SJR-13: Awal Mula Turunnya Wahyu di Gua Hira – Peristiwa Bersejarah yang Menandai Dimulainya Kenabian Muhammad SAW
- account_circle mahadulmustaqbal
- calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar

SJR-13: Awal Mula Turunnya Wahyu di Gua Hira

๐ผ๏ธ INFORMASI GAMBAR
Alt-text: Ilustrasi Gua Hira di Jabal Nur, Makkah, dengan suasana malam yang tenang. Di dalam gua, Nabi Muhammad SAW sedang bersimpuh menerima wahyu pertama dari Malaikat Jibril yang muncul dalam wujud cahaya.
Caption: Gua Hira menjadi saksi bisu peristiwa agung turunnya wahyu pertama Al-Qur’an. Dari tempat sederhana ini, dimulailah risalah Islam yang mengubah peradaban dunia.
Description: Infografis ini menggambarkan momen bersejarah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Bagian tengah memperlihatkan Gua Hira yang terletak di puncak Jabal Nur (Gunung Cahaya) dengan pintu gua menghadap ke arah langit malam. Di dalam gua yang sempit, sosok Nabi Muhammad SAW yang berusia 40 tahun sedang bersimpuh dalam posisi menerima wahyu, dengan cahaya terang yang melambangkan kehadiran Malaikat Jibril. Dari cahaya tersebut terpancar lima ayat pertama Surat Al-Alaq. Latar belakang memperlihatkan langit malam dengan bulan sabit dan bintang-bintang yang bersinar terang, melambangkan malam yang penuh berkah di bulan Ramadhan. Di kejauhan terlihat kota Makkah dengan rumah-rumah khas Arab yang gelap karena penduduknya sedang tertidur. Di bagian bawah infografis, terdapat keterangan: “17 Ramadhan, 13 Tahun Sebelum Hijrah (610 M)”, “Usia Nabi: 40 Tahun”, dan “Lokasi: Gua Hira, Jabal Nur, 5 km dari Makkah”. Di sisi kanan, terdapat balon teks berisi wahyu pertama: “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq”. Desain menggunakan warna-warna malam yang kontemplatif: biru gelap, ungu, dan emas untuk cahaya wahyu, menciptakan nuansa sakral dan penuh kemuliaan. Infografis ini bertujuan mengabadikan momen agung yang menjadi titik awal turunnya Al-Qur’an dan dimulainya risalah kenabian.
A. PENDAHULUAN: PERISTIWA AGUNG YANG MENGUBAH SEJARAH
Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Gua Hira merupakan momen paling bersejarah dalam peradaban Islam. Saat itulah, untuk pertama kalinya, Al-Qur’an diturunkan kepada manusia pilihan, menandai dimulainya risalah kenabian yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam [citation:1].
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an tentang kemuliaan malam diturunkannya Al-Qur’an:
ุฅููููุง ุฃููุฒูููููุงูู ููู ููููููุฉู ุงููููุฏูุฑู
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.” (QS. Al-Qadr: 1)
Para ulama sepakat bahwa peristiwa Nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an) terjadi pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah [citation:3][citation:5]:
ุดูููุฑู ุฑูู ูุถูุงูู ุงูููุฐูู ุฃููุฒููู ููููู ุงููููุฑูุขูู ููุฏูู ูููููููุงุณู ููุจููููููุงุชู ู ูููู ุงููููุฏูููฐ ููุงููููุฑูููุงูู
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185) [citation:5]
Mayoritas ulama menetapkan bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, tahun 13 sebelum Hijrah atau sekitar tahun 610 Masehi, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun [citation:2][citation:3][citation:6]. Penetapan ini berdasarkan isyarat Al-Qur’an pada Surah Al-Anfal ayat 41 yang menghubungkan tanggal peristiwa penting dengan waktu turunnya wahyu [citation:6].
Artikel ini akan mengupas tuntas peristiwa agung tersebut, mulai dari persiapan Nabi SAW sebelum menerima wahyu, proses turunnya wahyu pertama di Gua Hira, hingga peristiwa setelahnya yang menunjukkan dukungan dan konfirmasi dari orang-orang terdekat beliau.
