QRN-14: Sukun – Tanda Berhenti Huruf – Memahami Tanda Baca (ْ) yang Melambangkan Huruf Mati atau Konsonan dalam Al-Qur’an
- account_circle mahadulmustaqbal
- calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
- visibility 102
- comment 0 komentar

QRN-14: Sukun – Tanda Berhenti Huruf

🖼️ INFORMASI GAMBAR
Alt-text: Ilustrasi sukun dalam Al-Qur’an: tanda baca berbentuk lingkaran kecil atau kepala huruf ha (هـ) tanpa titik (ْ) yang diletakkan di atas huruf hijaiyah untuk menunjukkan bahwa huruf tersebut dibaca mati atau sebagai konsonan tanpa vokal.
Caption: Sukun (ْ) adalah tanda baca yang melambangkan huruf mati. Huruf yang berharakat sukun dibaca dengan cara memberhentikan bunyi huruf tersebut tanpa diikuti vokal.
Description: Infografis ini menampilkan tanda sukun dalam pembelajaran Al-Qur’an. Bagian atas menunjukkan bentuk visual sukun (ْ) yang merupakan lingkaran kecil atau bentuk seperti kepala huruf ha (هـ) tanpa titik. Bagian tengah menunjukkan contoh penerapan pada huruf ba (ب) sehingga menjadi بْ (dibaca “b” mati, seperti bunyi huruf “b” tanpa vokal). Bagian bawah dilengkapi dengan contoh kata dalam Al-Qur’an yang mengandung huruf bersukun seperti اَلْحَمْدُ (alhamdu), يَعْمَلُونَ (ya’maluuna), dan lainnya beserta cara membacanya.
A. PENDAHULUAN: KONSEP HURUF HIDUP DAN HURUF MATI
Setelah mempelajari harakat (fathah, kasrah, dhammah) yang berfungsi sebagai “nyawa” bagi huruf hijaiyah dengan memberikan bunyi vokal, serta tanwin dan tasydid, kini kita sampai pada pembahasan tentang kebalikan dari harakat hidup, yaitu sukun . Sukun adalah tanda baca yang menunjukkan bahwa suatu huruf tidak memiliki vokal, atau dengan kata lain huruf tersebut dalam keadaan mati .
Sukun secara bahasa berarti diam atau tenang. Dalam konteks ilmu tajwid dan tata bahasa Arab, sukun adalah tanda baca yang berbentuk lingkaran kecil (ْ) yang diletakkan di atas huruf hijaiyah. Tanda ini menunjukkan bahwa huruf tersebut dibaca mati, atau sebagai konsonan tanpa diikuti oleh bunyi vokal .
Keberadaan huruf bersukun sangat penting dalam sistem tulisan Arab karena membentuk struktur kata yang kompleks. Sukun juga menjadi dasar dari berbagai hukum tajwid, terutama yang berkaitan dengan pertemuan huruf mati dengan huruf hidup. Memahami sukun dengan benar akan membantu kita membaca Al-Qur’an dengan lebih lancar dan tepat.
Allah SWT berfiman dalam Al-Qur’an surat Al-Muzzammil ayat 4: وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan-lahan dan benar).” Tartil mencakup ketepatan dalam membaca huruf-huruf yang hidup dan yang mati sesuai dengan makhraj dan sifatnya.
B. BAB I: PENGERTIAN SUKUN SECARA UMUM
1. Definisi Sukun
Sukun (سُكُونٌ) secara bahasa berarti diam, tenang, atau tidak bergerak. Dalam istilah ilmu tajwid dan tata bahasa Arab, sukun adalah tanda baca yang berbentuk lingkaran kecil (ْ) yang diletakkan di atas huruf hijaiyah. Tanda ini menunjukkan bahwa huruf tersebut tidak memiliki harakat atau vokal, sehingga dibaca mati atau sebagai konsonan .
