Breaking News
light_mode
Istilah Penting
Beranda » QURAN » QRN-96: Perbedaan Qira’at Sab’ah – Sejarah, Sanad, dan Pengaruhnya dalam Memahami Al-Qur’an

QRN-96: Perbedaan Qira’at Sab’ah – Sejarah, Sanad, dan Pengaruhnya dalam Memahami Al-Qur’an

  • account_circle mahadulmustaqbal
  • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
  • visibility 12
  • comment 0 komentar






QRN-96: Perbedaan Qira’at Sab’ah – Sejarah dan Pengaruh – Ma’hadul Mustaqbal


QRN-96: Perbedaan Qira’at Sab’ah – Sejarah, Sanad, dan Pengaruhnya dalam Memahami Al-Qur’an


๐Ÿ–ผ๏ธ INFORMASI GAMBAR

Alt-text: Ilustrasi grafis tentang Qira’at Sab’ah (tujuh qira’at), menampilkan tujuh imam qurra’ dengan latar mushaf Al-Qur’an, sanad keilmuan, dan peta penyebaran qira’at di dunia Islam. Warna dominan hijau tua, emas, dan biru kehijauan.

Caption: Qira’at Sab’ah: Perbedaan cara membaca Al-Qur’an yang dinukil secara mutawatir dari Rasulullah SAW. Artikel ini membahas sejarah munculnya qira’at, para imam qira’at sab’ah (Nafi’, Ibnu Katsir, Abu Amr, Ibnu Amir, Ashim, Hamzah, Al-Kisa’i), perbedaan fonetik dan gramatikal, hikmah keragaman qira’at, serta pengaruhnya terhadap tafsir dan istinbath hukum. Sangat penting bagi santri dan pengkaji Al-Qur’an.

Description: Infografis lengkap tentang Qira’at Sab’ah mencakup: (1) Definisi qira’at dan perbedaannya dengan ahruf sab’ah, (2) Sejarah kodifikasi qira’at oleh Ibnu Mujahid, (3) Profil tujuh imam qira’at dan perawinya, (4) Contoh perbedaan bacaan dan implikasi maknanya, (5) Kaidah sanad qira’at, (6) Pengaruh qira’at dalam penafsiran ayat ahkam, (7) Qira’at dalam praktik shalat dan tadarus, (8) Hikmah keragaman qira’at sebagai rahmat.

A. PENDAHULUAN: KHAZANAH ILMAH YANG WAJIB DIPELAJARI

Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf (ahruf sab’ah) sebagai bentuk kemudahan dan rahmat bagi umat Islam. Namun, seiring perluasan wilayah Islam dan perbedaan dialek, para sahabat dan tabi’in meriwayatkan bacaan Al-Qur’an dengan lafazh yang sedikit berbeda namun tetap bersumber dari Rasulullah SAW. Inilah yang kemudian dikenal dengan Qira’at Sab’ah (tujuh qira’at).

Memahami qira’at bukan sekadar pengetahuan tentang perbedaan pelafalan, tetapi merupakan pintu masuk untuk mendalami kekayaan makna Al-Qur’an, memperkuat sanad keilmuan, dan menyelamatkan umat dari kesalahan baca yang fatal. Sayangnya, banyak santri dan bahkan pengajar yang belum memahami sejarah, sanad, dan pengaruh qira’at terhadap pemahaman ayat-ayat hukum.

Artikel ini akan mengupas secara mendalam tentang Qira’at Sab’ah: mulai dari definisi, perbedaan dengan ahruf, sejarah kodifikasi, profil para imam, contoh-contoh perbedaan, hingga pengaruhnya dalam tafsir dan kehidupan beribadah. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan umat semakin mencintai Al-Qur’an dan menghargai keragaman bacaannya sebagai rahmat Ilahi.

ู†ูŽุฒูŽู‘ู„ูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽุจู’ุนูŽุฉู ุฃูŽุญู’ุฑููู

“Al-Qur’an diturunkan atas tujuh huruf.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi landasan utama diterimanya keragaman qira’at dalam Islam.

