Breaking News
light_mode
Istilah Penting
Beranda » BIOGRAFI » BIO-45: Biografi Ibnu Taimiyyah – Syaikhul Islam, Pembaru Abad ke-7 H

BIO-45: Biografi Ibnu Taimiyyah – Syaikhul Islam, Pembaru Abad ke-7 H

  • account_circle mahadulmustaqbal
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 10
  • comment 0 komentar






BIO-45: Biografi Ibnu Taimiyyah – Syaikhul Islam, Pembaru Abad ke-7 H – Ma’hadul Mustaqbal


BIO-45: Biografi Ibnu Taimiyyah – Syaikhul Islam, Pembaru Abad ke-7 H

🖼️ INFORMASI GAMBAR

Alt-text: Ilustrasi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sedang menulis kitab di perpustakaan Damaskus, dengan latar belakang tumpukan kitab, para murid yang belajar, dan suasana masjid Umayyah Damaskus.

Caption: Biografi Ibnu Taimiyyah: mengulas secara komprehensif tentang kehidupan, perjalanan intelektual, perjuangan melawan bid’ah dan takhayul, pemikiran-pemikiran kontroversial, karya-karya monumental, serta warisan keilmuan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (661-728 H / 1263-1328 M) sebagai salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam.

Description: Infografis biografi Ibnu Taimiyyah yang mencakup: (1) Nama lengkap, nasab, dan kelahiran (661 H/1263 M di Harran, kemudian pindah ke Damaskus), (2) Pendidikan dan guru-guru (ayahnya, Syaikhul Islam al-Mizzi, adz-Dzahabi, dll), (3) Perjalanan intelektual dan penguasaan berbagai disiplin ilmu (tafsir, hadis, fikih, usul fikih, bahasa Arab, logika, filsafat), (4) Perjuangan melawan bid’ah, khurafat, dan takhayul (kritik terhadap praktik ziarah kubur berlebihan, tawasul, dll), (5) Kontroversi dengan para ulama lain (Ibnu Arabi, al-Qunawi, al-Bakri, dll), (6) Pemenjaraan dan penyiksaan oleh penguasa, (7) Karya-karya monumental (Majmu’ al-Fatawa, Minhaj as-Sunnah, al-Aqidah al-Wasithiyyah, dll), (8) Wafatnya di penjara (728 H/1328 M), (9) Warisan keilmuan dan pengaruhnya terhadap gerakan Salafi dan Wahabi.

A. PENDAHULUAN: SYAIKHUL ISLAM YANG KONTROVERSIAL

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (nama lengkap: Taqiyuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Abd al-Halim bin Abd as-Salam bin Abdullah bin Taimiyyah al-Harrani ad-Dimasyqi) adalah salah satu ulama terbesar dan paling kontroversial dalam sejarah Islam. Ia lahir pada tahun 661 H (1263 M) di Harran (sekarang di Turki, dekat perbatasan Suriah) dan wafat pada tahun 728 H (1328 M) di Damaskus pada usia 67 tahun. Ia dijuluki “Syaikhul Islam” (pemimpin para ulama Islam) karena kedalaman ilmunya yang luar biasa di berbagai disiplin: tafsir, hadis, fikih, usul fikih, bahasa Arab, logika, filsafat, bahkan ilmu falak (astronomi) dan kedokteran.

Ibnu Taimiyyah dikenal sebagai pembaru (mujaddid) abad ke-7 H yang gigih melawan bid’ah, khurafat, takhayul, dan praktik-praktik syirik yang berkembang di kalangan umat Islam pada masanya. Ia mengkritik habis-habisan praktik ziarah kubur yang berlebihan, tawasul kepada orang mati, perayaan maulid Nabi yang berlebihan, serta ajaran-ajaran tasawuf (sufisme) yang menyimpang (seperti wahdat al-wujud).

