dan menganut Islam, demi Allah, aku tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa dari tindakan kalian memutar arah tempat tidurku.” [citation:3]

Ketika menghadapi detik-detik wafatnya, Sa’id ingat bahwa ia meninggalkan sejumlah harta. Ia berkata, “Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku tidaklah meninggalkan harta itu melainkan untuk menjaga agamaku.” [citation:3]

2. Wafatnya Sang Imam

Sa’id bin Musayyab wafat pada tahun 94 Hijriyah (715 M) di Madinah dalam usia sekitar 79 tahun [citation:1]. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Baqi’. Menurut keterangan para ahli, tahun 94 H dinamai “sanah al-fuqaha” (tahun wafatnya para fuqaha) karena di tahun itu banyak ulama besar Madinah yang wafat [citation:4].

3. Warisan Ilmu yang Tak Ternilai

Sa’id bin Musayyab meninggalkan warisan ilmu yang sangat besar. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh beliau diteruskan oleh murid-muridnya seperti az-Zuhri, Qatadah, dan Yahya bin Sa’id al-Ansari. Imam Syafi’i menilai bahwa hadis mursal (hadis yang diriwayatkan tabi’in langsung dari Nabi tanpa menyebut sahabat) yang berasal dari Sa’id bin Musayyab adalah hasan (baik), bahkan Imam Ahmad mengatakan bahwa semua mursalat (kumpulan hadis mursal) yang diriwayatkan Sa’id adalah shahih [citation:1][citation:2].

Fatwa-fatwa beliau menjadi rujukan utama bagi para fuqaha setelahnya. Beliau adalah salah satu dari tujuh fuqaha Madinah yang paling utama dan paling berpengaruh [citation:1].

🌟 Pesan Terakhir dari Sa’id bin Musayyab

Di akhir hayatnya, Sa’id bin Musayyab berpesan: “Jangan kalian mengatakan: ‘mushaf kecil’ atau ‘mesjid kecil’. Karena segala yang menjadi milik Allah adalah besar, agung, dan indah.” [citation:3]

Pesan ini mengajarkan kita untuk selalu mengagungkan syiar-syiar Allah dan tidak menggunakan kata-kata yang meremehkan atau mengecilkan sesuatu yang berkaitan dengan Allah.

I. KESIMPULAN

Sa’id bin Musayyab adalah sosok luar biasa yang menjadi pemimpin para tabi’in. Kehidupannya sarat dengan pelajaran berharga bagi setiap Muslim. Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan:

  1. Nasab dan Kelahiran: Sa’id bin Musayyab lahir pada tahun 15 H di Madinah, dari keluarga Bani Makhzum Quraisy yang mulia [citation:1].
  2. Perjuangan Menuntut Ilmu: Beliau berguru kepada puluhan sahabat besar, termasuk Abu Hurairah, Aisyah, Ummu Salamah, Zaid bin Tsabit, dan menjadi menantu Abu Hurairah untuk lebih mendekatkan diri pada sumber ilmu [citation:3][citation:7].
  3. Ketekunan Ibadah: Selama 40-50 tahun tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di shaf pertama, haji lebih dari 30-40 kali, dan dikenal sangat wara’ [citation:1][citation:4].
  4. Keteguhan Prinsip: Beliau tegas menolak membaiat putra mahkota Bani Umayyah meskipun dicambuk dan diancam, serta menolak panggilan khalifah yang tidak sesuai dengan etika [citation:2][citation:10].
  5. Kisah Pernikahan Putri: Menolak lamaran putra mahkota dan menikahkan putrinya dengan murid miskin yang bertakwa dengan mahar dua dirham, mengajarkan bahwa ketakwaan lebih utama daripada harta [citation:6].
  6. Warisan Ilmu: Murid-muridnya menjadi ulama besar seperti Umar bin Abdul Aziz dan az-Zuhri, hadis-hadis mursalnya dinilai shahih oleh para imam [citation:1][citation:7].

Sa’id bin Musayyab wafat pada tahun 94 H, meninggalkan teladan tentang bagaimana seorang ulama seharusnya bersikap: teguh dalam kebenaran, zuhud terhadap dunia, dekat dengan penguasa namun tidak pernah tunduk pada tekanan, dan memilih pasangan hidup berdasarkan ketakwaan, bukan kekayaan. Semoga kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi kita semua.

رَحِمَ اللَّهُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ

“Semoga Allah merahmati Sa’id bin Musayyab, sang pemimpin para tabi’in yang mulia.”

J. DAFTAR PUSTAKA

Adz-Dzahabi, Syamsuddin. (1985). Siyar A’lam an-Nubala. Jilid 4. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah. [citation:1]

Ibnu Sa’ad, Muhammad. (ca. 9th Century). Thabaqat al-Kubra. Beirut: Dar Shadir. [citation:2]

Al-Hasyimi, Syaikh Abdul Mun’im. (2020). Kisah Para Tabi’in. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. [citation:7]

Nasiruddin, S.Ag, MM. (2008). Kisah Orang-orang Sabar. Jakarta: Penerbit Republika. [citation:6]

Az-Zawawi, Rabi’ BAdur Rauf. (2019). Al-Baqiyatus Shalihat: Amalan Abadi yang Tidak Merugi. Jakarta: Darul Haq. [citation:6]

Zuhaili, Wahbah. (2015). Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Damaskus: Dar al-Fikr. [citation:4]

Ibnu Katsir, Isma’il. (ca. 14th Century). Al-Bidayah wa an-Nihayah. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah. [citation:4]

Al-Khatib al-Baghdadi, Ahmad bin Ali. (ca. 11th Century). Tarikh Baghdad. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

An-Nawawi, Yahya bin Syarf. (ca. 13th Century). Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

Ma’hadul Mustaqbal. (2025). Kurikulum Sejarah Peradaban Islam: Biografi Ulama. Artikel internal.

Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.

🏷️ 30 TAGS ARTIKEL

said bin musayyab
pemimpin tabiin
sayyidut tabiin
tujuh fuqaha madinah
biografi ulama
kisah tabiin
rawiyatul umar
abu hurairah
menantu abu hurairah
kisah pernikahan
menikahkan putri
menolak lamaran khalifah
keteguhan ulama
keberanian menolak penguasa
dicambuk karena kebenaran
abdul malik bin marwan
umar bin abdul aziz
hajjaj bin yusuf
ahli ibadah
zuhud
wara
istiqamah shalat berjamaah
hadits mursal
imam syafii
ilmu hadis
sejarah islam
generasi tabiin
teladan ulama
ma’hadul mustaqbal
pondok pesantren


  • Penulis: mahadulmustaqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less