HDS-04: Mengapa Kita Harus Berpegang pada Hadits? – Memahami Urgensi dan Keistimewaan Berpegang Teguh pada Sunnah Rasulullah ﷺ – Menyelami Alasan-Alasan Mengapa Hadits Menjadi Pedoman Hidup yang Tak Terpisahkan dari Al-Qur’an
- account_circle mahadulmustaqbal
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- visibility 108
- comment 0 komentar

HDS-04: Mengapa Kita Harus Berpegang pada Hadits? – Memahami Urgensi dan Keistimewaan Berpegang Teguh pada Sunnah Rasulullah ﷺ

🖼️ INFORMASI GAMBAR
Alt-text: Seorang kiai atau ustadz sedang memegang kitab hadits di depan para santri yang duduk melingkar dengan penuh perhatian di pondok pesantren
Caption: Berpegang teguh pada hadits merupakan konsekuensi logis dari keimanan seorang muslim kepada Allah dan Rasul-Nya.
Description: Foto ini menampilkan suasana pengajian kitab hadits di sebuah pondok pesantren. Seorang kiai atau ustadz duduk di tengah lingkaran para santri, memegang kitab hadits dan menjelaskan isinya. Para santri, yang terdiri dari berbagai usia, terlihat duduk dengan penuh khidmat, masing-masing memegang kitab yang sama dan menyimak penjelasan dengan seksama. Beberapa santri terlihat mencatat penjelasan di pinggir kitab. Di belakang mereka terlihat rak-rak kayu yang dipenuhi dengan kitab kuning. Suasana kelas yang sederhana namun sarat dengan ilmu ini menggambarkan bagaimana tradisi pengajaran hadits telah berlangsung berabad-abad di pesantren dan menjadi benteng kokoh dalam menjaga kemurnian ajaran Islam.
A. PENDAHULUAN
Seorang muslim yang baik pasti berusaha untuk menjalankan agamanya dengan sebaik-baiknya. Ia akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Namun, pertanyaan penting yang sering muncul adalah: bagaimana cara kita mengetahui perintah dan larangan Allah secara rinci? Al-Qur’an memang memberikan petunjuk global, tetapi untuk perinciannya, kita membutuhkan penjelasan dari Rasulullah ﷺ yang termaktub dalam hadits-hadits beliau.
Hadits adalah sumber kedua ajaran Islam setelah Al-Qur’an. Kedudukannya sangat vital dan tidak bisa diabaikan. Sayangnya, di zaman sekarang, muncul kelompok-kelompok yang meremehkan bahkan mengingkari kehujjahan hadits. Mereka hanya mau berpegang pada Al-Qur’an dan menolak sunnah. Ini adalah pemikiran yang sangat berbahaya dan telah lama terbantahkan oleh para ulama.
Artikel ini akan membahas secara mendalam mengapa kita harus berpegang pada hadits. Dengan memahami urgensi hadits, diharapkan kita semakin mencintai sunnah Rasulullah ﷺ dan berusaha untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
B. KARENA ALLAH MEMERINTAHKANNYA
Alasan pertama dan paling utama mengapa kita harus berpegang pada hadits adalah karena Allah SWT sendiri yang memerintahkannya. Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang memerintahkan kita untuk menaati Rasulullah ﷺ dan menjadikan apa yang beliau bawa sebagai sumber hukum.
1. Perintah Taat kepada Rasul
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul.” (QS. Muhammad: 33)
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan ketaatan kepada Rasul secara terpisah setelah ketaatan kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Rasul merupakan kewajiban tersendiri yang tidak bisa digabungkan begitu saja.
2. Menjadikan Rasul sebagai Hakim
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa: 65)
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa keimanan seseorang tidak akan sempurna jika ia tidak menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam setiap perselisihan. Ini mencakup semua ajaran yang dibawa Rasul, termasuk hadits-hadits beliau.
3. Larangan Menolak Putusan Rasul
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu hukum, seorang mukmin tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima dan melaksanakannya. Menolak hadits berarti menolak ketetapan Rasul, dan ini bertentangan dengan ayat ini.
