Breaking News
light_mode
Istilah Penting
Beranda » BHS.ARAB » Safinatun Najah: Analisis Komprehensif Kitab Fikih Dasar Karya Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami – Mengurai Kitab Fikih Dasar Paling Populer yang Menjadi Pintu Masuk bagi Santri Pemula dalam Memahami Mazhab Syafi’i

Safinatun Najah: Analisis Komprehensif Kitab Fikih Dasar Karya Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami – Mengurai Kitab Fikih Dasar Paling Populer yang Menjadi Pintu Masuk bagi Santri Pemula dalam Memahami Mazhab Syafi’i

  • account_circle mahadulmustaqbal
  • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
  • visibility 30
  • comment 0 komentar






Safinatun Najah: Analisis Komprehensif Kitab Fikih Dasar Karya Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami – Ma’hadul Mustaqbal


📖 Safinatun Najah: Analisis Komprehensif Kitab Fikih Dasar Karya Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami

Mengurai Kitab Fikih Dasar Paling Populer yang Menjadi Pintu Masuk bagi Santri Pemula dalam Memahami Mazhab Syafi’i


🖼️ INFORMASI GAMBAR

Alt-text: Sampul kitab Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami dengan ilustrasi kapal yang melambangkan keselamatan, serta kaligrafi Arab yang indah.

Caption: Safinatun Najah (Perahu Keselamatan) – Kitab fikih dasar mazhab Syafi’i yang menjadi pintu masuk pertama bagi santri pemula dalam mempelajari hukum-hukum Islam, disusun secara ringkas dan sistematis.

Description: Infografis menampilkan profil Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami (w. 1270 H), ulama besar dari Hadramaut yang menulis Safinatun Najah sebagai matan fikih dasar. Kitab ini membahas fikih dalam 5 bab utama: thaharah (bersuci), shalat, zakat, puasa, dan haji. Dilengkapi dengan syarah-syarah terkenal seperti Kasyifatus Saja karya Syekh Nawawi al-Bantani dan Sulam al-Munajat karya Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi.

A. PENDAHULUAN: SAFINATUN NAJAH SEBAGAI PERAHU KESELAMATAN BAGI PEMULA

Di antara kitab-kitab klasik yang menjadi kurikulum utama pesantren Ahlussunnah Waljamaah, Safinatun Najah (سفينة النجاة) karya Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami menempati posisi yang paling fundamental sebagai pintu masuk pertama bagi santri pemula dalam mempelajari fikih mazhab Syafi’i. Kitab ini bukan sekadar buku fikih biasa, melainkan fondasi awal yang menjadi landasan bagi pemahaman hukum-hukum Islam yang lebih mendalam.

Dinamakan Safinatun Najah yang berarti “Perahu Keselamatan”, karena kitab ini bagaikan perahu yang menyelamatkan para pemula dari kebingungan dalam memahami fikih. Dengan bahasa yang sederhana, sistematika yang jelas, dan cakupan yang esensial, kitab ini menjadi media yang aman bagi santri untuk memulai perjalanan panjang mereka dalam mempelajari ilmu fikih. Hampir tidak ada pesantren di Nusantara yang tidak mewajibkan santrinya untuk mempelajari dan menghafal kitab ini sebagai langkah awal dalam memahami fikih.

Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami dalam muqaddimah Safinatun Najah menyatakan: “Kitab ini aku tulis sebagai ringkasan yang mudah bagi para pemula, mencakup pokok-pokok hukum yang wajib diketahui oleh setiap Muslim. Aku beri nama Safinatun Najah, semoga Allah menjadikannya perahu keselamatan bagi siapa pun yang mempelajarinya.”