Huruf yang berharakat sukun disebut juga huruf mati atau huruf jazm (حرف جزم). Ketika membaca huruf bersukun, kita memberhentikan bunyi huruf tersebut tanpa diikuti oleh bunyi vokal apapun (a, i, atau u). Contohnya, huruf ba (ب) jika diberi sukun (بْ) dibaca dengan cara menutup bibir seperti akan mengucapkan “b” tetapi tanpa mengeluarkan vokal “e” seperti dalam bahasa Indonesia.
2. Urgensi Memahami Sukun
Memahami sukun sangat penting dalam membaca Al-Qur’an karena beberapa alasan:
- Dasar Hukum Tajwid: Sukun, terutama nun sukun dan mim sukun, menjadi dasar dari berbagai hukum tajwid seperti idzhar, idgham, iqlab, dan ikhfa’.
- Pembeda Makna: Keberadaan sukun dapat mengubah arti kata. Misalnya, قَلْبٌ (qalbun) dengan lam sukun berarti “hati”, sedangkan قَلَبٌ (qalabun) dengan lam berharakat berarti “telah membalik”.
- Kelancaran Membaca: Memahami kapan suatu huruf dibaca mati atau hidup membantu kelancaran membaca Al-Qur’an.
- Menghindari Kesalahan: Kesalahan dalam membaca sukun dapat menyebabkan perubahan arti dan mengurangi nilai ibadah.
📜 Sejarah Perkembangan Sukun
Pada masa awal Islam, mushaf Al-Qur’an ditulis tanpa tanda baca sama sekali, termasuk tanpa sukun. Orang Arab pada masa itu sangat fasih berbahasa Arab sehingga mereka secara alami tahu mana huruf yang harus dibaca hidup dan mana yang mati .
Ketika Islam menyebar ke berbagai wilayah dan banyak non-Arab memeluk Islam, mulailah terjadi kesalahan dalam membaca Al-Qur’an. Abul Aswad Ad-Du’ali, atas perintah Khalifah Ali bin Abi Thalib, mulai meletakkan dasar-dasar pemberian tanda baca pada mushaf Al-Qur’an .
Sistem pemberian tanda baca ini kemudian disempurnakan oleh Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Al-Khalil lah yang memperkenalkan bentuk sukun seperti yang kita kenal sekarang, yaitu lingkaran kecil (ْ) yang diletakkan di atas huruf. Bentuk ini dipilih untuk memudahkan penulisan dan membedakannya dengan harakat lainnya.
C. BAB II: CARA MEMBACA SUKUN
1. Prinsip Dasar Membaca Sukun
Bunyi: mati (konsonan tanpa vokal)
Huruf yang berharakat sukun dibaca dengan cara memberhentikan bunyi huruf tersebut tanpa diikuti oleh vokal apapun. Tidak seperti harakat fathah (a), kasrah (i), atau dhammah (u) yang memperpanjang bunyi dengan vokal, sukun justru menutup bunyi huruf tersebut.
Analogi sederhana: Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal huruf konsonan seperti “b”, “c”, “d”, dan seterusnya. Ketika kita mengucapkan huruf “b” dalam kata “bab”, huruf “b” di akhir diucapkan dengan menutup bibir tanpa diikuti vokal “e”. Inilah yang dimaksud dengan bunyi mati atau sukun.
2. Perbedaan Membaca Huruf Hidup dan Huruf Mati
Untuk memahami perbedaan cara membaca huruf berharakat (hidup) dan huruf bersukun (mati), perhatikan tabel berikut:
| Huruf | Dengan Fathah (Hidup) | Dengan Kasrah (Hidup) | Dengan Dhammah (Hidup) | Dengan Sukun (Mati) |
|---|---|---|---|---|
| Ba (ب) | بَ (ba) | بِ (bi) | بُ (bu) | بْ (b mati) |
| Ta (ت) | تَ (ta) | تِ (ti) | تُ (tu) | تْ (t mati) |
| Jim (ج) | جَ (ja) | جِ (ji) | جُ (ju) | جْ (j mati) |
| Dal (د) | دَ (da) | دِ (di) | دُ (du) | دْ (d mati) |
| Ra (ر) | رَ (ra) | رِ (ri) | رُ (ru) | رْ (r mati) |
3. Contoh Pengucapan Sukun dalam Kata
- اَلْحَمْدُ (alhamdu) – Huruf lam (ل) bersukun, dibaca “l” mati, kemudian disambung dengan ha (ح) berharakat fathah.