Karena keberaniannya mengkritik penguasa dan ulama lain, Ibnu Taimiyyah dipenjara beberapa kali dan diasingkan oleh penguasa Mamluk di Mesir dan Syam. Ia meninggal di dalam penjara di Damaskus pada tahun 728 H. Namun, pemikiran-pemikirannya justru semakin berkembang setelah wafatnya dan menjadi inspirasi bagi gerakan-gerakan pembaruan Islam, termasuk gerakan Salafi dan Wahabi.

Artikel ini akan mengupas secara mendalam tentang biografi Ibnu Taimiyyah: nasab dan kelahiran, pendidikan dan guru-gurunya, perjalanan intelektual, perjuangan melawan bid’ah, kontroversi dengan ulama lain, pemenjaraan dan penyiksaan, karya-karya monumental, serta warisan keilmuan beliau yang masih hidup hingga saat ini.

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَٰذِهِ الْأُمَّةِ عَلَىٰ رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَّن يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap akhir seratus tahun seseorang yang akan memperbaharui agamanya.” (HR. Abu Dawud)

Ibnu Taimiyyah dianggap oleh banyak ulama sebagai mujaddid (pembaru) abad ke-7 H.

B. NASAB DAN KELAHIRAN IBNU TAIMIYYAH

1. Nama Lengkap dan Nasab

Nama lengkap: Taqiyuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Abd al-Halim bin Abd as-Salam bin Abdullah bin Taimiyyah al-Harrani ad-Dimasyqi.

Nama “Taimiyyah” dinisbahkan kepada neneknya (atau buyutnya) yang bernama Taimiyyah (seorang perempuan salehah). Kakeknya, Syaikh Majduddin Abd as-Salam bin Abdullah, adalah seorang ulama besar Hanbali. Ayahnya, Syaikh Syihabuddin Abd al-Halim, juga ulama Hanbali yang terkemuka. Jadi, Ibnu Taimiyyah lahir dari keluarga yang sangat religius dan berilmu.

2. Kelahiran di Harran (661 H / 1263 M)

Ibnu Taimiyyah lahir pada tanggal 10 Rabi’ul Awwal 661 H (22 Januari 1263 M) di Harran, sebuah kota di Mesopotamia utara (sekarang di Turki, dekat perbatasan Suriah). Pada tahun 667 H (1269 M), ketika Ibnu Taimiyyah berusia 6 tahun, keluarganya meninggalkan Harran karena invasi bangsa Mongol (Tatar) dan pindah ke Damaskus. Di Damaskus inilah Ibnu Taimiyyah tumbuh dewasa, menuntut ilmu, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya.

🗓️ Garis Waktu Kehidupan Ibnu Taimiyyah

  • 661 H (1263 M): Lahir di Harran, Mesopotamia.
  • 667 H (1269 M): Keluarganya pindah ke Damaskus karena invasi Mongol.
  • 667-680 H (1269-1282 M): Menuntut ilmu di Damaskus, menghafal Al-Qur’an dan kitab-kitab hadis.
  • 680 H (1282 M): Mengajar di usia 19 tahun (menggantikan ayahnya yang wafat).
  • 691 H (1292 M): Mulai menulis dan berdakwah secara terbuka.
  • 698 H (1299 M): Pertama kali dipenjara karena kritik terhadap penguasa Mamluk.
  • 705-712 H (1305-1312 M): Dipenjara di Mesir beberapa kali.
  • 718 H (1318 M): Dipenjara lagi di Damaskus.
  • 728 H (1328 M): Wafat di penjara Damaskus pada usia 67 tahun.

C. PENDIDIKAN DAN GURU-GURU IBNU TAIMIYYAH

1. Pendidikan Awal di Damaskus

Ibnu Taimiyyah memulai pendidikannya di bawah bimbingan ayahnya, Syaikh Syihabuddin Abd al-Halim, yang adalah seorang ulama besar Hanbali. Ia menghafal Al-Qur’an pada usia dini, serta mempelajari hadis, fikih, dan bahasa Arab. Setelah ayahnya wafat (680 H/1282 M), ia menggantikan posisi ayahnya sebagai guru di madrasah Dar al-Hadits as-Sukriyyah di Damaskus (usia 19 tahun).