B. PROFIL PENULIS: SYEKH SALIM BIN SUMAIR AL-HADHRAMI (ت. 1270 هـ / 1853 م)

Syekh Salim bin Sumair bin Abdullah al-Hadhrami asy-Syafi’i

Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami lahir di Hadramaut, Yaman, pada akhir abad ke-12 H/18 M. Beliau adalah seorang ulama besar dalam bidang fikih mazhab Syafi’i, ushul fikih, dan bahasa Arab. Beliau dikenal sebagai faqih (ahli fikih) yang sangat teliti dan memiliki kemampuan dalam merangkum ilmu yang luas ke dalam format yang ringkas dan mudah dipahami.

Syekh Salim bin Sumair menuntut ilmu di Hadramaut kepada ulama-ulama terkemuka pada masanya, kemudian mengajar dan menjadi rujukan utama bagi masyarakat di wilayah tersebut. Beliau menulis Safinatun Najah sebagai matan (teks) fikih dasar yang menjadi pengantar bagi para penuntut ilmu. Kitab ini kemudian menjadi sangat populer dan tersebar luas ke seluruh dunia Islam, terutama di Nusantara.

Selain Safinatun Najah, Syekh Salim bin Sumair juga memiliki karya-karya lain dalam bidang fikih dan akhlak. Beliau wafat di Hadramaut pada tahun 1270 H/1853 M. Karyanya yang paling monumental, Safinatun Najah, hingga kini tetap menjadi kitab fikih dasar yang paling banyak dikaji di pesantren-pesantren Nusantara dan seluruh dunia Islam.

📚 Karya-Karya Syekh Salim bin Sumair dan Murid-Muridnya

  • Safinatun Najah – Kitab fikih dasar yang menjadi fokus analisis kita.
  • Kasyifatus Saja fi Syarhi Safinatun Naja – Syarah terkenal oleh Syekh Nawawi al-Bantani (ulama Nusantara).
  • Sulam al-Munajat – Syarah oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi (Nawawi Banten) dalam bentuk syair.
  • Al-Futuhat al-Madaniyyah – Karya lain dalam bidang fikih.

📌 Safinatun Najah: Kitab yang Mendunia

Safinatun Najah adalah salah satu kitab fikih dasar yang paling banyak dikaji di seluruh dunia Islam. Kitab ini menjadi rujukan utama tidak hanya di Nusantara, tetapi juga di Hadramaut, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara. Di pesantren-pesantren Indonesia, Safinatun Najah menjadi kitab fikih wajib yang harus dihafal oleh santri pemula. Bahkan, kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Jawa, Sunda, Melayu, dan Indonesia. Kepopulerannya menjadikannya sebagai “kitab fikih pertama” bagi jutaan santri di Nusantara.

C. STRUKTUR DAN METODOLOGI SAFINATUN NAJAH

1. Latar Belakang Penulisan

Safinatun Najah ditulis sebagai matan (teks) fikih dasar yang ditujukan bagi para pemula yang baru memulai studi fikih. Syekh Salim bin Sumair menyusun kitab ini dengan sangat ringkas, hanya mencakup pokok-pokok hukum yang wajib diketahui oleh setiap Muslim. Kitab ini didesain untuk dihafal, dengan bahasa yang sederhana dan sistematika yang jelas.

2. Struktur Kitab

Safinatun Najah disusun dalam 5 bab utama yang mencakup rukun Islam, dengan struktur sebagai berikut:

📖 Struktur Pembahasan Safinatun Najah

  • Muqaddimah (Pendahuluan): Membahas tentang niat, taubat, dan pengantar singkat tentang fikih.
  • Bab I: Kitab Thaharah (Bersuci):
    • Macam-macam air dan hukumnya
    • Najis dan cara membersihkannya
    • Wudhu: rukun, sunnah, dan pembatalnya
    • Mandi wajib: sebab-sebab dan tata caranya
    • Tayamum: syarat dan tata caranya
    • Haid, nifas, dan istihadlah
  • Bab II: Kitab Shalat:
    • Waktu-waktu shalat fardhu
    • Syarat wajib dan syarat sah shalat
    • Rukun shalat
    • Sunnah-sunnah shalat
    • Hal-hal yang membatalkan shalat
    • Shalat berjamaah
    • Shalat Jumat
    • Shalat sunnah (rawatib, dhuha, tahajud, witir, dll)
    • Shalat jenazah
  • Bab III: Kitab Zakat:
    • Harta yang wajib dizakati
    • Nisab dan kadar zakat
    • Mustahik (orang yang berhak menerima zakat)
    • Zakat fitrah
  • Bab IV: Kitab Puasa:
    • Puasa wajib (Ramadhan)
    • Syarat wajib dan rukun puasa
    • Hal-hal yang membatalkan puasa
    • Puasa sunnah
  • Bab V: Kitab Haji dan Umrah:
    • Syarat wajib haji
    • Rukun haji
    • Wajib haji
    • Larangan ihram dan dam
    • Tata cara umrah