B. PENGERTIAN QIRA’AT DAN PERBEDAAN DENGAN AHRUF SAB’AH

1. Pengertian Qira’at

Qira’at (ู‚ุฑุงุกุงุช) secara bahasa berarti “bacaan-bacaan”. Secara istilah, qira’at adalah madzhab (cara) membaca Al-Qur’an yang dipilih oleh seorang imam qurra’ sebagai suatu metode yang berbeda dengan metode lainnya, berdasarkan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW, dan sesuai dengan kaidah bahasa Arab serta rasm (tulisan) mushaf.

2. Perbedaan Qira’at dan Ahruf

Sering terjadi kekeliruan antara ahruf sab’ah (tujuh huruf) dan qira’at sab’ah (tujuh bacaan). Ahruf sab’ah adalah tujuh dialek atau gaya bahasa yang diizinkan pada awal-awal Islam untuk memudahkan berbagai suku Arab. Sementara qira’at sab’ah adalah tujuh metode bacaan yang dinukil secara mutawatir, yang merupakan bagian dari ahruf yang masih bertahan setelah proses kodifikasi mushaf Usmani.

๐Ÿ“– Perbedaan Kunci

  • Ahruf Sab’ah: Turun dari Allah sebagai rukhshah (keringanan).
  • Qira’at Sab’ah: Cara membaca yang diriwayatkan oleh para imam.
  • Jumlah: Ahruf pada awalnya 7, qira’at yang masyhur ada 10 (termasuk 3 tambahan setelah sab’ah).

C. SEJARAH KODIFIKASI QIRA’AT: DARI IBNU MUJAHID HINGGA IBNUL JAZARI

1. Masa Sahabat dan Tabi’in

Pada masa sahabat, perbedaan bacaan masih dalam batas wajar karena mereka langsung belajar dari Rasulullah. Namun, ketika Islam menyebar ke non-Arab, muncul potensi kekacauan bacaan. Khalifah Usman bin Affan r.a. kemudian mengumpulkan mushaf standar (Mushaf Imam) dan memerintahkan agar mushaf lain dimusnahkan. Namun, beliau tetap membolehkan perbedaan bacaan yang sesuai dengan rasm.

2. Peran Ibnu Mujahid (w. 324 H)

Pada abad ke-4 H, seorang ulama besar bernama Abu Bakar bin Mujahid menulis kitab Kitab as-Sab’ah fi al-Qira’at. Ia memilih tujuh imam qurra’ yang dianggap paling tsiqah dan bacaannya mutawatir. Inilah cikal bakal istilah “Qira’at Sab’ah”. Pemilihan tujuh ini bukan berarti hanya tujuh yang sah, tetapi yang paling masyhur dan kuat sanadnya.

3. Perkembangan Selanjutnya

Setelah Ibnu Mujahid, muncul ulama-ulama yang menambahkan tiga qira’at lagi menjadi Qira’at ‘Asyrah (sepuluh). Puncaknya adalah Ibnu al-Jazari (w. 833 H) yang menulis kitab An-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr dan Thayyibah an-Nasyr, yang menjadi rujukan utama qira’at hingga saat ini.

D. PARA IMAM QIRA’AT SAB’AH DAN PERAWINYA (RAWIN)

1. Tujuh Imam Qira’at

Berikut adalah tujuh imam qira’at yang dikodifikasi oleh Ibnu Mujahid beserta dua perawi utama masing-masing (yang masyhur):

No. Imam Qira’at Nama Lengkap Perawi 1 Perawi 2
1 Nafi’ al-Madani Nafi’ bin Abi Nu’aim (70-169 H) Qalun Warsh
2 Ibnu Katsir al-Makki Abdullah bin Katsir (45-120 H) Al-Bazzi Qunbul
3 Abu ‘Amr al-Bashri Zuban bin Al-‘Ala’ (68-154 H) Ad-Duri As-Susi
4 Ibnu ‘Amir asy-Syami Abdullah bin ‘Amir (21-118 H) Hisyam Ibnu Dzakwan
5 ‘Ashim al-Kufi ‘Ashim bin Abi an-Najud (w. 127 H) Hafs Syu’bah
6 Hamzah al-Kufi Hamzah bin Habib (80-156 H) Khalaf Khallad
7 Al-Kisa’i al-Kufi Ali bin Hamzah (119-189 H) Al-Laits Hafs ad-Duri

๐ŸŽฏ Qira’at yang Paling Populer di Dunia Islam

  • Qira’at ‘Ashim riwayat Hafs: Digunakan di sebagian besar dunia Islam (Mushaf standar Indonesia, Arab Saudi, dll).
  • Qira’at Nafi’ riwayat Warsh: Populer di Afrika Utara (Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya).
  • Qira’at Nafi’ riwayat Qalun: Digunakan di Libya dan sebagian Afrika.
  • Qira’at Abu ‘Amr riwayat Ad-Duri: Populer di Somalia dan Sudan.

