QRN-97: Mengenal 10 Qira’at dan Perawinya – Studi Sanad dan Keotentikan Bacaan Al-Qur’an
- account_circle mahadulmustaqbal
- calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
- visibility 13
- comment 0 komentar

QRN-97: Mengenal 10 Qira’at dan Perawinya – Studi Sanad dan Keotentikan Bacaan Al-Qur’an

🖼️ INFORMASI GAMBAR
Alt-text: Infografis tentang 10 imam qira’at sab’ah dan tsalatsah, ilustrasi bergaya Islami dengan mushaf, sanad emas, dan nama-nama perawi utama (Qalun, Warsh, Hafs, Syu’bah, dll) dengan latar hijau tua dan aksen kaligrafi.
Caption: Mengenal 10 Qira’at Al-Qur’an: Qira’at Sab’ah (tujuh) plus tiga qira’at mutawatir (Abu Ja’far, Ya’qub, Khalaf). Dilengkapi perawi masing-masing seperti Hafs ‘an ‘Ashim, Warsh ‘an Nafi’, Qalun, Ad-Duri, dan lain-lain. Materi ini mengupas sejarah, sanad, karakteristik, serta pentingnya mempelajari ragam bacaan Al-Qur’an demi menjaga kemurnian wahyu.
Description: Desain edukatif menjelaskan 10 imam qira’at: Nafi’, Ibnu Katsir, Abu ‘Amr, Ibnu ‘Amir, ‘Ashim, Hamzah, Al-Kisa’i, Abu Ja’far, Ya’qub, Khalaf. Setiap imam memiliki dua perawi utama. Artikel lengkap dengan tabel, dalil naqli, faedah sanad, dan keistimewaan qira’at sebagai khazanah keilmuan Islam.
A. PENDAHULUAN: AL-QUR’AN DITURUNKAN DALAM TUJUH HURUF
Al-Qur’an adalah kalamullah yang mulia, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara mutawatir, baik lafaz maupun maknanya. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah oleh kalian apa yang mudah darinya.” (HR. Bukhari & Muslim). Dari sinilah lahir keragaman bacaan (qira’at) yang sanadnya bersambung hingga kepada Rasulullah SAW. Ilmu qira’at menjadi disiplin yang menjaga autentisitas mushaf sekaligus memperkaya khazanah tafsir dan hukum Islam.
Seiring waktu, para ulama mengkodifikasikan qira’at yang mutawatir. Yang paling masyhur adalah Qira’at Sab’ah (tujuh) yang dinukil oleh Imam Ibn Mujahid, kemudian ditambahkan tiga qira’at lain menjadi Al-Qira’at Al-‘Asyr (sepuluh) oleh Imam Ibnu al-Jazari. Makalah ini akan mengupas secara mendalam 10 imam qira’at beserta dua perawi utama masing-masing, dilengkapi dengan sanad dan karakteristik bacaan. Semoga menjadi pintu kecintaan kepada Al-Qur’an dan warisan keilmuan Islam.
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)
B. DEFINISI QIRA’AT DAN URGENSI MEMPELAJARINYA
Qira’at secara bahasa berarti bacaan. Secara istilah, qira’at adalah mazhab (cara) yang diikuti oleh imam qira’at dalam melafalkan Al-Qur’an, berbeda dengan tajwid namun tetap bersumber dari riwayat yang shahih, bersambung sanadnya hingga Rasulullah SAW. Perbedaan qira’at bisa terjadi pada harakat, huruf, bentuk kata, atau jumlah ayat, namun semuanya merupakan wahyu.
Urgensinya: (1) Memperkaya pemahaman hukum syariat; (2) Menjaga kemurnian Al-Qur’an dari kesalahan bacaan; (3) Memudahkan umat dalam membaca sesuai kemampuan; (4) Membuktikan kemukjizatan Al-Qur’an. Para santri di pesantren perlu mengenal minimal qira’at ‘Ashim riwayat Hafs yang tersebar luas, namun mengetahui 10 qira’at menambah wawasan keislaman yang mendalam.