2. Guru-guru Ibnu Taimiyyah

Ibnu Taimiyyah berguru kepada banyak ulama terkemuka di Damaskus. Beberapa guru yang paling berpengaruh:

  • Ayahnya, Syaikh Syihabuddin Abd al-Halim (w. 680 H): Guru utama dalam fikih Hanbali dan hadis.
  • Syaikh Zainuddin al-Fariqi (w. 688 H): Guru dalam fikih Hanbali.
  • Syaikh Majduddin al-Ba’labakki (w. 697 H): Guru dalam fikih dan usul fikih.
  • Syaikh Shadruddin al-Bakri (w. 701 H): Guru dalam bahasa Arab dan sastra.
  • Syaikh Abul Fath al-Ya’muri (w. 700 H): Guru dalam hadis.
  • Syaikh Ibnu Abi al-Yusr (w. 698 H): Guru dalam ilmu kalam (teologi).

Selain itu, Ibnu Taimiyyah juga belajar secara otodidak dari kitab-kitab para ulama terdahulu, terutama Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Hazm, Ibnu Qudamah, dan al-Asy’ari (meskipun ia kemudian mengkritik al-Asy’ari dalam beberapa hal).

3. Penguasaan Berbagai Disiplin Ilmu

Ibnu Taimiyyah dikenal sebagai ulama polimatik (menguasai banyak disiplin ilmu). Bidang-bidang yang ia kuasai:

  • Tafsir Al-Qur’an: Menguasai tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi ar-ra’yi.
  • Hadis: Menghafal ribuan hadis, menguasai ilmu jarh wa ta’dil, dan ilmu musthalah hadis.
  • Fikih: Ahli fikih mazhab Hanbali (tetapi tidak fanatik mazhab, sering mengambil pendapat mazhab lain jika lebih kuat dalilnya).
  • Usul fikih: Menguasai kaidah-kaidah istinbath hukum.
  • Bahasa Arab: Menguasai nahwu, sharaf, balaghah, dan sastra Arab.
  • Logika (mantiq): Menguasai logika Aristoteles, tetapi mengkritik penerapannya dalam teologi Islam.
  • Filsafat (falsafah): Menguasai filsafat Yunani (Aristoteles, Plato, Plotinus) dan filsafat Islam (Ibnu Sina, al-Farabi, Ibnu Rusyd), tetapi mengkritiknya dengan keras.
  • Ilmu kalam (teologi): Menguasai teologi Asy’ariyah, Maturidiyah, dan Mu’tazilah, tetapi mengkritik metode mereka.
  • Ilmu falak (astronomi): Menguasai ilmu falak dan matematika.
  • Ilmu kedokteran (thibb): Menguasai ilmu kedokteran (karena ayahnya juga seorang dokter).

📖 Pujian Ulama terhadap Kecerdasan Ibnu Taimiyyah

Adz-Dzahabi (guru dan muridnya): “Ibnu Taimiyyah adalah orang yang paling hafal hadis di zamannya, paling paham tentang maknanya, dan paling menguasai berbagai mazhab.”

Ibnu Hajar al-Asqalani: “Ibnu Taimiyyah adalah seorang yang sangat alim dalam hadis, tafsir, fikih, dan usul fikih. Tidak ada yang menyamainya di zamannya.”