- يَعْمَلُونَ (ya’maluuna) – Huruf ‘ain (ع) bersukun, dibaca dengan menekan tenggorokan tanpa vokal.
- مِنْ (min) – Nun sukun, dibaca “n” mati, dengan dengung karena termasuk ghunnah.
- عَنْ (‘an) – Nun sukun, dibaca “n” mati.
- فَلْيَنْظُرْ (falyanzhur) – Terdapat beberapa huruf sukun: lam (ل) sukun, nun (ن) sukun, dan ra (ر) sukun di akhir.
D. BAB III: JENIS-JENIS SUKUN
Dalam kajian ilmu tajwid dan tata bahasa Arab, sukun dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan posisi dan fungsinya:
1. Sukun Asli
Sukun asli adalah sukun yang memang sudah ada dalam struktur asli kata tersebut. Sukun ini merupakan bagian dari akar kata dan tidak disebabkan oleh proses gramatikal atau waqaf (berhenti). Sukun asli bisa berada di tengah kata maupun di akhir kata.
Contoh sukun asli di tengah kata:
- اَلْحَمْدُ (alhamdu) – lam sukun
- يَعْمَلُونَ (ya’maluuna) – ‘ain sukun
- مَسْجِدٌ (masjidun) – sin sukun
Contoh sukun asli di akhir kata (dalam kondisi washal/bersambung):
- مِنْ (min) – nun sukun
- عَنْ (‘an) – nun sukun
- لَمْ (lam) – mim sukun
2. Sukun ‘Aridh (Sukun karena Waqaf)
Sukun ‘aridh adalah sukun yang terjadi karena waqaf (berhenti) di akhir kata. Pada kondisi aslinya, kata tersebut tidak bersukun, tetapi ketika dibaca waqaf, huruf akhirnya dimatikan. Sukun jenis ini sangat sering ditemui dalam membaca Al-Qur’an karena kita sering berhenti di akhir ayat.
📝 Contoh Sukun ‘Aridh
Kata رَحِيمٌ (rahiimun) dalam kondisi washal (bersambung) dibaca dengan tanwin dhammah. Namun ketika waqaf (berhenti), tanwin dihilangkan dan huruf mim (م) dibaca sukun menjadi رَحِيمْ (rahiim).
Contoh lain: يَعْلَمُونَ (ya’lamuuna) ketika washal dibaca dengan nun berharakat, tetapi ketika waqaf dibaca يَعْلَمُونْ (ya’lamuun) dengan nun sukun.
3. Nun Sukun (نْ) dan Mim Sukun (مْ)
Dua jenis sukun ini memiliki tempat khusus dalam ilmu tajwid karena menjadi dasar dari berbagai hukum bacaan. Nun sukun dan tanwin (yang juga merupakan nun mati) memiliki empat hukum: idzhar, idgham, iqlab, dan ikhfa’. Sedangkan mim sukun memiliki tiga hukum: idgham mimi, ikhfa’ syafawi, dan idzhar syafawi.
Contoh nun sukun: مِنْ (min), عَنْ (‘an), أَنْ (an).
Contoh mim sukun: لَمْ (lam), كَمْ (kam), هُمْ (hum).