3. Metodologi Penulisan

Syekh Salim bin Sumair menggunakan metodologi yang sangat sederhana dan sistematis dalam Safinatun Najah:

  • Metode Matan (Teks Ringkas): Menyajikan fikih dalam bentuk teks ringkas yang mudah dihafal, tanpa penjelasan panjang.
  • Sistematika Berdasarkan Rukun Islam: Mengikuti urutan rukun Islam: syahadat (dalam muqaddimah), shalat, zakat, puasa, haji, dengan didahului thaharah sebagai syarat shalat.
  • Pendekatan Fikih Mu’tamad: Hanya menyajikan pendapat yang mu’tamad (terkuat) dalam mazhab Syafi’i, tidak memperbanyak perbedaan pendapat.
  • Bahasa yang Sederhana: Menggunakan bahasa Arab yang sederhana dan tidak bertele-tele, memudahkan pemula untuk memahami.
  • Struktur yang Jelas: Setiap bab dibagi menjadi pasal-pasal kecil yang terstruktur, memudahkan pembaca untuk mengikuti alur pembahasan.

4. Ciri Khas Safinatun Najah

  • Ringkas dan Padat: Dalam satu kitab tipis (biasanya sekitar 20-30 halaman), mencakup pokok-pokok fikih yang wajib diketahui.
  • Mudah Dihafal: Karena bentuknya yang ringkas, kitab ini sangat mudah dihafal oleh santri pemula.
  • Sistematis: Urutan bab yang jelas dan terstruktur memudahkan pembelajaran.
  • Fokus pada Fikih Ibadah: Hanya membahas fikih ibadah (thaharah, shalat, zakat, puasa, haji), tidak membahas muamalah, jinayah, dan waris.
  • Menjadi Fondasi Awal: Merupakan fondasi yang kokoh bagi santri sebelum mempelajari kitab fikih yang lebih mendalam.
  • Banyak Syarah: Memiliki banyak syarah (penjelasan) yang ditulis oleh ulama-ulama besar, terutama dari Nusantara.

D. KEUNGGULAN DAN KEISTIMEWAAN SAFINATUN NAJAH

✅ 9 Keunggulan Utama Safinatun Najah

  • 1. Ringkas dan Padat: Sangat ideal untuk pemula karena tidak bertele-tele dan fokus pada pokok-pokok yang esensial.
  • 2. Mudah Dihafal: Format matan yang ringkas memudahkan santri untuk menghafal teks fikih dasar.
  • 3. Sistematis dan Terstruktur: Urutan bab yang jelas memudahkan pembelajaran dan rujukan.
  • 4. Fokus pada Fikih Ibadah: Membahas pokok-pokok ibadah yang wajib diketahui setiap Muslim.
  • 5. Bahasa yang Sederhana: Menggunakan bahasa Arab yang mudah dipahami oleh pemula.
  • 6. Pendapat Mu’tamad: Hanya menyajikan pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i, menghindari kebingungan.
  • 7. Banyak Syarah Berkualitas: Memiliki syarah terkenal seperti Kasyifatus Saja (Nawawi Banten) yang memperkaya pemahaman.
  • 8. Menjadi Fondasi Awal: Merupakan fondasi yang kokoh bagi santri sebelum mempelajari kitab fikih yang lebih mendalam.
  • 9. Diterima Lintas Generasi: Telah digunakan selama berabad-abad dan tetap relevan hingga hari ini.