B. BAB I: KEHIDUPAN NABI SEBELUM TURUNNYA WAHYU
1. Masa Persiapan Menuju Kenabian
Sebelum diangkat menjadi nabi, Allah SWT telah mempersiapkan Muhammad SAW melalui berbagai fase kehidupan. Beliau tumbuh sebagai anak yatim, kemudian menjadi penggembala, lalu pedagang yang sukses dan dikenal dengan gelar Al-Amin. Semua pengalaman ini membentuk kepribadian beliau yang mulia dan mempersiapkannya untuk menerima amanah besar sebagai rasul [citation:2].
2. Kebiasaan Bertahannuts di Gua Hira
Menjelang turunnya wahyu, Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan untuk menyendiri dan beribadah di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur (Gunung Cahaya), sekitar 5 kilometer dari kota Makkah [citation:2][citation:3]. Beliau melakukan tahannuts (beribadah) selama beberapa hari, membawa bekal kemudian kembali kepada Khadijah untuk mengambil bekal lagi [citation:2][citation:4].
Kebiasaan ini menunjukkan kegelisahan Nabi SAW terhadap kondisi masyarakat Makkah yang jauh dari nilai-nilai kebenaran, menyembah berhala, dan tenggelam dalam kemerosotan moral [citation:4]. Beliau merenung dan memanjatkan doa agar Yang Maha Esa mencerahkan dirinya dan kaumnya [citation:4].
3. Mimpi-Mimpi yang Menjadi Nyata
Syekh M. Ali As-Shabuni dalam kitabnya At-Tibyan fi Ulumil Qur’an menjelaskan bahwa sebelum peristiwa agung ini terjadi, beberapa petunjuk telah mengisyaratkan semakin dekatnya turun wahyu dan kenabian Rasulullah SAW. Sebagian tanda itu adalah mimpi Rasulullah yang disusul dengan peristiwa nyata sesuai dengan mimpinya [citation:3].
๐ Tanda-Tanda Mendekatnya Kenabian
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa awal mula wahyu yang diterima Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar (ru’ya shadiqah). Setiap kali beliau bermimpi, mimpi itu datang seperti cahaya subuh (falaq ash-shubh). Tidak ada mimpi beliau kecuali akan terjadi seperti apa yang beliau lihat [citation:3][citation:6].
C. BAB II: PERISTIWA TURUNNYA WAHYU PERTAMA DI GUA HIRA
1. Waktu dan Tempat Kejadian
Peristiwa agung ini terjadi pada malam 17 Ramadhan, tahun 610 Masehi, ketika Nabi Muhammad SAW sedang beruzlah (menyepi) di Gua Hira [citation:2][citation:3]. Saat itu beliau berusia genap 40 tahun, usia yang dianggap sebagai puncak kematangan dan kesempurnaan akal [citation:3].
2. Kedatangan Malaikat Jibril
Tiba-tiba, Malaikat Jibril AS datang kepadanya membawa wahyu. Jibril muncul dalam wujud yang sesungguhnya dan berkata, “Iqra!” (Bacalah!).
Rasulullah SAW menjawab, “Mฤ ana bi qฤri'” (Aku tidak bisa membaca / Aku bukanlah seorang pembaca).
Kemudian Jibril memeluk Rasulullah SAW erat-erat hingga beliau merasa kepayahan, lalu melepaskannya dan berkata lagi, “Iqra!” Rasulullah kembali menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril memeluknya lagi hingga tiga kali. Setiap kali memeluk, perasaan yang sama dialami Rasulullah [citation:2][citation:3][citation:4].
3. Wahyu Pertama: Surah Al-Alaq Ayat 1-5
Setelah tiga kali memeluk, pada kali ketiga Jibril membacakan wahyu pertama yang akan menjadi ayat-ayat Al-Qur’an yang pertama turun [citation:2][citation:3][citation:5]:
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5) [citation:4]
4. Perbedaan Pendapat tentang Wahyu Pertama
Para ulama berbeda pendapat mengenai ayat yang pertama kali turun. Sebagian ulama berpendapat bahwa wahyu pertama adalah Surah Al-Muddatstsir, berdasarkan riwayat Jabir bin Abdullah RA dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Namun pendapat yang lebih kuat dan didukung mayoritas ulama adalah Surah Al-Alaq ayat 1-5 sebagaimana riwayat Aisyah RA [citation:3].
Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa pendapat yang sahih adalah pendapat yang mengatakan Surah Al-Alaq sebagai wahyu pertama, sebagaimana riwayat Aisyah dalam Shahih Bukhari, Muslim, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi. Pendapat ini juga didukung oleh riwayat dari Abu Musa Al-Asy’ari, Ubaid bin Umair, Mujahid, dan Az-Zuhri [citation:3].