E. BAB IV: PERBEDAAN SUKUN DENGAN TANDA BACA LAIN
Untuk memahami sukun dengan lebih baik, penting untuk membedakannya dengan tanda baca lainnya:
| Tanda Baca | Bentuk | Nama | Fungsi | Contoh |
|---|---|---|---|---|
| Sukun | ْ | Sukun / Jazm | Menandakan huruf mati (tanpa vokal) | بْ |
| Fathah | ﹷ | Fathah | Bunyi vokal /a/ | بَ |
| Kasrah | ﹻ | Kasrah | Bunyi vokal /i/ | بِ |
| Dhammah | ﹹ | Dhammah | Bunyi vokal /u/ | بُ |
| Tasydid | ّ | Tasydid / Syaddah | Huruf ganda (ditekan) | بَّ |
| Tanwin Fathah | ً | Fathatain | Bunyi /an/ di akhir kata | بًا |
💡 Catatan Penting: Sukun vs Tasydid
Seringkali pemula bingung membedakan sukun dan tasydid. Sukun (ْ) berbentuk lingkaran kecil di atas huruf dan menunjukkan huruf mati. Tasydid (ّ) berbentuk seperti kepala huruf sin (ش) di atas huruf dan menunjukkan huruf ganda (yang secara tersirat terdiri dari satu huruf sukun dan satu huruf hidup). Perhatikan baik-baik bentuknya karena sangat berbeda.
F. BAB V: HUKUM TAJWID YANG BERKAITAN DENGAN SUKUN
Sukun, terutama nun sukun, tanwin, dan mim sukun, menjadi dasar dari berbagai hukum tajwid. Berikut adalah hukum-hukum tajwid yang berkaitan dengan sukun:
1. Hukum Nun Sukun dan Tanwin
Ketika nun sukun (نْ) atau tanwin (ــًـ, ــٍـ, ــٌـ) bertemu dengan huruf hijaiyah, terdapat empat hukum bacaan:
- Idzhar Halqi (إظهار حلقي): Jika nun sukun/tanwin bertemu dengan salah satu huruf halqi (ء هـ ع ح غ خ), dibaca jelas tanpa dengung. Contoh: مِنْ خَوْفٍ (min khouf).
- Idgham (إدغام): Jika bertemu dengan huruf idgham (ي ر م ل و ن), dibaca dengan memasukkan bunyi nun ke huruf berikutnya. Terbagi menjadi idgham bighunnah (ي م ن و) dan idgham bilaghunnah (ر ل).
- Iqlab (إقلاب): Jika bertemu dengan huruf ba (ب), bunyi nun berubah menjadi mim samar disertai dengung. Contoh: مِنْ بَعْدِ (mim ba’di).
- Ikhfa’ (إخفاء): Jika bertemu dengan 15 huruf ikhfa’ (ت ث ج د ذ ز س ش ص ض ط ظ ف ق ك), dibaca samar-samar antara idzhar dan idgham disertai dengung.
2. Hukum Mim Sukun
Ketika mim sukun (مْ) bertemu dengan huruf hijaiyah, terdapat tiga hukum bacaan:
- Idgham Mimi (إدغام ميمي) / Idgham Mutamatsilain: Jika mim sukun bertemu dengan mim berharakat, dibaca dengan memasukkan mim sukun ke mim berikutnya disertai dengung. Contoh: لَهُمْ مَا (lahumma).
- Ikhfa’ Syafawi (إخفاء شفوي): Jika mim sukun bertemu dengan ba (ب), dibaca samar-samar di bibir disertai dengung. Contoh: هُمْ بَاسِطُو (hum baasithu).
- Idzhar Syafawi (إظهار شفوي): Jika mim sukun bertemu dengan huruf selain mim dan ba, dibaca jelas tanpa dengung. Contoh: عَلَيْهِمْ غَيْرِ (‘alaihim ghairi).
3. Qalqalah
Qalqalah adalah hukum bacaan yang terjadi ketika salah satu huruf qalqalah (ق ط ب ج د) berharakat sukun. Qalqalah berarti memantul atau memantulkan suara. Cara membacanya adalah dengan memantulkan bunyi huruf tersebut.