Keunggulan-keunggulan ini menjadikan Safinatun Najah sebagai kitab fikih dasar yang paling populer dan paling banyak dikaji di pesantren-pesantren Nusantara. Kitab ini menjadi fondasi awal yang wajib dikuasai oleh setiap santri pemula.

E. KRITIK DAN KELEMAHAN SAFINATUN NAJAH

⚠️ 5 Kritik Akademis terhadap Safinatun Najah

  • 1. Terlalu Ringkas: Keringkasan yang menjadi kelebihan sekaligus kelemahan. Banyak aspek penting yang tidak dibahas secara detail, sehingga membutuhkan syarah untuk memahaminya.
  • 2. Tidak Mencantumkan Dalil: Sebagai kitab matan, tidak mencantumkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadis, sehingga santri hanya mengetahui hukum tanpa mengetahui sumbernya.
  • 3. Tidak Membahas Perbedaan Pendapat: Hanya menyajikan pendapat mu’tamad, tidak membahas perbedaan pendapat di dalam mazhab Syafi’i.
  • 4. Cakupan Terbatas: Hanya membahas fikih ibadah, tidak membahas muamalah, jinayah, dan waris yang juga penting.
  • 5. Tidak Membahas Isu-Isu Kontemporer: Sebagai kitab klasik, tidak membahas isu-isu fikih kontemporer yang muncul di era modern.

Para ulama menyadari keterbatasan ini. Oleh karena itu, Safinatun Najah tidak diajarkan secara mandiri. Setelah santri menghafal dan memahami matan Safinatun Najah, mereka akan mempelajari syarah-syarahnya seperti Kasyifatus Saja yang memberikan penjelasan lebih detail, dalil-dalil, dan konteks yang lebih luas. Setelah itu, santri akan melanjutkan ke kitab fikih yang lebih mendalam seperti Fathul Qarib atau Nihayatuz Zain.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Kasyifatus Saja menyatakan: “Safinatun Najah adalah matan yang sangat bermanfaat bagi pemula. Namun, untuk memahami secara mendalam, pembaca memerlukan syarah yang menjelaskan apa yang tersirat dalam teks, menambahkan dalil-dalil, dan memperkaya dengan faedah-faedah yang diperlukan.”

F. SYARAH DAN HASYIYAH SAFINATUN NAJAH

Karena ringkasnya Safinatun Najah, banyak ulama yang menulis syarah (penjelasan) dan hasyiyah (catatan pinggir) untuk memudahkan pemahaman. Berikut adalah yang terpenting, terutama dari ulama Nusantara:

Nama Kitab Penulis Karakteristik
Kasyifatus Saja fi Syarhi Safinatun Naja

Syekh Nawawi al-Bantani (w. 1314 H)

Syarah paling populer dan paling banyak dikaji di pesantren Nusantara; bahasa yang mudah dipahami, penjelasan yang sistematis, dan dilengkapi dengan dalil-dalil.







Sulam al-Munajat

Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi (Nawawi Banten)

Syarah dalam bentuk syair (nadzam); memudahkan hafalan dan sangat populer di kalangan santri.







Al-Futuhat al-Ilahiyyah

Syekh Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H)

Syarah yang cukup mendalam; banyak dikaji di pesantren Mesir dan juga di Nusantara.







Matan Safinatun Najah ma’a Syarhihi

Beberapa ulama

Banyak edisi yang menggabungkan matan dengan syarah singkat di bagian bawah halaman.







Di pesantren Nusantara, syarah Kasyifatus Saja karya Syekh Nawawi al-Bantani menjadi rujukan utama karena ditulis oleh ulama Nusantara sehingga bahasanya lebih mudah dipahami oleh santri Indonesia. Sementara itu, Sulam al-Munajat juga sangat populer karena bentuknya yang berupa syair (nadzam) memudahkan hafalan.