E. JENIS-JENIS PERBEDAAN DALAM QIRA’AT

1. Perbedaan Harakat (Vokal)

Contoh: QS. Al-Fatihah ayat 4: ู…ูŽุงู„ููƒู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู (Maliki yaumid-din – ‘Ashim/Hafs) vs ู…ูŽู„ููƒู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู (Maliki yaumid-din – Nafi’/Warsh). Perbedaan fathah dan kasrah pada huruf mim mengubah makna: “Pemilik” vs “Raja”.

2. Perbedaan Huruf (Konsonan)

Contoh: QS. Al-Baqarah ayat 125: ูˆูŽุงุชูŽู‘ุฎูุฐููˆุง (wattakhidzu – perintah) vs ูˆูŽุงุชูŽู‘ุฎูŽุฐููˆุง (wattakhadzu – berita). Satu huruf (idgham vs tanpa idgham) mengubah makna.

3. Perbedaan karena Idgham, Iqlab, atau Tashil

Perbedaan dalam hukum tajwid, seperti membaca hamzah dengan tashil (mendekati alif) atau tahqiq (jelas).

4. Perbedaan Letak Ayat (Fashl dan Washl)

Ada perbedaan dalam menentukan awal dan akhir ayat pada beberapa surat.

๐Ÿ“– Contoh Implikasi Perbedaan Qira’at pada Makna

QS. Al-Maidah ayat 6: ููŽุงุบู’ุณูู„ููˆุง ูˆูุฌููˆู‡ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽูŠู’ุฏููŠูŽูƒูู…ู’

Pada kata ุฃูŽูŠู’ุฏููŠูŽูƒูู…ู’, qira’at ‘Ashim membaca dengan fathah pada huruf ya’ (ูŠุฏูŠูƒู… – tangan sampai siku). Qira’at lain membaca dengan kasrah (ุฅูŠุฏูŠูƒู…) yang tetap bermakna sama secara umum, namun perbedaan ini tidak mengubah hukum fikih wudhu. Namun, ada perbedaan lain yang mempengaruhi hukum, seperti pada ayat-ayat waris.

F. SANAD DAN KEABSAHAN QIRA’AT

1. Syarat Qira’at yang Shahih

Ulama qira’at menetapkan tiga syarat utama agar suatu qira’at diterima:

  • Sanad bersambung (mutawatir): Diriwayatkan oleh banyak perawi yang mustahil bersepakat dusta, sampai kepada Rasulullah.
  • Sesuai dengan kaidah bahasa Arab: Meskipun ada yang syadz (aneh), harus tetap dalam koridor nahwu dan sharaf.
  • Sesuai dengan rasm mushaf Usmani: Meskipun kadang hanya secara taqdir (perkiraan).

2. Qira’at Syadz (Tidak Diterima)

Qira’at yang tidak memenuhi salah satu syarat di atas disebut qira’at syadz. Contohnya adalah qira’at Ibnu Mas’ud yang tidak sesuai dengan rasm mushaf Usmani. Qira’at syadz tidak boleh dipakai dalam shalat tetapi bisa dipelajari sebagai tafsir.

G. PENGARUH QIRA’AT DALAM TAFSIR DAN ISTINBATH HUKUM

1. Memperkaya Penafsiran

Perbedaan qira’at seringkali membuka pintu makna baru. Misalnya pada QS. Al-Fatihah ayat 4, qira’at Malik (Pemilik) menekankan kepemilikan mutlak Allah, sementara Malik (Raja) menekankan kekuasaan-Na. Keduanya shahih dan saling melengkapi.

2. Menghasilkan Hukum Fikih yang Berbeda

Contoh klasik: QS. Al-Maidah ayat 6 tentang membasuh kaki dalam wudhu. Qira’at ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุฌูู„ูŽูƒูู…ู’ (dengan fathah – ‘Ashim) menunjukkan kaki ikut dibasuh. Sementara qira’at ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุฌูู„ููƒูู…ู’ (dengan kasrah – Nafi’) menunjukkan kaki diusap. Inilah yang menjadi salah satu dasar perbedaan madzhab dalam wudhu (Syafi’i membasuh, Maliki mengusap).