Perbedaan ini dapat dikompromikan dengan pemahaman bahwa Surah Al-Alaq ayat 1-5 adalah wahyu pertama yang turun pada masa kenabian (nubuwwah), sementara Surah Al-Muddatstsir adalah surat utuh pertama yang turun setelah masa fatrah (terhentinya wahyu sementara) atau wahyu pertama yang turun pada masa kerasulan (risalah) [citation:3].
D. BAB III: PERISTIWA SETELAH TURUNNYA WAHYU
1. Kondisi Rasulullah Setelah Menerima Wahyu
Setelah peristiwa dahsyat itu, Rasulullah SAW pulang menemui istrinya, Khadijah RA, dalam keadaan gemetar dan ketakutan. Beliau berselimut dan meminta Khadijah untuk menyelimutinya [citation:2].
ุฒูู ูููููููู ุฒูู ูููููููู
“Selimuti aku, selimuti aku.” (HR. Bukhari) [citation:2]
Khadijah dengan penuh kasih sayang menenangkan suaminya. Beliau kemudian menceritakan apa yang dialaminya di Gua Hira. Khadijah RA, wanita mulia yang dikenal cerdas dan bijaksana, segera memberikan dukungan moral dengan kata-kata yang sangat terkenal [citation:2]:
ูููููุง ููุงูููููู ู ูุง ููุฎูุฒูููู ุงูููููู ุฃูุจูุฏูุงุ ุฅูููููู ููุชูุตููู ุงูุฑููุญูู ูุ ููุชูุญูู ููู ุงูููููููุ ููุชูููุณูุจู ุงููู ูุนูุฏููู ูุ ููุชูููุฑูู ุงูุถููููููุ ููุชูุนูููู ุนูููู ููููุงุฆูุจู ุงููุญูููู
“Sekali-kali tidak, demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu selamanya. Sungguh engkau adalah orang yang menyambung silaturahmi, memikul beban (orang lain), memberi kepada yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang berada dalam kesulitan.” [citation:2]
2. Konsultasi dengan Waraqah bin Naufal
Untuk memastikan kebenaran apa yang dialami Rasulullah, Khadijah kemudian membawa beliau bertemu dengan sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah seorang pendeta Nasrani yang telah mempelajari kitab-kitab suci terdahulu dan mengetahui bahasa Ibrani [citation:2].
Setelah mendengar penjelasan Rasulullah, Waraqah berkata [citation:2]:
“Ini adalah An-Namus (Jibril) yang pernah turun kepada Musa. Sungguh, aku berharap dapat hidup hingga masa ketika kaummu akan mengusirmu.”
Rasulullah terkejut dan bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya, tidak pernah ada seorang pun yang membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali akan dimusuhi. Seandainya aku hidup sampai masa itu, aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sekuat-kuatnya.” [citation:2]
3. Masa Fatrah (Terhentinya Wahyu Sementara)
Setelah peristiwa di Gua Hira, wahyu berhenti turun untuk sementara waktu. Masa ini disebut dengan fatrah al-wahyi. Lamanya masa fatrah diperselisihkan ulama, ada yang mengatakan 40 hari, ada pula yang mengatakan 2-3 tahun [citation:3].
Pada masa ini, Rasulullah SAW sangat bersedih dan rindu akan datangnya wahyu kembali. Bahkan, beliau beberapa kali pergi ke Gua Hira dengan harapan Jibril akan datang lagi. Namun setelah masa fatrah, turunlah wahyu kedua yaitu Surah Al-Muddatstsir ayat 1-7 yang memerintahkan beliau untuk bangkit berdakwah [citation:3].
E. BAB IV: MAKNA DAN HIKMAH TURUNNYA WAHYU PERTAMA
1. Perintah Membaca (Iqra’) sebagai Fondasi Peradaban
Wahyu pertama diawali dengan perintah iqra’ (bacalah). Ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan literasi dalam Islam. Perintah membaca menjadi gerbang awal dan landasan fundamental dalam menuntut ilmu. Seorang yang beriman harus senantiasa belajar, membaca, dan mengkaji alam semesta sebagai ayat-ayat Allah [citation:4].