C. 10 IMAM QIRA’AT DAN PERAWI UTAMA (RIWAYAT)
Berikut adalah tabel ringkas 10 imam qira’at (yang disepakati oleh Imam Ibnu al-Jazari dalam kitab An-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr) beserta dua perawi yang terkenal, tempat lahir, dan sedikit karakteristik:
| No | Nama Imam Qira’at | Perawi 1 | Perawi 2 | Wafat (Hijriyah) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Nafi’ al-Madani | Qalun (Isa bin Mina) | Warsh (Utsman bin Sa’id) | 169 H |
| 2 | Abdullah bin Katsir al-Makki | Al-Bazzi (Ahmad bin Muhammad) | Qunbul (Muhammad bin Abdurrahman) | 120 H |
| 3 | Abu ‘Amr bin al-‘Ala’ al-Bashri | Ad-Duri (Hafs bin Umar) | As-Susi (Shalih bin Ziyad) | 154 H |
| 4 | Ibnu ‘Amir ad-Dimasyqi | Hisyam bin Ammar | Ibnu Dzakwan (Abdullah bin Ahmad) | 118 H |
| 5 | ‘Ashim bin Abi an-Najud al-Kufi | Hafs bin Sulaiman | Syu’bah bin ‘Ayyasy | 127 H |
| 6 | Hamzah bin Habib az-Zayyat | Khalaf bin Hisyam | Khallad (Khallad bin Khalid) | 156 H |
| 7 | Al-Kisa’i ‘Ali bin Hamzah | Abul Harits al-Laits | Ad-Duri (riwayat kedua dari Kisa’i) | 189 H |
| 8 | Abu Ja’far Yazid bin al-Qa’qa’ | Ibnu Wardan | Ibnu Jammaz | 130 H |
| 9 | Ya’qub bin Ishaq al-Hadrami | Ruwais (Muhammad bin Mutawakkil) | Rauh bin Abdul Mu’min | 205 H |
| 10 | Khalaf bin Hisyam al-Bazzar | Ishaq bin Ibrahim | Idris bin Abdul Karim | 229 H |
📌 Catatan Penting
Qira’at yang paling populer di dunia Islam saat ini adalah Qira’at ‘Ashim riwayat Hafs melalui perawi Hafs bin Sulaiman. Namun di Afrika Utara dominan menggunakan Qira’at Nafi’ riwayat Warsh. Santri hendaknya memahami bahwa semua qira’at ini sahih dan bersumber dari Nabi SAW.
D. PROFIL SINGKAT IMAM QIRA’AT DAN KARAKTERISTIK BACAAN
1. Imam Nafi’ al-Madani (70-169 H)
Guru besar qira’at di Madinah, sanadnya melalui para tabi’in. Perawi utamanya: Qalun (dikenal dengan bacaan yang lembut, sedikit mad) dan Warsh (terkenal dengan imalah dan naql). Qira’at Nafi’ menjadi rujukan utama di Tunisia, Aljazair, dan Libya.
2. Imam Ibnu Katsir al-Makki (45-120 H)
Beliau adalah tabi’in, murid dari Abdullah bin Sa’ib. Dua perawi: Al-Bazzi dan Qunbul. Qira’at ini banyak diikuti di sebagian wilayah Makkah.
3. Imam Abu ‘Amr bin al-‘Ala’ (68-154 H)
Imam bashrah yang sangat alim dalam nahwu dan qira’at. Perawi: Ad-Duri dan As-Susi. Qira’at ini terkenal dengan idgham kabir dan fleksibilitas.
4. Imam Ibnu ‘Amir ad-Dimasyqi (21-118 H)
Qadhi di Damaskus, murid dari para sahabat seperti Abu Darda’. Perawinya Hisyam dan Ibnu Dzakwan. Qira’at Syam ini memiliki kekhasan dalam lafaz tertentu.
5. Imam ‘Ashim bin Abi an-Najud (w. 127 H)
Imam Kufah, terkenal dengan ketelitian dan hafalan kuat. Dua perawinya: Hafs (yang kita baca sehari-hari) dan Syu’bah. Hafs memiliki ketelitian dalam makharij dan huruf, menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam.
6. Imam Hamzah bin Habib (80-156 H)
Imam Kufah yang zuhud, bacaannya fasih. Perawi Khalaf dan Khallad. Memiliki ciri isymam dan ikhfa’ tertentu.
7. Imam Al-Kisa’i (119-189 H)
Ahli nahwu Kufah, pemuka qira’at. Perawi Abul Harits dan Ad-Duri (riwayat kedua). Bacaannya moderat, dekat dengan ‘Ashim namun berbeda di beberapa titik.
8. Imam Abu Ja’far al-Madani (w. 130 H)
Qari besar Madinah generasi tabi’ tabi’in. Perawi Ibnu Wardan dan Ibnu Jammaz. Termasuk tiga tambahan setelah Sab’ah.
9. Imam Ya’qub al-Hadrami (117-205 H)
Qari’ Bashrah, terkenal dengan ketelitian. Perawi Ruwais dan Rauh. Qira’atnya tersebar di sebagian wilayah Yaman.
10. Imam Khalaf bin Hisyam (150-229 H)
Murid dari Hamzah dan sekaligus perawi dari Hamzah, namun ia juga memiliki qira’at sendiri yang berbeda. Perawi Ishaq dan Idris. Imam Ibnu al-Jazari menjadikannya sebagai qira’at ke-10.
HR. Bukhari no. 2419, Muslim no. 818.