3. Memahami Asbabun Nuzul Lebih Luas

Perbedaan qira’at kadang merekam variasi bacaan yang diajarkan Rasulullah dalam situasi berbeda, memberikan pemahaman yang lebih holistik terhadap suatu ayat.

H. HIKMAH KERAGAMAN QIRA’AT

  • Kemudahan (Rahmat): Memudahkan umat yang memiliki dialek berbeda dalam melafalkan Al-Qur’an.
  • Bukti Kemukjizatan: Al-Qur’an tetap terjaga meskipun dibaca dengan berbagai cara.
  • Memperkaya Makna: Satu ayat bisa mengandung beberapa lapis makna sekaligus.
  • Penyempurna Hukum: Qira’at yang berbeda bisa menjadi dalil untuk dua hukum yang berbeda, keduanya shahih.
  • Menjaga Sanad Keilmuan: Qira’at mengajarkan pentingnya sanad dan periwayatan dalam Islam.
ุฅูู†ูŽู‘ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ ุฃูู†ู’ุฒูู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽุจู’ุนูŽุฉู ุฃูŽุญู’ุฑููู ููŽุงู‚ู’ุฑูŽุกููˆุง ู…ูŽุง ุชูŽูŠูŽุณูŽู‘ุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darinya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

I. KESIMPULAN: MENGGALI KEKAYAAN QIRA’AT DI ERA MODERN

Qira’at Sab’ah adalah khazanah agung yang wajib dipelajari oleh setiap santri, pengajar Al-Qur’an, dan ulama. Perbedaan qira’at bukanlah perpecahan, melainkan rahmat dan bukti kemukjizatan Al-Qur’an. Dari sisi sejarah, kodifikasi qira’at oleh Ibnu Mujahid dan Ibnu al-Jazari telah menyelamatkan umat dari kesalahan fatal dalam membaca kitab suci.

Dari sisi pengaruh, qira’at memperkaya tafsir, melahirkan istinbath hukum yang beragam dalam madzhab fikih, dan menjadi bukti bahwa Islam menghargai perbedaan selama masih dalam koridor sanad yang shahih. Di era modern, rekaman audio qira’at sab’ah dan ‘asyrah mudah diakses, sehingga setiap muslim bisa belajar lebih dari satu qira’at.

Kami mengajak para santri Ma’hadul Mustaqbal dan pembaca sekalian untuk tidak hanya berhenti pada qira’at ‘Ashim riwayat Hafs, tetapi juga mengenal qira’at lain seperti Warsh, Qalun, dan Ad-Duri. Dengan demikian, kecintaan kepada Al-Qur’an semakin mendalam dan pemahaman terhadap ayat-ayat-Nya semakin kaya. Wallahu a’lam bish-shawab.

J. DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Bukhari, M. (2015). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

Muslim, M. (2015). Shahih Muslim. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

Ibnu Mujahid, A. (1980). Kitab as-Sab’ah fi al-Qira’at. Kairo: Dar al-Ma’arif.

Ibnu al-Jazari, M. (2006). An-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

Az-Zarqani, M. (1995). Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an. Kairo: Dar al-Hadits.

Al-Qattan, M. (2013). Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.

Shihab, M.Q. (2015). Kaidah Tafsir: Syarat, Syurut, dan Etika. Jakarta: Lentera Hati.

Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan โ€œPendidikan Pondok Pesantren Nonformal Maโ€™hadul Mustaqbalโ€ dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, kami dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.

๐Ÿท๏ธ 30 TAGS ARTIKEL

qira’at sab’ah tujuh qira’at perbedaan qira’at sejarah qira’at imam qira’at
riwayat hafs riwayat warsh qalun ad-duri as-susi
ahruf sab’ah ibnu mujahid ibnu al-jazari sanad qira’at mutawatir
tafsir qira’at istinbath hukum perbedaan bacaan al-qur’an mushaf usmani rasm mushaf
qira’at asyrah khalaf khallad al-bazzi qunbul
ma’hadul mustaqbal ulumul qur’an tajwid pembacaan al-qur’an belajar qira’at


  • Penulis: mahadulmustaqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less