2. Tiga Landasan Utama dalam Surah Al-Alaq Ayat 1
Para ulama tafsir menyebutkan bahwa Surah Al-Alaq ayat 1 mengandung tiga landasan utama peradaban Islam [citation:4]:
- Iqra’ (Literasi): Perintah membaca yang menegaskan bahwa ilmu pengetahuan memiliki posisi sangat penting dalam Islam, bahkan berada tepat setelah iman.
- Bismirabbika (Transendensi): Aktivitas membaca harus dilandasi dengan nama Allah, menunjukkan bahwa ilmu dan iman memiliki keterkaitan yang erat. Ilmu pengetahuan harus dilandasi hubungan ketuhanan agar menjadi kebaikan dan manfaat.
- Alladzi Khalaq (Kreasi-Inovasi): Setelah mampu memperoleh ilmu dan meningkatkan hubungan ketuhanan, luaran yang diharapkan adalah inovasi atau penciptaan sesuatu yang bermanfaat, sebagaimana sifat Allah Yang Maha Menciptakan.
3. Penghargaan terhadap Martabat Manusia
Ayat kedua menyebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dari ‘alaq (segumpal darah). Ini menunjukkan bahwa meskipun manusia diciptakan dari zat yang hina, Allah mengangkat martabatnya dengan ilmu dan peradaban. Manusia memiliki potensi untuk mencapai derajat setinggi-tingginya melalui ilmu dan iman [citation:1][citation:4].
4. Allah Sebagai Sumber Ilmu
Ayat 3-5 menegaskan bahwa Allah lah Yang Maha Mulia dan Yang mengajar manusia dengan pena. Ini menunjukkan bahwa sumber segala ilmu adalah Allah. Manusia hanya menerima dan mengembangkan apa yang telah diajarkan Allah. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh sombong dengan ilmunya, karena semua berasal dari Allah [citation:1][citation:4].
F. BAB V: KEUTAMAAN NUZULUL QUR’AN
| No | Keutamaan | Keterangan |
|---|---|---|
| 1 | Lebih Baik dari 1000 Bulan | Malam Nuzulul Qur’an disebut sebagai malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Qadr ayat 3. Amalan dan ibadah yang dilakukan pada malam ini lebih baik dari amalan yang dilakukan selama seribu bulan [citation:5]. |
| 2 | Diampuni Segala Dosa | Orang yang menghidupkan malam Nuzulul Qur’an dengan ibadah akan mendapatkan ampunan dosa dari Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah tentang keutamaan Lailatul Qadar [citation:5]. |
| 3 | Malam Penuh Berkah | Allah SWT berfirman dalam Surah Ad-Dukhan ayat 3 bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an pada malam yang diberkahi. Malam Nuzulul Qur’an menjadi malam yang penuh keberkahan karena menjadi awal turunnya petunjuk bagi umat manusia [citation:5]. |
| 4 | Kelahiran Umat Terbaik | Peristiwa Nuzulul Qur’an menandai awal kelahiran umat Islam sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Oleh karena itu, bulan Ramadhan menjadi bulan pengakrab diri dengan Al-Qur’an, memperbanyak tilawah, dan mentadabburi maknanya [citation:6]. |
G. BAB VI: PELAJARAN DAN HIKMAH DARI PERISTIWA TURUNNYA WAHYU
1. Kegigihan dalam Beribadah
Nabi Muhammad SAW dengan gigih mendaki Jabal Nur untuk beribadah di Gua Hira, meskipun pendakian itu cukup berat dan melelahkan [citation:2]. Ini mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, tidak hanya menjalankan yang wajib tetapi juga memperbanyak amalan sunnah [citation:2].
2. Keteguhan Pendirian
Di tengah masyarakat yang menyembah berhala, Nabi Muhammad SAW tetap teguh beribadah kepada Allah SWT. Beliau tidak terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya [citation:2]. Ini mengajarkan kita untuk memiliki pendirian yang teguh dan tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan yang buruk.
3. Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup
Peristiwa Nuzulul Qur’an mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia [citation:2]. Kita harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an adalah kewajiban setiap muslim [citation:2].
4. Menuntut Ilmu dan Membaca sebagai Tabiat
Wahyu pertama adalah ‘iqra’ yang berarti bacalah. Ini mengajarkan kita untuk tekun menuntut ilmu dan menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari [citation:2][citation:4]. Seorang muslim yang baik adalah yang senantiasa belajar sepanjang hayat.
