QRN-04: Adab Membaca Al-Qur’an – Yang Harus dan Tidak Boleh – Memahami Tata Cara dan Etika Membaca Kitab Suci agar Mendapat Keberkahan – Panduan Lengkap Adab Lahir dan Batin dalam Membaca Al-Qur’an
- account_circle mahadulmustaqbal
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- visibility 42
- comment 0 komentar

QRN-04: Adab Membaca Al-Qur’an – Yang Harus dan Tidak Boleh – Memahami Tata Cara dan Etika Membaca Kitab Suci agar Mendapat Keberkahan

🖼️ INFORMASI GAMBAR
Alt-text: Seorang santri dengan pakaian rapi dan bersih duduk bersila dengan khusyuk membaca Al-Qur’an di atas sajadah, mushaf diletakkan di hadapannya dengan posisi yang benar
Caption: Membaca Al-Qur’an memiliki adab-adab khusus yang harus diperhatikan, baik adab lahiriah maupun adab batiniah, agar bacaan kita bernilai ibadah dan mendapat keberkahan.
Description: Foto ini menampilkan seorang santri yang sedang duduk bersila dengan khusyuk di atas sajadah, membaca Al-Qur’an. Ia mengenakan pakaian yang rapi dan bersih, serta menutup aurat dengan sempurna. Mushaf Al-Qur’an diletakkan di hadapannya dengan posisi yang benar dan tidak diletakkan di lantai secara langsung. Pencahayaan yang lembut dari jendela menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam. Ekspresi wajahnya mencerminkan ketenangan dan penghayatan saat membaca ayat-ayat suci. Foto ini menggambarkan penerapan adab membaca Al-Qur’an yang sempurna, baik adab lahiriah seperti kebersihan dan kerapian, maupun adab batiniah seperti kekhusyukan dan penghayatan.
A. PENDAHULUAN
Al-Qur’an adalah firman Allah yang mulia, kitab suci yang dijaga kemurniannya, dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Sebagai kitab yang agung, sudah sepatutnya kita memperlakukan Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya, terutama ketika membacanya. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas membaca biasa, melainkan ibadah yang memiliki adab dan tata cara tersendiri.
Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya telah memberikan teladan tentang bagaimana cara membaca Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya. Mereka membacanya dengan penuh penghayatan, dengan suara yang indah, dan dengan sikap yang menunjukkan pengagungan terhadap kalam Allah. Para ulama kemudian merumuskan adab-adab membaca Al-Qur’an berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, hadits, dan praktik para salafus shaleh.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya At-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur’an menyebutkan bahwa membaca Al-Qur’an memiliki adab lahir dan adab batin. Adab lahir berkaitan dengan fisik dan perilaku, sedangkan adab batin berkaitan dengan hati dan penghayatan. Keduanya harus diperhatikan agar bacaan Al-Qur’an kita bernilai ibadah dan membawa keberkahan.
Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang adab-adab membaca Al-Qur’an, baik yang harus dilakukan maupun yang harus dihindari, berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan pandangan para ulama.
B. ADAB SEBELUM MEMBACA AL-QUR’AN
1. Mensucikan Diri dari Hadats dan Najis
Para ulama sepakat bahwa membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun besar adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Meskipun membaca Al-Qur’an tanpa wudhu diperbolehkan, namun membaca dalam keadaan suci lebih utama karena Al-Qur’an adalah kalam Allah yang agung. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci.” (HR. Malik, Daruquthni, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)
Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh mushaf Al-Qur’an hanya boleh dilakukan oleh orang yang suci dari hadats. Adapun membaca tanpa menyentuh mushaf (misalnya hafalan) boleh dilakukan meskipun tidak berwudhu, namun lebih utama dalam keadaan suci.