C. KARENA RASULULLAH TIDAK BERBICARA DENGAN HAWA NAFSU
Allah SWT berfirman tentang Nabi-Nya:
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
Ayat ini menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diucapkan oleh Rasulullah ﷺ adalah berdasarkan wahyu dari Allah, bukan dari hawa nafsunya. Tentu saja, ayat ini secara khusus merujuk pada Al-Qur’an, tetapi para ulama menjelaskan bahwa sunnah Nabi juga termasuk dalam cakupan “yang diucapkan” yang bersumber dari wahyu, karena beliau tidak akan menetapkan suatu hukum kecuali berdasarkan petunjuk dari Allah.
Imam Syafi’i berkata: “Semua yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ adalah penjelasan dari Al-Qur’an. Beliau tidak berbicara kecuali berdasarkan wahyu. Allah berfirman: ‘Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar engkau menjelaskan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.’ (QS. An-Nahl: 44)”
D. KARENA HADITS ADALAH PENJELAS AL-QUR’AN
Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, tetapi banyak ayatnya yang bersifat global (mujmal), umum (‘amm), dan mutlak (muthlaq). Tanpa penjelasan dari hadits, kita tidak akan bisa mengamalkan Al-Qur’an dengan benar.
Contoh-Contoh Penjelasan Hadits terhadap Al-Qur’an:
1. Shalat
Al-Qur’an memerintahkan shalat, tetapi tidak menjelaskan tata caranya. Berapa rakaat shalat Subuh? Bagaimana gerakan ruku’ dan sujud? Apa saja bacaan dalam shalat? Semua ini dijelaskan oleh hadits. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)
2. Zakat
Al-Qur’an memerintahkan zakat, tetapi tidak menjelaskan nishab, kadar, dan jenis harta yang wajib dizakati. Haditslah yang menjelaskan semua itu. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada zakat pada hasil bumi yang kurang dari lima wasaq.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Haji
Al-Qur’an memerintahkan haji, tetapi tata cara manasiknya dijelaskan oleh hadits. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ambillah dariku tata cara manasik hajimu.” (HR. Muslim)
Tanpa hadits, ibadah-ibadah ini tidak akan bisa dilaksanakan dengan benar. Inilah mengapa kita harus berpegang pada hadits.
E. KARENA PARA SAHABAT DAN TABI’IN BERPEGANG PADA HADITS
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah generasi terbaik umat ini. Mereka menyaksikan langsung turunnya wahyu dan bergaul dengan Rasulullah ﷺ. Mereka adalah orang-orang yang paling paham tentang agama. Bagaimana sikap mereka terhadap hadits?
1. Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq
Ketika ada hadits yang disampaikan kepadanya, Abu Bakar selalu menerimanya dengan penuh kepercayaan. Dalam sebuah riwayat, beliau berkata: “Segala puji bagi Allah yang menjadikan di antara kami orang yang menghafal hadits-hadits Nabi.”
2. Sikap Umar bin Khattab
Umar sangat berhati-hati dalam menerima hadits, tetapi setelah memastikan keshahihannya, beliau mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Beliau bahkan pernah berkata: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berpegang teguh pada sunnah Rasulullah.”
3. Sikap Ali bin Abi Thalib
Ali berkata: “Jika suatu hadits sampai kepadamu dari Rasulullah ﷺ, maka berpegangteguhlah padanya. Itu adalah petunjuk yang lurus.”
Para sahabat tidak pernah mempertanyakan kehujjahan hadits. Mereka menjadikannya sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Ini adalah ijma’ (konsensus) para sahabat yang menjadi hujjah bagi umat Islam setelahnya.
F. KARENA HADITS MENJAGA KEMURNIAN ISLAM
Hadits memiliki peran penting dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dari berbagai penyimpangan. Beberapa fungsi hadits dalam menjaga kemurnian Islam antara lain:
1. Menjaga dari Penafsiran Sembarangan
Tanpa hadits, setiap orang bisa menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan keinginannya. Hadits menjadi pembatas yang menjaga tafsir Al-Qur’an tetap dalam koridor yang benar.