5. Merujuk kepada yang Lebih Arif
Ketika menghadapi situasi yang membingungkan, Rasulullah SAW dan Khadijah RA tidak mengambil kesimpulan sendiri, tetapi merujuk kepada Waraqah bin Naufal yang lebih mengetahui tentang kitab-kitab suci [citation:2]. Ini mengajarkan kita untuk bertanya kepada ahli ketika menghadapi masalah yang tidak kita pahami.
H. KESIMPULAN
Peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Hira merupakan momen agung yang menandai dimulainya risalah kenabian Muhammad SAW. Pada malam 17 Ramadhan, saat beliau berusia 40 tahun, Malaikat Jibril datang membawa lima ayat pertama Surah Al-Alaq, yang menjadi wahyu pertama dalam sejarah Islam.
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan beberapa poin penting:
- Sebelum turun wahyu, Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan bertahannuts (beribadah) di Gua Hira, Jabal Nur, merenungkan kondisi masyarakat Makkah yang jauh dari kebenaran.
- Wahyu pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan, tahun 610 M, saat Nabi berusia 40 tahun, ditandai dengan kedatangan Malaikat Jibril yang memerintahkan “Iqra!” (bacalah).
- Wahyu pertama adalah Surah Al-Alaq ayat 1-5, yang menegaskan pentingnya membaca, ilmu pengetahuan, dan pengakuan bahwa Allah adalah sumber segala ilmu.
- Setelah menerima wahyu, Nabi pulang dalam keadaan gemetar dan ditenangkan oleh Khadijah RA, kemudian dikonfirmasi kebenarannya oleh Waraqah bin Naufal.
- Peristiwa ini mengandung makna mendalam: perintah membaca sebagai fondasi peradaban, pentingnya literasi, hubungan ilmu dan iman, serta dorongan untuk berinovasi dan berkarya.
- Nuzulul Qur’an memiliki keutamaan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam penuh berkah, dan menjadi momentum kelahiran umat terbaik.
- Pelajaran yang dapat dipetik: kegigihan beribadah, keteguhan pendirian, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, menuntut ilmu, dan merujuk kepada yang lebih arif.
Semoga peristiwa agung ini semakin meningkatkan kecintaan kita kepada Al-Qur’an, menjadikannya sebagai pedoman hidup, dan memotivasi kita untuk senantiasa membaca, mempelajari, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
ุฑูุจูู ุฒูุฏูููู ุนูููู ูุง
“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thaha: 114)
I. DAFTAR PUSTAKA
IKIM. (2013). Ramadan, Science and the Miracle of the Quran. (ikim.gov.my) [citation:1]
Pandai. (2025). Penerimaan Wahyu Nabi Muhammad SAW – Sirah Pandai. (pandai.org) [citation:2]
NU Online Jatim. (2022). Penjelasan Lengkap tentang Peristiwa Nuzulul Qur’an. (jatim.nu.or.id) [citation:3]
Kabar Tasikmalaya. (2025). Syiar Ramadhan: Memaknai Wahyu Pertama dalam Alquran. (kabartasikmalaya.pikiran-rakyat.com) [citation:4]
Asy-Syifa’ Qur’an. (2024). Bongkar Sejarah Nuzulul Qur’an dan Keutamaannya. (asysyifaquran.id) [citation:5]
Bimas Islam Kemenag Banyuwangi. (2020). Hadis Harian 17: Wahyu Pertama, Awal Kelahiran Umat Muhammad SAW. (bimaisbanyuwangi.com) [citation:6]
Al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman. (2002). Ar-Rahiq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah). Penerbit Darus Salam.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2003). Al-Bidayah wan Nihayah. Penerbit Dar al-Fikr.
As-Shabuni, M. Ali. (2016). At-Tibyan fi Ulumil Qur’an. Darul Mawahib al-Islamiyyah. [citation:3]
Al-Qaththan, Manna’. (tanpa tahun). Mabahits fi Ulumil Qur’an. Darul Ilmi wal Iman. [citation:3]
As-Suyuthi, Jalaluddin. (2006). Al-Itqan fi Ulumil Qur’an. Darul Hadits. [citation:3]
Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Jika ada konten atau gambar yang salah, mohon dimaklumi dan terbuka untuk perbaikan. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.
- Penulis: mahadulmustaqbal

Saat ini belum ada komentar