Qalqalah terbagi menjadi dua:
- Qalqalah Sughra (kecil): Jika huruf qalqalah bersukun di tengah kata. Pantulannya tidak terlalu kuat. Contoh: يَجْعَلُ (yaj’alu) – jim sukun dibaca memantul.
- Qalqalah Kubra (besar): Jika huruf qalqalah bersukun di akhir kata karena waqaf. Pantulannya lebih kuat. Contoh: اَلْفَلَقْ (al-falaq) – qaf sukun di akhir karena waqaf dibaca memantul kuat.
G. BAB VI: CONTOH SUKUN DALAM SURAT-SURAT PENDEK
Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah contoh-contoh sukun yang terdapat dalam surat-surat pendek Juz ‘Amma:
1. Surat Al-Fatihah
Contoh huruf bersukun dalam Al-Fatihah:
- الْحَمْدُ (alhamdu) – lam sukun (لْ) pada “al” dan mim sukun (مْ) pada “hamdu”
- الرَّحْمَٰنِ (ar-rahman) – mim sukun (مْ) pada “rahman”
- نَعْبُدُ (na’budu) – ‘ain sukun (عْ)
- نَسْتَعِينُ (nasta’iinu) – sin sukun (سْ) dan ‘ain sukun (عْ)
- أَنْعَمْتَ (an’amta) – nun sukun (نْ) dan mim sukun (مْ)
- عَلَيْهِمْ (‘alaihim) – mim sukun (مْ) di akhir kata
- غَيْرِ (ghairi) – ya sukun (يْ) sebenarnya? Ghairi: غ ي رِ – ya di sini bukan sukun tapi huruf mad? Periksa: غَيْرِ terdiri dari ghain (غ) fathah, ya (ي) sukun, ra (ر) kasrah. Jadi ya sukun adalah huruf mad karena didahului fathah.
2. Surat Al-Ikhlas
- قُلْ (qul) – lam sukun (لْ) karena waqaf? Dalam washal, qul huwa, lam sukun tetap dibaca sukun.
- لَمْ (lam) – mim sukun (مْ)
- يَلِدْ (yalid) – dal sukun (دْ) karena waqaf? Dalam washal, yalid wa, dal tetap sukun? Periksa: يَلِدْ – fi’il mudhari’ majzum, dal sukun.
- يُولَدْ (yuulad) – dal sukun (دْ)
- يَكُن (yakun) – nun sukun (نْ) – perhatikan bahwa dalam Al-Qur’an tertulis يَكُنْ dengan nun sukun, tetapi ketika washal bertemu lam (لَّهُ) terjadi idgham sehingga dibaca “yakul lahu”.
3. Surat Al-Falaq
- الْفَلَقْ (al-falaq) – qaf sukun (قْ) karena waqaf
- مِنْ (min) – nun sukun (نْ) di awal ayat
- شَرِّ (syarri) – ra bertasydid, bukan sukun
- خَلَقْ (khalaq) – qaf sukun (قْ) karena waqaf
- وَقَبْ (waqab) – ba sukun (بْ) karena waqaf
- الْعُقَدْ (al-‘uqad) – dal sukun (دْ) karena waqaf
- حَسَدْ (hasad) – dal sukun (دْ) karena waqaf
H. BAB VII: KESALAHAN UMUM DALAM MEMBACA SUKUN
1. Membaca Sukun dengan Bunyi Vokal
Kesalahan paling umum adalah membaca huruf bersukun seolah-olah berharakat. Misalnya, membaca مِنْ (min) menjadi “mini” atau membaca لَمْ (lam) menjadi “lami”. Padahal sukun harus dibaca mati tanpa vokal.
2. Tidak Membedakan Sukun Asli dan Sukun ‘Aridh
Kesalahan ini terjadi ketika membaca waqaf. Banyak yang tidak mematikan huruf akhir ketika berhenti, atau sebaliknya, mematikan huruf yang seharusnya hidup dalam kondisi washal.