2. Bersiwak dan Membersihkan Mulut
Kita dianjurkan membersihkan mulut dengan siwak atau sikat gigi sebelum membaca Al-Qur’an. Ini karena Al-Qur’an akan dibaca dengan mulut, sehingga sudah sepantasnya mulut dalam keadaan bersih dan wangi. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan Tuhan.” (HR. An-Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)
3. Memilih Tempat yang Bersih dan Suci
Sebaiknya membaca Al-Qur’an di tempat yang bersih dan suci, seperti masjid, mushalla, atau rumah yang bersih. Tempat yang paling utama adalah masjid, karena ia adalah rumah Allah. Namun yang terpenting adalah tempat tersebut bersih dan tidak ada hal-hal yang mengganggu kekhusyukan.
4. Menghadap Kiblat
Dianjurkan untuk menghadap kiblat saat membaca Al-Qur’an, karena ini adalah arah yang paling mulia. Ini bukan kewajiban, tetapi sunnah yang menunjukkan pengagungan terhadap kalam Allah.
5. Membaca Ta’awudz dan Basmalah
Allah SWT memerintahkan kita untuk membaca ta’awudz sebelum membaca Al-Qur’an:
“Apabila engkau (hendak) membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Para ulama sepakat bahwa membaca ta’awudz sebelum membaca Al-Qur’an adalah sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan). Adapun basmalah, dibaca ketika memulai bacaan dari awal surat, kecuali surat At-Taubah.
C. ADAB SAAT MEMBACA AL-QUR’AN
1. Membaca dengan Khusyuk dan Tadabbur
Ini adalah adab yang paling penting. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan huruf, tetapi merenungkan maknanya dan menghayati pesan-pesannya. Allah SWT berfirman:
“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Para salafush shaleh sangat memperhatikan tadabbur ini. Mereka membaca Al-Qur’an dengan pelan, berulang-ulang, dan merenungkan setiap ayat. Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak dipahami.”
2. Membaca dengan Tartil (Perlahan dan Jelas)
Allah SWT memerintahkan kita membaca Al-Qur’an dengan tartil:
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)
Tartil berarti membaca dengan perlahan, tidak terburu-buru, memperjelas huruf-hurufnya, dan memperhatikan hukum-hukum tajwid. Ali bin Abi Thalib ketika ditanya tentang makna tartil menjawab: “Tartil adalah memperindah bacaan, mengetahui tempat waqaf (berhenti), dan memperjelas huruf-hurufnya.”
3. Membaca dengan Suara yang Indah dan Menangis
Rasulullah ﷺ menganjurkan kita membaca Al-Qur’an dengan suara yang indah. Beliau bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an (dengan suara indah).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan “melagukan” bukan berarti membaca dengan irama lagu yang berlebihan, tetapi membaguskan suara saat membacanya. Selain itu, dianjurkan juga untuk menangis saat membaca Al-Qur’an, atau setidaknya berusaha menangis. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an dan menangislah. Jika tidak bisa menangis, maka berusahalah untuk menangis.” (HR. Ibnu Majah)
4. Membaca dengan Suara Pelan atau Keras
Membaca dengan suara keras dan pelan memiliki keutamaan masing-masing. Membaca dengan suara keras lebih utama jika tidak dikhawatirkan riya’ dan tidak mengganggu orang lain, karena dapat membangunkan hati dan lebih banyak pahalanya (karena lebih berat). Membaca dengan suara pelan lebih utama jika dikhawatirkan riya’ atau mengganggu orang lain. Yang terbaik adalah melakukannya sesuai kondisi.
5. Memperhatikan Hukum Tajwid
Membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar adalah kewajiban bagi setiap muslim. Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an tanpa tajwid adalah dosa, karena dapat merusak makna. Ibnu Jazari berkata:
“Mempelajari tajwid adalah kewajiban yang harus dilakukan. Barangsiapa yang tidak membaguskan bacaan Al-Qur’an (dengan tajwid), maka ia berdosa.”
6. Berhenti di Ayat-Ayat Tertentu untuk Berdoa atau Berlindung
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa ketika membaca ayat-ayat rahmat (tentang surga), kita dianjurkan berhenti dan memohon surga kepada Allah. Ketika membaca ayat-ayat azab, kita dianjurkan berhenti dan berlindung dari neraka. Ini adalah bentuk interaksi dengan Al-Qur’an yang sangat dianjurkan.