D. PERJUANGAN MELAWAN BID’AH, KHURAFAT, DAN SYIRIK

1. Kondisi Umat Islam pada Masa Ibnu Taimiyyah

Pada masa Ibnu Taimiyyah (akhir abad ke-7 H/ke-13 M hingga awal abad ke-8 H/ke-14 M), umat Islam menghadapi berbagai masalah:

  • Invasi Mongol (Tatar): Bangsa Mongol telah menghancurkan Baghdad (656 H/1258 M) dan menguasai sebagian besar wilayah Islam. Ibnu Taimiyyah ikut berperang melawan Mongol dan mengeluarkan fatwa jihad.
  • Praktik bid’ah, khurafat, dan syirik: Banyak umat Islam yang melakukan praktik-praktik menyimpang, seperti: ziarah kubur yang berlebihan (meminta doa kepada orang mati, meminta kesembuhan, dll), tawasul kepada wali atau orang saleh yang sudah mati, perayaan maulid Nabi yang berlebihan (dengan nyanyian, tarian, dan ritual yang tidak Islami), dan kepercayaan kepada benda-benda keramat (keris, batu, pohon).
  • Tasawuf yang menyimpang: Banyak sufi yang mengajarkan wahdat al-wujud (kesatuan wujud), yaitu paham bahwa alam semesta adalah manifestasi dari Tuhan, sehingga Tuhan dan makhluk adalah satu. Ini dianggap syirik oleh Ibnu Taimiyyah.
  • Perpecahan mazhab: Fanatisme mazhab (ta’assub mazhabi) menyebabkan perpecahan dan konflik di kalangan umat Islam.

2. Kritik terhadap Ziarah Kubur Berlebihan dan Tawasul

Ibnu Taimiyyah sangat keras mengkritik praktik ziarah kubur yang berlebihan (misalnya, melakukan safar (perjalanan jauh) untuk ziarah kubur, meminta doa kepada orang mati, meminta kesembuhan, atau meminta pertolongan kepada orang mati). Ia berpendapat bahwa perbuatan ini adalah syirik akbar (syirik besar) karena menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya.

Ia juga mengkritik tawasul (perantara) kepada orang yang sudah mati. Ia membedakan antara tawasul yang disyariatkan (berdoa langsung kepada Allah dengan menyebut nama-nama Allah, sifat-sifat Allah, atau amal saleh) dan tawasul yang dilarang (meminta doa kepada orang mati, karena orang mati tidak bisa mendengar atau menjawab doa).

3. Kritik terhadap Maulid Nabi yang Berlebihan

Ibnu Taimiyyah tidak melarang perayaan maulid Nabi secara mutlak. Ia membedakan:

  • Maulid yang disyariatkan: Jika dilakukan sebagai bentuk kegembiraan atas kelahiran Nabi, tanpa ritual bid’ah (tidak ada nyanyian, tarian, atau ritual syirik), maka boleh (mubah) bahkan mendapat pahala (sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi).
  • Maulid yang dilarang: Jika dilakukan dengan ritual-ritual yang tidak diajarkan Nabi (misalnya, berdiri berjam-jam untuk membaca shalawat dengan irama tertentu, mengadakan pesta dengan musik dan tarian, atau meyakini bahwa maulid adalah ibadah wajib).

Ibnu Taimiyyah sangat keras mengkritik paham wahdat al-wujud yang diajarkan oleh Ibnu Arabi (560-638 H) dan para pengikutnya (seperti al-Qunawi, al-Jili, dan al-Farghani). Paham ini mengajarkan bahwa alam semesta adalah manifestasi (tajalli) dari Tuhan, sehingga Tuhan dan makhluk adalah satu. Ibnu Taimiyyah menganggap ini sebagai paham yang sesat dan syirik karena menyamakan Tuhan dengan makhluk-Nya.

Ia menulis kitab “Al-Istighatsah fi ar-Radd ‘ala al-Bakri” dan “Ar-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin” untuk membantah paham wahdat al-wujud dan filsafat yang mendasarinya.