3. Salah Menerapkan Hukum Nun Sukun dan Mim Sukun
Kesalahan ini sangat sering terjadi, terutama dalam menerapkan idgham, iqlab, dan ikhfa’. Misalnya, membaca nun sukun yang bertemu ba (ب) dengan jelas (idzhar) padahal harus diiqlab (berubah menjadi mim samar).
4. Tidak Membaca Qalqalah dengan Benar
Banyak yang membaca huruf qalqalah sukun tanpa memantulkannya, sehingga bacaan menjadi datar. Padahal qalqalah harus dibaca dengan pantulan yang jelas, terutama qalqalah kubra di akhir ayat.
5. Membaca Sukun Terlalu Panjang atau Pendek
Sukun dibaca dengan memberhentikan bunyi huruf, bukan memanjangkannya. Namun dalam praktiknya, terutama pada nun sukun dan mim sukun yang memiliki ghunnah, sering terjadi kesalahan panjang pendek. Ghunnah pada nun sukun dan mim sukun harus dibaca sekitar 2 harakat, tidak lebih dan tidak kurang.
I. TABEL RINGKASAN SUKUN
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Sukun (سكون) atau Jazm (جزم) |
| Bentuk | Lingkaran kecil (ْ) di atas huruf |
| Fungsi | Menandakan huruf mati (tanpa vokal) |
| Cara Membaca | Huruf dibaca mati, tanpa diikuti vokal a, i, atau u |
| Jenis | Sukun Asli, Sukun ‘Aridh (karena waqaf) |
| Hukum Terkait | Nun sukun & tanwin (idzhar, idgham, iqlab, ikhfa’), mim sukun (idgham mimi, ikhfa’ syafawi, idzhar syafawi), qalqalah |
| Contoh | مِنْ (min), لَمْ (lam), اَلْحَمْدُ (alhamdu), يَعْمَلُونَ (ya’maluuna) |
J. BAB VIII: TIPS BELAJAR SUKUN UNTUK PEMULA
1. Pahami Konsep Huruf Hidup dan Mati
Sebelum mempelajari sukun, pastikan Anda memahami perbedaan antara huruf hidup (berharakat) dan huruf mati. Praktikkan membaca huruf-huruf hijaiyah dengan harakat fathah, kasrah, dhammah, lalu bandingkan dengan huruf yang sama ketika diberi sukun.
2. Kenali Bentuk Sukun
Hafalkan bentuk sukun yang berupa lingkaran kecil di atas huruf. Latihlah dengan menulis dan membaca sukun pada huruf-huruf hijaiyah secara berulang-ulang. Bedakan dengan tasydid yang bentuknya mirip kepala huruf sin.
3. Pelajari Hukum Nun Sukun dan Mim Sukun Secara Bertahap
Hukum nun sukun dan mim sukun cukup banyak. Pelajari satu per satu secara bertahap, misalnya mulai dari idzhar halqi, kemudian idgham, iqlab, dan terakhir ikhfa’. Praktikkan dengan contoh-contoh dari Al-Qur’an.
4. Latih Qalqalah dengan Benar
Qalqalah adalah ciri khas bacaan Arab yang tidak ada dalam bahasa Indonesia. Latih memantulkan huruf-huruf qalqalah (ق ط ب ج د) ketika bersukun. Mulai dari qalqalah sughra di tengah kata, kemudian qalqalah kubra di akhir kata karena waqaf.
5. Perhatikan Perbedaan Washal dan Waqaf
Latih membaca dengan memperhatikan kapan harus washal (bersambung) dan kapan harus waqaf (berhenti). Pahami bahwa sukun ‘aridh hanya terjadi ketika waqaf, bukan ketika washal.
🎯 Target Penguasaan Sukun Dasar
- Minggu 1: Hafal bentuk sukun dan bisa membedakan huruf hidup dan mati. Bisa membaca kata-kata sederhana yang mengandung sukun.
