Breaking News
light_mode
Istilah Penting
Beranda » SEJARAH » SJR-24: Hijrah ke Habasyah (Etiopia) Pertama – Eksodus Pertama Umat Islam Mencari Perlindungan di Negeri Najasyi yang Adil

SJR-24: Hijrah ke Habasyah (Etiopia) Pertama – Eksodus Pertama Umat Islam Mencari Perlindungan di Negeri Najasyi yang Adil

  • account_circle mahadulmustaqbal
  • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
  • visibility 30
  • comment 0 komentar






SJR-24: Hijrah ke Habasyah (Etiopia) Pertama – Ma’hadul Mustaqbal


🖼️ INFORMASI GAMBAR

Alt-text: Ilustrasi para sahabat yang berlayar dengan perahu kecil menyeberangi Laut Merah menuju Habasyah, dengan latar belakang pemandangan pantai dan istana Najasyi yang ramah menyambut mereka.

Caption: Hijrah ke Habasyah adalah hijrah pertama dalam sejarah Islam. Sebanyak 12 laki-laki dan 4 perempuan berlayar menyeberangi Laut Merah untuk mencari perlindungan dari siksaan Quraisy. Mereka disambut dengan baik oleh Najasyi (raja) Habasyah yang adil, yang kemudian melindungi mereka dari utusan Quraisy yang ingin membawa mereka kembali.

Description: Infografis ini menjelaskan tentang hijrah pertama ke Habasyah: latar belakang dan penyebab hijrah, daftar muhajirin pertama, perjalanan menuju Habasyah, sambutan Najasyi, upaya Quraisy mengembalikan mereka, pidato Ja’far bin Abi Thalib yang menggetarkan, keputusan Najasyi melindungi kaum muslimin, serta hikmah dan pelajaran dari peristiwa ini.

A. PENDAHULUAN: LANGKAH PERTAMA MENCARI PERLINDUNGAN

Hijrah ke Habasyah (Etiopia) adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam yang seringkali luput dari perhatian dibandingkan hijrah ke Madinah. Padahal, hijrah inilah yang menjadi eksodus pertama umat Islam meninggalkan tanah air demi mempertahankan iman mereka. Pada tahun kelima kenabian, siksaan Quraisy terhadap kaum muslimin semakin memuncak. Rasulullah SAW, yang saat itu masih berada di bawah perlindungan pamannya Abu Thalib, tidak bisa berbuat banyak untuk melindungi para sahabat yang lemah. Maka beliau mengizinkan mereka untuk berhijrah ke Habasyah, sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan tidak pernah menzalimi siapapun. Di sinilah dimulainya babak baru dalam perjuangan dakwah Islam: mencari perlindungan di negeri lain sambil tetap mempertahankan akidah.

Artikel SJR-24 ini akan membahas secara mendalam tentang hijrah pertama ke Habasyah: latar belakang dan penyebab hijrah, daftar para muhajirin pertama, perjalanan menuju negeri yang asing, sambutan hangat Najasyi (raja Habasyah), upaya Quraisy mengembalikan mereka dengan mengirim utusan, pidato Ja’far bin Abi Thalib yang menggugah hati Najasyi, serta hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa ini. Semoga menjadi inspirasi bagi kita tentang keteguhan iman para sahabat dan pentingnya mencari perlindungan ketika kebenaran terancam.

Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat ketika mengizinkan mereka hijrah: “Sungguh, di negeri Habasyah terdapat seorang raja yang tidak menzalimi seorang pun di sisinya. Pergilah kalian ke sana hingga Allah memberi jalan keluar.” (HR. Ahmad)

B. BAB I: LATAR BELAKANG HIJRAH KE HABASYAH

1. Kondisi Umat Islam Setelah Dakwah Terbuka

Setelah Rasulullah SAW berdakwah secara terbuka kepada seluruh penduduk Makkah, siksaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat. Mereka yang memiliki perlindungan dari kabilah yang kuat masih relatif aman. Namun kaum muslimin yang lemah, seperti budak-budak yang masuk Islam dan orang-orang yang tidak memiliki kabilah yang melindungi, menjadi sasaran utama siksaan. Bilal bin Rabah, keluarga Yasir, Khabbab bin Al-Arat, dan banyak lainnya mengalami siksaan yang sangat berat. Rasulullah SAW sangat prihatin melihat kondisi ini, namun beliau sendiri juga dalam tekanan karena pamannya Abu Thalib mulai mendapat tekanan dari Quraisy untuk menyerahkan beliau.