2. Menjaga dari Bid’ah
Dengan berpegang pada hadits, seseorang akan terhindar dari perbuatan bid’ah (mengada-adakan hal baru dalam agama). Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Menjaga dari Pemikiran Sesat
Hadits menjadi benteng yang melindungi umat dari berbagai pemikiran sesat yang datang dari luar maupun dari dalam. Dengan berpegang pada sunnah, seorang muslim akan selamat dari kesesatan.
G. KONSEKUENSI MENINGGALKAN HADITS
Meninggalkan hadits atau mengingkarinya memiliki konsekuensi yang sangat berbahaya, baik di dunia maupun di akhirat.
1. Kesesatan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh pada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik)
Hadits ini menunjukkan bahwa kesesatan akan terjadi jika seseorang meninggalkan salah satu dari dua pusaka tersebut. Berpegang hanya pada Al-Qur’an saja tidak cukup untuk menyelamatkan seseorang dari kesesatan.
2. Tertolaknya Amal
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan perintah kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)
Amalan yang tidak didasarkan pada petunjuk Rasulullah ﷺ (yang terdapat dalam hadits) akan tertolak, meskipun pelakunya berniat baik.
3. Mendapatkan Laknat
Allah berfirman tentang orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul:
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)
H. HADITS SEBAGAI SUMBER KETELADANAN
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Untuk meneladani Rasulullah ﷺ, kita harus mengetahui bagaimana beliau bersikap, bertindak, dan beribadah. Semua itu hanya bisa diketahui melalui hadits-hadits beliau. Tanpa hadits, kita tidak akan bisa meneladani akhlak beliau yang agung, cara beliau beribadah, cara beliau bermuamalah, dan seluruh aspek kehidupan beliau.
Hadits memberikan gambaran lengkap tentang pribadi Rasulullah ﷺ, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, dari cara beliau makan dan minum hingga cara beliau beribadah dan memimpin umat. Inilah teladan yang sempurna bagi kita.
I. KESIMPULAN
Setelah mempelajari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan beberapa alasan mengapa kita harus berpegang pada hadits:
- Karena Allah memerintahkannya – Al-Qur’an sendiri yang memerintahkan kita untuk menaati Rasulullah ﷺ dan menjadikan beliau sebagai hakim.
- Karena Rasulullah tidak berbicara dengan hawa nafsu – Segala sesuatu yang beliau sampaikan adalah berdasarkan wahyu dari Allah.
- Karena hadits adalah penjelas Al-Qur’an – Tanpa hadits, kita tidak akan bisa mengamalkan Al-Qur’an dengan benar.
- Karena para sahabat dan tabi’in berpegang pada hadits – Generasi terbaik umat ini menjadikan hadits sebagai sumber hukum setelah Al-Qur’an.
- Karena hadits menjaga kemurnian Islam – Hadits menjadi benteng yang melindungi umat dari penafsiran sesat dan bid’ah.
- Karena hadits adalah sumber keteladanan – Kita diperintahkan untuk meneladani Rasulullah, dan hanya melalui hadits kita bisa mengetahui keteladanan beliau.
Mengingkari hadits berarti menolak perintah Allah, menolak penjelas Al-Qur’an, dan kehilangan suri teladan. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan dan memudahkan kita untuk selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah (menjaga diri dari hal-hal yang tidak halal), dan kekayaan (hati).” (HR. Muslim)
J. DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Karim dan terjemahnya.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 2002.
Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, 2000.
Malik bin Anas. Al-Muwaththa’. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, 1999.
Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris. Ar-Risalah. Kairo: Dar al-Hadits, 2005.
Ibnu Taimiyyah, Ahmad. Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim. Riyadh: Dar al-‘Ashimah, 1998.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. I’lam al-Muwaqqi’in. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002.
Al-Qaradhawi, Yusuf. Kayfa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyyah. Kairo: Maktabah Wahbah, 2004.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Manzilah al-Sunnah fi al-Islam. Damaskus: Dar al-Qalam, 1999.
Al-Siba’i, Mushthafa. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islami. Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1985.
Al-Khatib, Muhammad ‘Ajjaj. Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu. Beirut: Dar al-Fikr, 1989.
Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Jika ada konten atau gambar yang salah, mohon dimaklumi dan terbuka untuk perbaikan. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.
- Penulis: mahadulmustaqbal

Saat ini belum ada komentar