D. ADAB SETELAH MEMBACA AL-QUR’AN
1. Mengamalkan Isi Al-Qur’an
Tujuan utama membaca Al-Qur’an adalah untuk diamalkan. Membaca Al-Qur’an tanpa mengamalkannya akan menjadi hujjah yang memberatkan di akhirat. Para ulama mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an adalah ibadah, tetapi mengamalkannya adalah tujuannya.
2. Membaca Doa Khatam Al-Qur’an
Jika menyelesaikan bacaan Al-Qur’an hingga khatam, dianjurkan membaca doa khatam Al-Qur’an. Para salaf sangat mengagungkan waktu khatam Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai momen mustajab untuk berdoa.
Setelah selesai membaca, mushaf Al-Qur’an harus diangkat dengan hormat dan disimpan di tempat yang mulia, tidak diletakkan sembarangan atau di bawah barang-barang lain.
E. HAL-HAL YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN SAAT MEMBACA AL-QUR’AN
1. Membaca dengan Terburu-buru Tanpa Memahami
Membaca Al-Qur’an dengan tergesa-gesa, tanpa memperhatikan hukum tajwid, dan tanpa berusaha memahami maknanya adalah perbuatan yang tidak baik. Ini menghilangkan esensi dari membaca Al-Qur’an.
2. Berbicara saat Membaca Al-Qur’an
Para ulama membenci seseorang yang berbicara saat membaca Al-Qur’an, karena ini mengurangi pengagungan terhadap kalam Allah. Jika terpaksa harus berbicara karena ada keperluan, sebaiknya menghentikan bacaan terlebih dahulu, lalu melanjutkannya kembali setelah selesai berbicara.
3. Tertawa dan Bergurau saat Membaca
Tertawa dan bergurau saat membaca Al-Qur’an menunjukkan kurangnya pengagungan terhadap kitab suci. Ini adalah perbuatan yang sangat tidak pantas dan seharusnya dihindari.
4. Membaca di Tempat yang Tidak Pantas
Tidak boleh membaca Al-Qur’an di tempat-tempat yang tidak pantas seperti kamar mandi, WC, tempat sampah, atau tempat-tempat kotor lainnya. Ini bentuk penghinaan terhadap kalam Allah.
5. Membaca dengan Suara Keras di Tempat yang Mengganggu
Membaca Al-Qur’an dengan suara keras boleh, bahkan dianjurkan, tetapi jika mengganggu orang lain yang sedang shalat, tidur, atau beraktivitas, maka sebaiknya tidak dilakukan.
6. Membaca Sambil Melakukan Hal yang Tidak Pantas
Membaca Al-Qur’an sambil makan, sambil bercanda, atau sambil melakukan hal-hal yang mengurangi kekhusyukan adalah perbuatan yang tidak baik. Hendaknya ketika membaca Al-Qur’an, kita fokus dan memberikan perhatian penuh.
F. ADAB BAGI ORANG YANG MENDENGARKAN AL-QUR’AN
Bagi orang yang mendengarkan Al-Qur’an dibacakan, juga memiliki adab-adab yang harus diperhatikan:
1. Diam dan Menyimak dengan Seksama
Allah SWT berfirman:
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204)
Ayat ini memerintahkan kita untuk diam dan menyimak ketika Al-Qur’an dibacakan. Ini menunjukkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an juga merupakan ibadah.
2. Berusaha Memahami Maknanya
Ketika mendengarkan Al-Qur’an, hendaknya kita berusaha memahami makna ayat-ayat yang dibacakan, bukan sekadar mendengar suaranya.
3. Berinteraksi dengan Ayat-Ayat yang Dibacakan
Dianjurkan untuk berinteraksi dengan ayat-ayat yang dibacakan, misalnya dengan mengucapkan “Subhanallah” ketika mendengar ayat tasbih, berdoa ketika mendengar ayat doa, dan sebagainya.