2. Izin Hijrah dari Rasulullah SAW

Dalam kondisi yang semakin sulit, Rasulullah SAW memberikan izin kepada para sahabat untuk berhijrah ke negeri lain demi menyelamatkan iman mereka. Beliau menyebutkan Habasyah sebagai tujuan karena dikenal memiliki raja yang adil dan tidak menzalimi siapapun. Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyyah meriwayatkan: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya di negeri Habasyah terdapat seorang raja yang tidak menzalimi seorang pun. Pergilah kalian ke sana hingga Allah memberi jalan keluar dari apa yang kalian alami.'” Izin ini diberikan pada tahun kelima kenabian, sekitar 615 Masehi.

📌 Mengapa Habasyah Dipilih?

Habasyah (Etiopia) dipilih karena beberapa alasan: (1) Berada di seberang Laut Merah, cukup jauh dari Makkah sehingga Quraisy sulit menjangkau; (2) Dipimpin oleh Najasyi (raja) yang dikenal adil dan beragama Kristen yang menghormati agama lain; (3) Tidak memiliki hubungan politik dengan Quraisy sehingga tidak mudah terpengaruh tekanan mereka; (4) Secara geografis, Habasyah adalah negeri yang aman dan makmur.

C. BAB II: HIJRAH PERTAMA (12 LAKI-LAKI DAN 4 PEREMPUAN)

1. Daftar Para Muhajirin Pertama

Hijrah pertama ke Habasyah terdiri dari 12 laki-laki dan 4 perempuan. Mereka adalah:

  • Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah binti Rasulullah SAW
  • Abu Hudzaifah bin Utbah dan istrinya Sahlah binti Suhail
  • Az-Zubair bin Al-Awwam
  • Mus’ab bin Umair
  • Abdurrahman bin Auf
  • Abu Salamah bin Abdul Asad dan istrinya Ummu Salamah
  • Utsman bin Mazh’un
  • Amir bin Rabi’ah dan istrinya Laila binti Abu Hatsmah
  • Suhaib bin Sinan Ar-Rumi
  • Abdullah bin Mas’ud

Mereka berangkat secara sembunyi-sembunyi menuju pelabuhan Syu’aibah di tepi Laut Merah, lalu menyeberang dengan perahu menuju Habasyah. Perjalanan ini penuh risiko karena harus menghindari kejaran Quraisy.

2. Perjalanan Menuju Habasyah

Para muhajirin berangkat secara sembunyi-sembunyi, ada yang berjalan kaki dan ada yang mengendarai unta. Mereka berkumpul di pelabuhan Syu’aibah dan menyeberangi Laut Merah dengan perahu kecil. Setelah sampai di Habasyah, mereka disambut dengan baik oleh penduduk setempat dan diberikan tempat tinggal yang layak. Mereka tinggal di negeri itu dengan aman, dapat beribadah dengan tenang, dan menjalin hubungan baik dengan penduduk setempat.

📌 Peran Utsman bin Affan dan Ruqayyah

Di antara para muhajirin, Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah (putri Rasulullah SAW) adalah yang paling menonjol. Kepergian mereka sangat menyedihkan Rasulullah SAW, namun beliau merelakan demi keselamatan mereka. Utsman kemudian dikenal sebagai salah satu sahabat terkaya yang dermawan dan menjadi khalifah ketiga setelah Abu Bakar dan Umar.

D. BAB III: UPAYA QURAISY MENGEMBALIKAN MUHAJIRIN

1. Pengiriman Utusan Quraisy ke Habasyah

Ketika Quraisy mengetahui bahwa kaum muslimin telah berhijrah ke Habasyah dan hidup dengan aman, mereka menjadi sangat khawatir. Mereka takut Islam akan menyebar ke luar Makkah dan semakin kuat. Maka mereka mengirim dua orang utusan terkemuka: Amr bin Al-Ash (yang belum masuk Islam saat itu) dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka membawa hadiah-hadiah berharga untuk Najasyi dan para uskupnya, dengan tujuan agar Najasyi menyerahkan para muhajirin kepada mereka.