📖 Fatwa Ibnu Taimiyyah tentang Ziarah Kubur

“Tidak boleh melakukan safar (perjalanan jauh) untuk ziarah kubur, kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram (Mekkah), Masjid Nabawi (Madinah), dan Masjid al-Aqsha (Palestina). Ziarah kubur diperbolehkan (bahkan dianjurkan) untuk mengingat kematian, tetapi tidak boleh meminta doa atau pertolongan kepada mayat. Meminta doa kepada mayat adalah syirik akbar.” (Majmu’ al-Fatawa, jilid 27, hlm. 123)

E. KONTROVERSI DENGAN ULAMA LAIN

1. Kontroversi dengan Pengikut Ibnu Arabi (Sufi Falsafi)

Ibnu Taimiyyah sangat keras mengkritik Ibnu Arabi (pengikut paham wahdat al-wujud) dan para pengikutnya. Ia menulis kitab “Al-Istighatsah fi ar-Radd ‘ala al-Bakri” untuk membantah Syekh al-Bakri (pengikut Ibnu Arabi di Damaskus). Konflik ini menyebabkan ia dipenjara beberapa kali.

2. Kontroversi dengan Ulama Asy’ariyah

Ibnu Taimiyyah juga mengkritik metode teologi Asy’ariyah (dan Maturidiyah) yang menggunakan logika Yunani (filsafat) untuk membela akidah Islam. Ia berpendapat bahwa metode ini justru merusak akidah karena memperkenalkan konsep-konsep asing (seperti “al-jauhar al-fard” (atom), “al-a’radh” (akciden), dll). Ia mengajak untuk kembali kepada metode salafush shalih (sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in) dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah (itsbat bi la takyif wa la tamsil).

Namun, ia tidak mengkafirkan al-Asy’ari atau pengikutnya. Ia hanya mengkritik metode mereka yang dianggap keliru.

3. Kontroversi dengan Ulama Hanbali Konservatif

Meskipun ia seorang Hanbali, Ibnu Taimiyyah seringkali mengambil pendapat yang berbeda dengan mazhab Hanbali jika ada dalil yang lebih kuat dari mazhab lain (Syafi’i, Maliki, Hanafi). Ini membuatnya dikritik oleh ulama Hanbali konservatif (seperti al-Mardawi, al-Hajjawi). Namun, mayoritas ulama Hanbali (termasuk Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ibnu Rajab al-Hanbali) mendukungnya.

📖 Sikap Ibnu Taimiyyah terhadap Ulama yang Berbeda Pendapat

“Aku tidak pernah mengkafirkan seorang pun dari kalangan ahli kiblat (umat Islam), meskipun aku berbeda pendapat dengannya. Aku tidak pernah menghalalkan darah mereka, tidak pernah menghalalkan harta mereka, dan tidak pernah membenci mereka. Aku hanya mengkritik kesalahan mereka berdasarkan dalil, dengan tetap menghormati mereka sebagai saudara seiman.” (Majmu’ al-Fatawa, jilid 28)

F. PEMENJARAAN DAN PENYIKSAAN

1. Penyebab Pemenjaraan

Ibnu Taimiyyah dipenjara beberapa kali oleh penguasa Mamluk di Mesir dan Syam (Suriah). Penyebab utamanya:

  • Kritik terhadap penguasa: Ia mengkritik kebijakan penguasa Mamluk yang dianggap tidak Islami (misalnya, memungut pajak yang memberatkan rakyat, tidak menerapkan syariat secara konsisten).
  • Kritik terhadap ulama penguasa: Ia mengkritik ulama-ulama yang menjadi “penjilat” penguasa dan mengeluarkan fatwa yang sesuai dengan keinginan penguasa (bukan sesuai dengan kebenaran).
  • Kontroversi dengan pengikut Ibnu Arabi: Pengikut Ibnu Arabi melaporkan Ibnu Taimiyyah ke penguasa, menuduhnya menghina kaum sufi.
  • Kontroversi tentang talak (cerai): Ia mengeluarkan fatwa bahwa talak tiga yang diucapkan sekaligus hanya dianggap satu talak (bukan tiga). Fatwa ini bertentangan dengan pendapat mayoritas ulama dan membuat penguasa marah.

2. Pemenjaraan Pertama (698 H/1299 M)

Ibnu Taimiyyah pertama kali dipenjara di Benteng Damaskus karena kritiknya terhadap penguasa. Ia dibebaskan setelah beberapa bulan.