E. SANAD DAN PERAN IMAM IBNU AL-JAZARI
Sanad qira’at merupakan rantai emas periwayatan yang bersambung hingga Rasulullah. Para imam qira’at belajar langsung dari guru-guru yang sanadnya sampai ke sahabat, lalu kepada Nabi. Imam Ibnu al-Jazari (751-833 H) dalam kitabnya Thayyibat an-Nasyr dan An-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr berhasil mengkodifikasi sepuluh qira’at dengan metode yang sistematis. Beliau menyusun nadhom (syair) yang populer “Thayyibatun Nasyr” yang menghimpun jalur periwayatan. Berkat beliau, umat Islam dapat mempelajari qira’at secara terstruktur hingga saat ini.
Keistimewaan belajar qira’at: mendapat pahala mengikuti sunnah Rasul, memahami ragam bacaan yang saling melengkapi makna, serta menjaga keotentikan Al-Qur’an. Banyak pesantren salaf mengajarkan qira’at sab’ah atau ‘asyrah sebagai bagian dari takhasus (spesialisasi) Al-Qur’an.
F. CONTOH PERBEDAAN ANTARA QIRA’AT
Agar lebih konkret, berikut beberapa contoh perbedaan qira’at (tanpa mengurangi penghormatan):
- QS. Al-Fatihah (1:4): Māliki yaumid-dīn (Hafs) vs Maliki yaumid-dīn (Warsh, Qalun). Perbedaan harakat pada huruf mim (panjang/ pendek) juga terjadi pada sebagian lafaz.
- QS. Al-Baqarah (2:125): Lafal wa ittakhidzū (Hafs) dibaca dengan hamzah washal, sementara riwayat lain dengan tahqiq hamzah.
- QS. Yusuf (12:11): lā ta’mannā pada Hafs, sementara pada qira’at Hamzah dan Kisa’i menggunakan lā ta’manā tanpa tasydid, dll.
Perbedaan ini justru menunjukkan keluasan dan fleksibilitas bacaan Al-Qur’an sebagai mukjizat.
G. RELEVANSI BAGI SANTRI DAN PENGELOLA PESANTREN
Ma’hadul Mustaqbal sebagai lembaga pendidikan pesantren modern tetap menjunjung tinggi tradisi sanad. Memperkenalkan 10 qira’at kepada santri tingkat lanjut (takhasus tahfidz) akan memperdalam kecintaan terhadap Al-Qur’an. Selain itu, pengajar Al-Qur’an disarankan mengambil sanad qira’at dari para masyayikh yang bersambung hingga Imam Ibnu al-Jazari. Program “sanad qira’at” dapat menjadi unggulan pondok pesantren.
Dengan manajemen pembelajaran yang baik, santri dapat menghafal Al-Qur’an dengan satu qira’at (misal Hafs) kemudian mempelajari perbedaan qira’at lain sebagai ilmu tafsir dan tajwid perbandingan.
H. KESIMPULAN: KHASANAH YANG HARUS DIJAGA
Mengenal 10 imam qira’at dan perawinya adalah bagian dari memuliakan Al-Qur’an. Ilmu qira’at membuktikan bahwa Al-Qur’an dijaga oleh Allah melalui rantai sanad yang terpercaya. Bagi pesantren, mempelajari qira’at selain Hafs dapat membuka wawasan dan menghidupkan sunnah Rasul dalam keberagaman bacaan. Semoga generasi Islam terus mencintai, membaca, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam seluruh varian qira’at yang mutawatir.
Wallahu a’lam bish-shawab.
QS. Al-Hijr: 9 — “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami menjaganya.”
📚 DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim.
Ibnu al-Jazari, Syamsuddin Muhammad. (2010). An-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
Ibnu Mujahid, Abu Bakr. (2004). Kitab as-Sab’ah fi al-Qira’at. Kairo: Maktabah al-Khanji.
Az-Zurqani, Muhammad Abdul Azhim. (2005). Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi.
Al-Banna, Ahmad bin Muhammad. (2018). Ittihaf Fudhala’ al-Basyar bi al-Qira’at al-Arba’at ‘Asyar. Beirut: Muassasah al-Risalah.
Shaltut, Mahmud. (1998). Al-Islam ‘Aqidah wa Syari’ah. Kairo: Dar al-Shuruq.
Al-Jazari, Ibn al-Jazari. (2007). Thayyibat an-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr (Nadhom). Damaskus: Dar al-Ghawtsani.
Penulis: Artikel ini disusun oleh Tim Pengembangan “Pendidikan Pondok Pesantren Nonformal Ma’hadul Mustaqbal” dengan mengacu pada kitab-kitab turats dan referensi modern serta bantuan AI. Artikel bersifat edukatif bagi santri dan masyarakat umum dalam memahami 10 qira’at dan perawinya. Kritik dan saran membangun dapat dikirim ke admin@mahadulmustaqbal.com atau +6285136056172 / +6282342739583. Jazakumullah khairan.
- Penulis: mahadulmustaqbal

Saat ini belum ada komentar