G. PERANAN SAFINATUN NAJAH DI PESANTREN NUSANTARA

Di Indonesia, Safinatun Najah memiliki posisi yang sangat sentral dalam kurikulum pesantren Ahlussunnah Waljamaah. Kitab ini biasanya diajarkan pada tingkat dasar (ibtidaiyah) sebagai kitab fikih pertama yang dipelajari santri. Metode pengajarannya menggunakan sistem bandongan (guru membacakan dan menerjemahkan) dan sorogan (santri membacakan di hadapan guru).

🇮🇩 Peran Safinatun Najah di Pesantren Nusantara

  • Kitab Fikih Pertama: Menjadi kitab fikih pertama yang dipelajari santri pemula sebagai fondasi awal.
  • Hafalan Wajib Santri: Hampir semua pesantren mewajibkan santri menghafal matan Safinatun Najah sebagai syarat kenaikan tingkat.
  • Fondasi Ibadah Praktis: Membekali santri dengan pengetahuan praktis tentang tata cara ibadah yang benar.
  • Jembatan Menuju Kitab Lanjutan: Menjadi fondasi yang kokoh bagi santri sebelum mempelajari kitab fikih yang lebih mendalam.
  • Rujukan Utama Masyarakat: Kyai-kyai pesantren sering merujuk pada Safinatun Najah dalam memberikan bimbingan ibadah kepada masyarakat.
  • Diterjemahkan ke Bahasa Daerah: Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Melayu, dan Indonesia, menjadikannya mudah diakses oleh seluruh santri.

🎯 Metode Pengajaran Safinatun Najah di Pesantren

  • Tahap Hafalan (Tahfidz): Santri menghafal matan Safinatun Najah secara bertahap, biasanya satu pasal per hari.
  • Tahap Pemahaman (Fahm): Guru menjelaskan makna setiap pasal, termasuk definisi, syarat, rukun, sunnah, dan pembatal.
  • Tahap Syarah (Kasyifatus Saja): Guru menjelaskan dengan menggunakan syarah Kasyifatus Saja untuk memperdalam pemahaman.
  • Tahap Aplikasi (Tathbiq): Santri diminta untuk mempraktikkan ibadah sesuai dengan yang dipelajari.

Pengaruh Safinatun Najah di Nusantara sangat besar. Hampir semua pesantren salaf di Indonesia menjadikan kitab ini sebagai kitab fikih wajib tingkat dasar. Kitab ini telah dicetak ulang ratusan kali dan tersebar luas di seluruh penjuru Nusantara. Hingga hari ini, Safinatun Najah tetap menjadi kitab fikih pertama yang dipelajari oleh jutaan santri di Indonesia.

H. PERBANDINGAN SAFINATUN NAJAH DENGAN KITAB FIKIH DASAR LAINNYA

Aspek Safinatun Najah Matan Abu Syuja’ Sullam al-Munawwarah
Penulis

Syekh Salim bin Sumair (w. 1270 H)

Syekh Abu Syuja’ (w. 593 H)

Syekh Muhammad bin Ahmad al-Muradi



Jumlah Halaman

~20-30 halaman

~30-40 halaman

~40-50 halaman



Cakupan

Thaharah, shalat, zakat, puasa, haji

Thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, nikah, waris

Lebih luas (termasuk muamalah)



Tingkat

Dasar (pemula)

Dasar-Menengah

Dasar-Menengah



Bahasa

Sederhana, ringkas

Sederhana, sedikit lebih panjang

Sederhana



Popularitas di Nusantara

Sangat tinggi (kitab pertama)

Tinggi (dipelajari setelah Safinatun Najah)

Cukup tinggi



Dari perbandingan di atas, tampak bahwa Safinatun Najah memiliki posisi yang unik sebagai kitab fikih dasar yang paling ringkas dan paling mudah dipahami, sehingga sangat ideal sebagai kitab pertama bagi santri pemula.