3. Pemenjaraan di Mesir (705-712 H/1305-1312 M)

Ia dipanggil ke Mesir (Kairo) untuk menghadapi tuduhan dari para ulama pengikut Ibnu Arabi. Ia dipenjara di Kairo selama beberapa tahun (705-709 H). Setelah dibebaskan, ia dipenjara lagi (709-712 H) karena fatwa talaknya yang kontroversial.

4. Pemenjaraan Terakhir di Damaskus (718-728 H/1318-1328 M)

Sekembalinya ke Damaskus (712 H), ia terus berdakwah dan menulis. Pada tahun 718 H, ia dipenjara lagi di Benteng Damaskus atas perintah Sultan Mamluk (an-Nashir Muhammad bin Qalawun). Ia ditahan di penjara bawah tanah yang gelap dan sempit. Di dalam penjara, ia tetap menulis dan mengajar (melalui celah pintu penjara). Ia wafat di penjara pada tanggal 20 Dzul Qa’dah 728 H (26 September 1328 M) pada usia 67 tahun.

📖 Kematian Ibnu Taimiyyah di Penjara

Ketika Ibnu Taimiyyah sakit keras di penjara, penguasa melarangnya untuk dirawat di rumah sakit. Namun, ia tetap sabar dan terus berzikir kepada Allah. Ia berkata: “Musuhku tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku. Surgaku ada di dadaku. Ke mana pun aku pergi, aku membawa surgaku bersamaku. Penjaraku adalah khalwatku (tempat menyendiri untuk beribadah), pengasinganku adalah safarku (perjalanan spiritual), dan kematianku adalah syahadatku.” Ia wafat pada malam Senin, 20 Dzul Qa’dah 728 H. Ribuan orang mengantar jenazahnya. Makamnya di Damaskus menjadi tempat ziarah hingga saat ini.

G. KARYA-KARYA MONUMENTAL IBNU TAIMIYYAH

Ibnu Taimiyyah menulis lebih dari 500 kitab (beberapa sumber menyebut 700 kitab). Beberapa yang paling terkenal:

📖 Daftar Karya Ibnu Taimiyyah

  • Majmu’ al-Fatawa (مجموع الفتاوى): Kumpulan fatwa-fatwa Ibnu Taimiyyah dalam 37 jilid (dikumpulkan oleh murid-muridnya setelah wafat). Ini adalah karyanya yang paling monumental.
  • Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah (منهاج السنة النبوية): Bantahan terhadap kitab Minhaj al-Karamah karya Ibnu al-Muthahhir al-Hilli (ulama Syi’ah). Kitab ini membahas akidah Ahlussunnah dan bantahan terhadap ajaran Syi’ah Rafidhah.
  • Al-Aqidah al-Wasithiyyah (العقيدة الواسطية): Kitab akidah yang sangat populer, berisi penjelasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah menurut Ahlussunnah (salaf).
  • Al-Istighatsah fi ar-Radd ‘ala al-Bakri (الاستغاثة في الرد على البكري): Bantahan terhadap Syekh al-Bakri (pengikut Ibnu Arabi) tentang masalah tawasul dan istighatsah.
  • Ar-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin (الرد على المنطقيين): Kritik terhadap logika Yunani (Aristoteles) dan penerapannya dalam teologi Islam.
  • Al-Jawab ash-Shahih li man Baddala Din al-Masih (الجواب الصحيح لمن بدل دين المسيح): Bantahan terhadap agama Kristen (Nasrani) dalam 7 jilid.
  • As-Siyasah asy-Syar’iyyah (السياسة الشرعية): Kitab tentang sistem pemerintahan dalam Islam (hubungan agama dan negara).
  • Al-Furqan baina Awliya’ ar-Rahman wa Awliya’ asy-Syaitan (الفرقان بين أولياء الرحمن وأولياء الشيطان): Perbedaan antara wali Allah dan wali setan.
  • Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim (اقتضاء الصراط المستقيم): Kitab tentang larangan menyerupai orang kafir (tasyabbuh).
  • Ziyarah al-Qubur (زيارة القبور): Kitab tentang ziarah kubur menurut syariat.