G. ADAB TERHADAP MUSHAF AL-QUR’AN
Selain adab membaca, kita juga harus memperhatikan adab terhadap mushaf Al-Qur’an itu sendiri:
1. Menyentuh Mushaf dalam Keadaan Suci
Sebagaimana hadits yang telah disebutkan, menyentuh mushaf Al-Qur’an hanya boleh dilakukan oleh orang yang suci dari hadats.
2. Meletakkan Mushaf di Tempat yang Tinggi dan Mulia
Mushaf Al-Qur’an tidak boleh diletakkan di lantai, di bawah barang-barang lain, atau di tempat yang tidak pantas. Sebaiknya diletakkan di rak buku, di atas meja, atau di tempat yang tinggi dan terhormat.
3. Tidak Meletakkan Barang di Atas Mushaf
Kita tidak boleh meletakkan buku lain, pakaian, atau barang apa pun di atas mushaf Al-Qur’an. Ini bentuk penghormatan terhadap kitab suci.
4. Tidak Menulis atau Mencoret-coret Mushaf
Menulis atau mencoret-coret mushaf Al-Qur’an adalah perbuatan yang tidak dibenarkan, karena dapat merusak kehormatan dan kemurniannya.
5. Merawat Mushaf dengan Baik
Jika mushaf sudah rusak atau tidak layak pakai, kita tidak boleh membuangnya sembarangan. Hendaknya dikubur atau disimpan di tempat yang aman.
H. KESIMPULAN
Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia yang memiliki adab-adab khusus. Adab-adab ini terbagi menjadi tiga waktu: sebelum membaca, saat membaca, dan setelah membaca. Selain itu, kita juga harus memperhatikan adab terhadap mushaf Al-Qur’an dan adab bagi yang mendengarkan.
Berikut ringkasan adab-adab membaca Al-Qur’an:
Adab Sebelum Membaca:
- Bersuci dari hadats dan najis
- Bersiwak dan membersihkan mulut
- Memilih tempat yang bersih dan suci
- Menghadap kiblat
- Membaca ta’awudz dan basmalah
Adab Saat Membaca:
- Khusyuk dan tadabbur
- Tartil (perlahan dan jelas)
- Membaca dengan suara indah
- Memperhatikan hukum tajwid
- Berinteraksi dengan ayat-ayat tertentu
Adab Setelah Membaca:
- Mengamalkan isi Al-Qur’an
- Berdoa setelah khatam Al-Qur’an
- Menjaga mushaf dengan baik
Hal-hal yang Dihindari:
- Membaca dengan terburu-buru
- Berbicara saat membaca
- Tertawa dan bergurau
- Membaca di tempat kotor
- Menyentuh mushaf tanpa wudhu
- Meletakkan mushaf di tempat tidak pantas
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa membaca Al-Qur’an dengan adab yang baik, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Amin.
“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an yang agung sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, penghilang kesedihan dan kegelisahan kami.”
I. DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Karim dan terjemahnya.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 2002.
Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, 2000.
An-Nawawi, Imam. At-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur’an. Beirut: Dar Ibn Hazm, 1994.
Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an. Kairo: Dar al-Hadits, 2002.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Kairo: Dar al-Hadits, 2003.
Al-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2008.
Al-Zarqani, Muhammad Abdul ‘Azhim. Manahil al-‘Irfan fi Ulum Al-Qur’an. Kairo: Dar al-Hadits, 2001.
Al-Qathan, Manna’. Mabahits fi Ulum Al-Qur’an. Kairo: Maktabah Wahbah, 2000.
Ibnu Rajab Al-Hanbali. Fadhl ‘Ilm al-Salaf ‘ala al-Khalaf. Riyadh: Dar al-‘Ashimah, 2000.
Al-Ajurri, Muhammad bin Husain. Akhlaq Hamalat Al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati, 2012.
Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Jika ada konten atau gambar yang salah, mohon dimaklumi dan terbuka untuk perbaikan. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.
- Penulis: mahadulmustaqbal

Saat ini belum ada komentar