- Minggu 2: Memahami hukum nun sukun dan tanwin. Bisa mengidentifikasi dan membaca contoh idzhar, idgham, iqlab, dan ikhfa’.
- Minggu 3: Memahami hukum mim sukun (idgham mimi, ikhfa’ syafawi, idzhar syafawi) dan qalqalah.
- Minggu 4: Mampu membaca ayat-ayat pendek dengan menerapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan sukun secara benar.
K. KESIMPULAN
Sukun adalah tanda baca yang berbentuk lingkaran kecil (ْ) yang diletakkan di atas huruf hijaiyah untuk menunjukkan bahwa huruf tersebut dibaca mati atau sebagai konsonan tanpa vokal. Sukun merupakan kebalikan dari harakat (fathah, kasrah, dhammah) yang memberikan bunyi vokal pada huruf .
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan beberapa poin penting:
- Sukun (ْ) menandakan huruf mati yang dibaca tanpa diikuti vokal a, i, atau u .
- Terdapat dua jenis sukun: sukun asli (bagian dari struktur kata) dan sukun ‘aridh (terjadi karena waqaf/berhenti) .
- Nun sukun (نْ) dan tanwin memiliki empat hukum: idzhar halqi, idgham, iqlab, dan ikhfa’ .
- Mim sukun (مْ) memiliki tiga hukum: idgham mimi, ikhfa’ syafawi, dan idzhar syafawi .
- Qalqalah adalah hukum membaca huruf qalqalah (ق ط ب ج د) yang bersukun dengan bunyi memantul .
- Kesalahan dalam membaca sukun dapat mengubah arti kata dan menyebabkan bacaan tidak sesuai dengan kaidah tajwid.
Sukun merupakan salah satu elemen fundamental dalam membaca Al-Qur’an. Penguasaan sukun dengan baik, termasuk hukum-hukum yang berkaitan dengannya, akan membantu kita membaca Al-Qur’an dengan tartil dan benar, sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Sebagai umat Islam, kita wajib mempelajari dan mengamalkan bacaan Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya, termasuk dalam hal membaca huruf-huruf yang bersukun, sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kita kepada kitab suci ini.
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)
L. DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’anul Karim.
Ahmad Sarwat, M.A. Ilmu Dhabt. Jakarta: Rumah Fiqih Publishing.
Marzuki, M.Ag & Sun Choirol Ummah, S.Ag, M.SI. Dasar-dasar Ilmu Tajwid.
Raisya Maula Ibnu Rusyd. Panduan Praktis & Lengkap Tahsin, Tajwid, Tahfiz Untuk Pemula.
CNN Indonesia. (2024). 30 Huruf Hijaiyah, Tanda Baca, dan Cara Menulisnya. (cnnindonesia.com)
Detikcom. (2021). 15 Hukum Bacaan Tajwid Al Quran dan Contohnya dalam Surat Pendek. (detik.com)
Detikcom. (2023). Idgham Mimi: Pengertian, Cara Membaca, dan Contohnya. (detik.com)
Harian Haluan. (2022). Daftar Huruf Hijaiyah dan Tanda Baca yang Benar Sebagai Dasar Membaca Al Quran. (harianhaluan.com)
iNews.id. (2021). Hukum Bacaan Tasydid, Pengertian & Contohnya. (inews.id)
Okezone Muslim. (2021). Wajib Tahu, 11 Hukum Bacaan Tajwid dalam Alquran Supaya Tadarus Lebih Tepat. (okezone.com)
Okezone Muslim. (2022). 16 Hukum Tajwid dan Contohnya, Yuk Pahami agar Tepat saat Baca Alquran. (okezone.com)
Wikipedia. (2024). Harakat: Perbedaan antara revisi. (wikipedia.org)
Pondok Pesantren Al Jihadul Chakim. (2025). Mengenal Huruf Hijaiyah Lengkap, Sambung dan Berharakat. (aljihadulchakim.sch.id)
Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.
- Penulis: mahadulmustaqbal

Saat ini belum ada komentar