H. WARISAN IBNU TAIMIYYAH DAN PENGARUHNYA

1. Murid-murid Ibnu Taimiyyah

Ibnu Taimiyyah memiliki banyak murid yang kemudian menjadi ulama besar, antara lain:

  • Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (691-751 H): Murid paling setia dan paling terkenal. Ia menulis banyak kitab (Madarij as-Salikin, Ighatsah al-Lahfan, Zad al-Ma’ad, dll) dan menyebarkan pemikiran gurunya.
  • Adz-Dzahabi (673-748 H): Ahli hadis dan sejarawan. Ia murid sekaligus guru bagi Ibnu Taimiyyah (mereka saling belajar).
  • Ibnu Katsir (701-774 H): Ahli tafsir dan sejarawan. Ia sangat terpengaruh oleh pemikiran Ibnu Taimiyyah (lihat Tafsir Ibnu Katsir).
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852 H): Meskipun bukan murid langsung (ia lahir setelah Ibnu Taimiyyah wafat), ia sangat terpengaruh oleh pemikiran Ibnu Taimiyyah.
  • As-Sakhawi (831-902 H): Ahli hadis, murid Ibnu Hajar.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali (736-795 H): Ahli hadis dan fikih Hanbali, murid Ibnu Qayyim.

2. Pengaruh pada Gerakan Salafi dan Wahabi

Pemikiran Ibnu Taimiyyah menjadi inspirasi utama bagi gerakan Salafi dan gerakan Wahabi (yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab di abad ke-18 M). Muhammad bin Abdul Wahhab sangat mengagumi Ibnu Taimiyyah dan sering mengutip pemikirannya dalam kitab-kitabnya (Kitab at-Tauhid, dll).

Gerakan Salafi modern (termasuk Salafi di Indonesia) juga sangat terpengaruh oleh Ibnu Taimiyyah, terutama dalam hal:

  • Pemurnian tauhid (anti-syirik).
  • Anti-bid’ah dan anti-khurafat.
  • Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis (tidak fanatik mazhab).
  • Kritik terhadap tasawuf falsafi (wahdat al-wujud).

3. Pengaruh pada Gerakan Islam Modern (Muhammadiyah, Persis, Ikhwanul Muslimin)

Pemikiran Ibnu Taimiyyah juga mempengaruhi gerakan pembaruan Islam modern (Muhammadiyah, Persis, Ikhwanul Muslimin, dll) dalam hal:

  • Penolakan taklid buta dan ajakan untuk ijtihad.
  • Pembersihan praktik-praktik bid’ah dan khurafat.
  • Semangat kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis.

📖 Kontroversi Seputar Ibnu Taimiyyah di Indonesia

Di Indonesia, pemikiran Ibnu Taimiyyah sangat berpengaruh di kalangan Muhammadiyah, Persis (Persatuan Islam), dan kelompok Salafi. Namun, NU (Nahdlatul Ulama) sering mengkritik Ibnu Taimiyyah karena dianggap “keras” dan “tidak toleran” terhadap tradisi lokal (seperti tahlilan, maulid, ziarah kubur). Sebagian ulama NU bahkan menganggap Ibnu Taimiyyah sebagai “Syaikhul Islam-nya kaum Salafi, bukan Syaikhul Islam-nya seluruh umat Islam”. Namun, mayoritas ulama (termasuk NU) tetap menghormati Ibnu Taimiyyah sebagai ulama besar, meskipun berbeda pendapat dalam beberapa hal.