I. KESIMPULAN: SAFINATUN NAJAH SEBAGAI PERAHU KESELAMATAN BAGI PEMULA

Safinatun Najah adalah kitab fikih dasar yang tak tergantikan dalam tradisi keilmuan pesantren Ahlussunnah Waljamaah. Karya monumental Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami ini berhasil merangkum pokok-pokok fikih ibadah dalam format yang ringkas, sistematis, dan mudah dihafal. Kitab ini menjadi perahu keselamatan yang membawa jutaan santri pemula memulai perjalanan panjang mereka dalam mempelajari ilmu fikih.

Keunggulan utamanya terletak pada keringkasan yang memudahkan hafalan, sistematika yang jelas, fokus pada fikih ibadah yang esensial, dan bahasa yang sederhana. Meskipun memiliki keterbatasan seperti tidak mencantumkan dalil dan cakupan yang terbatas, kitab ini tetap menjadi rujukan utama karena posisinya yang tepat sebagai fondasi awal, serta didukung oleh banyak syarah berkualitas yang memperkaya pemahaman.

Di pesantren Nusantara, Safinatun Najah menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum pembentukan santri. Melalui kitab ini, santri belajar tentang tata cara ibadah yang benar, menghafal pokok-pokok fikih, dan membangun fondasi yang kokoh untuk mempelajari ilmu yang lebih mendalam. Warisan keilmuan ini terus hidup dan dikaji dari generasi ke generasi, membuktikan bahwa kitab yang ditulis lebih dari 150 tahun lalu ini tetap menjadi pemandu bagi jutaan Muslim dalam menjalankan ibadah dengan benar.

Sebagaimana dinyatakan oleh para ulama: “Safinatun Najah adalah perahu keselamatan bagi para pemula. Barang siapa yang menghafal dan memahaminya, maka ia telah memiliki fondasi fikih yang kokoh. Dan barangsiapa yang mendalaminya dengan syarah-syarahnya, maka ia akan siap untuk memasuki samudra ilmu fikih yang lebih luas.”

Akhirnya, Safinatun Najah bukan sekadar kitab fikih. Ia adalah pintu gerbang menuju pemahaman Islam yang benar dalam aspek ibadah. Kitab ini adalah warisan berharga yang menjadi fondasi bagi generasi Muslim Nusantara dalam menjalankan ajaran agama dengan benar dan konsisten.

J. DAFTAR PUSTAKA

Bin Sumair, S. (2015). Safinatun Najah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

An-Nawawi al-Bantani, S. (2010). Kasyifatus Saja fi Syarhi Safinatun Naja. Surabaya: Al-Haramain.

An-Nawawi al-Jawi, M. (2012). Sulam al-Munajat. Surabaya: Al-Haramain.

Al-Ghazi, M. (2015). Fathul Qarib. Beirut: Dar al-Fikr.

Al-Malibari, Z. (2015). Fathul Mu’in. Beirut: Dar al-Fikr.

An-Nawawi, M. (2010). Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Beirut: Dar al-Fikr.

Az-Zuhaili, W. (2018). Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Damaskus: Dar al-Fikr.

Dhofier, Z. (2011). Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.

Bruinessen, M. van. (2015). Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat. Yogyakarta: Gading Publishing.

Azra, A. (2014). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana.

Steenbrink, K. (2018). Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Jakarta: LP3ES.

Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.

🏷️ 30 TAGS ARTIKEL

Safinatun Najah
Syekh Salim bin Sumair
kitab fikih
fikih dasar
mazhab Syafii
pesantren
kitab kuning
Kasyifatus Saja
Syekh Nawawi Banten
Sulam al-Munajat
thaharah
shalat
zakat
puasa
haji
wudhu
mandi wajib
tayamum
rukun shalat
shalat berjamaah
shalat jumat
shalat sunnah
zakat fitrah
puasa Ramadhan
rukun haji
umrah
pendidikan pesantren
kurikulum pesantren
ma’hadul mustaqbal
khazanah pesantren


  • Penulis: mahadulmustaqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less