I. KESIMPULAN: IBNU TAIMIYYAH, SYAIKHUL ISLAM YANG TAK TERLUPAKAN

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (661-728 H / 1263-1328 M) adalah salah satu ulama terbesar dan paling kontroversial dalam sejarah Islam. Ia adalah seorang pembaru (mujaddid) abad ke-7 H yang gigih melawan bid’ah, khurafat, syirik, dan tasawuf yang menyimpang. Ia juga seorang polimatik yang menguasai berbagai disiplin ilmu (tafsir, hadis, fikih, usul fikih, bahasa Arab, logika, filsafat, astronomi, kedokteran).

Karena keberaniannya mengkritik penguasa dan ulama lain, ia dipenjara beberapa kali dan wafat di dalam penjara. Namun, pemikiran-pemikirannya justru semakin berkembang setelah wafatnya dan menjadi inspirasi bagi gerakan Salafi, Wahabi, Muhammadiyah, Persis, Ikhwanul Muslimin, dan gerakan pembaruan Islam lainnya.

Kita sebagai umat Islam harus menghormati Ibnu Taimiyyah sebagai ulama besar yang ikhlas berjuang menegakkan kebenaran, meskipun kita mungkin tidak sepakat dengan semua pendapatnya. Perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah (cabang) adalah rahmat, selama tidak memecah belah persatuan umat Islam. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyyah dan menempatkannya di surga tertinggi. Aamiin.

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Allah meridhai mereka dan mereka pun meridhai Allah.” (QS. Al-Bayyinah: 8)

Semoga Allah meridhai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan seluruh ulama yang telah berjuang menegakkan kebenaran.

Wallahu a’lam bish-shawab.

J. DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim.

Ibnu Taimiyyah, Taqiyuddin Ahmad. (2004). Majmu’ al-Fatawa. Madinah: Majma’ al-Malik Fahd.

Ibnu Taimiyyah, Taqiyuddin Ahmad. (2005). Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah. Riyadh: Dar Thayyibah.

Ibnu Taimiyyah, Taqiyuddin Ahmad. (2006). Al-Aqidah al-Wasithiyyah. Riyadh: Dar al-Muslim.

Az-Zahabi, Syamsuddin. (1990). Siyar A’lam an-Nubala’. Beirut: Muassasah ar-Risalah.

Ibnu Hajar al-Asqalani. (1986). Tahdzib at-Tahdzib. Beirut: Dar al-Fikr.

Ibnu Katsir, Isma’il bin Umar. (2000). Al-Bidayah wa an-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. (1998). Madarij as-Salikin. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi.

Adz-Dzahabi. (1985). Tadzkirah al-Huffazh. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

Al-Buthi, Muhammad Sa’id Ramadhan. (2010). As-Salafiyyah: Marhalah Zaman Mubarakah la Mazhab Islami. Damaskus: Dar al-Fikr.

Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan “Pendidikan Pondok Pesantren Nonformal Ma’hadul Mustaqbal” dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, kami dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.

🏷️ 30 TAGS ARTIKEL

Ibnu Taimiyyah Syaikhul Islam Biografi Ibnu Taimiyyah Pembaru Abad ke-7 H Mujaddid Islam
Kritik Ibnu Taimiyyah Majmu al-Fatawa Al-Aqidah al-Wasithiyyah Minhaj as-Sunnah Wahdat al-Wujud
Bantahan terhadap Sufi Falsafi Ibnu Arabi dan Ibnu Taimiyyah Kritik terhadap Tawasul Kritik terhadap Ziarah Kubur Berlebihan Fatwa Talak Tiga Sekaligus
Pemenjaraan Ibnu Taimiyyah Sejarah Islam Abad ke-7 H Ulama Hanbali Gerakan Salafi Pengaruh Ibnu Taimiyyah
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Ibnu Katsir Adz-Dzahabi Ibnu Hajar al-Asqalani Muhammad bin Abdul Wahhab
Perbedaan Ibnu Taimiyyah dan NU Ma’hadul Mustaqbal Sejarah Peradaban Islam Ulama Mazhab Hanbali Pemikiran Islam Klasik


  • Penulis: mahadulmustaqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less