2. Strategi Amr bin Al-Ash

Amr bin Al-Ash dikenal sebagai diplomat yang cerdik. Ia memberikan hadiah kepada setiap uskup dan meminta mereka membujuk Najasyi untuk menyerahkan para muhajirin. Kemudian ia menghadap Najasyi dan berkata: “Wahai raja, sesungguhnya telah datang kepada negerimu beberapa orang budak kami yang melarikan diri dari agama kami. Mereka telah meninggalkan agama mereka dan tidak masuk ke dalam agama kalian. Mereka telah membuat-buat agama sendiri. Kaum terhormat dari kaum kami mengutus kami untuk meminta mereka kembali. Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan tentang Nabi mereka.”

📖 Pidato Ja’far bin Abi Thalib yang Menggetarkan

Najasyi memanggil para muhajirin dan bertanya tentang ajaran Islam. Ja’far bin Abi Thalib, saudara sepupu Rasulullah SAW, maju ke depan dan berpidato:

“Wahai raja, kami adalah kaum yang dahulu dalam kebodohan. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan perbuatan keji, memutus silaturahmi, dan menindas tetangga. Maka Allah mengutus kepada kami seorang rasul dari kalangan kami sendiri. Kami mengenal nasabnya, kejujurannya, dan amanahnya. Ia menyeru kami untuk mengesakan Allah, melarang kami menyembah berhala, menyuruh kami berkata jujur, menepati amanah, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, dan menjauhi hal-hal yang haram. Kami beriman kepadanya, membenarkan ajarannya, dan mengikuti apa yang dibawanya. Lalu kaum kami memerangi kami, menyiksa kami, dan memaksa kami meninggalkan agama kami. Maka kami datang ke negerimu untuk mencari perlindungan.”

Najasyi bertanya: “Apakah kalian membawa sesuatu dari apa yang dibawa oleh Nabi kalian?” Ja’far menjawab: “Ya.” Lalu ia membacakan awal surat Maryam yang menceritakan tentang Nabi Isa AS. Najasyi dan para uskupnya menangis mendengar bacaan tersebut. Najasyi berkata: “Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa Isa berasal dari cahaya yang sama.” Ia kemudian menolak permintaan Amr bin Al-Ash dan mengembalikan hadiah-hadiah yang dibawa. Para muhajirin pun hidup aman di bawah perlindungan Najasyi.

3. Penolakan Najasyi terhadap Utusan Quraisy

Najasyi dengan tegas menolak permintaan Amr bin Al-Ash. Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian. Mereka telah memilih tempat perlindungan di negeriku dan aku lebih memilih mereka daripada kalian.” Kemudian ia mengembalikan hadiah yang dibawa oleh utusan Quraisy. Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah pulang dengan tangan hampa. Inilah kemenangan diplomatik pertama umat Islam di luar jazirah Arab.

E. BAB IV: PERAN PENTING NAJASYI DALAM SEJARAH ISLAM

👑 Siapa Najasyi?

Najasyi (Ashamah bin Abjar) adalah raja Kerajaan Aksum di Habasyah (Etiopia) pada abad ke-7 M. Ia dikenal sebagai raja yang adil, bijaksana, dan menghormati agama. Ia beragama Kristen (Nasrani), namun tidak fanatik dan bersikap toleran terhadap pemeluk agama lain. Namanya diabadikan dalam sejarah Islam sebagai pelindung pertama kaum muslimin di luar Arab.

🕌 Hubungan Najasyi dengan Rasulullah SAW

Setelah peristiwa hijrah, Rasulullah SAW sangat menghormati Najasyi. Beliau bahkan pernah menshalatkan jenazah Najasyi secara gaib (shalat ghaib) ketika mendengar kabar wafatnya pada tahun 9 H. Ini adalah kehormatan yang tidak diberikan kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya saudara kalian, Najasyi, telah wafat.” (HR. Bukhari & Muslim).

📜 Najasyi Masuk Islam?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Najasyi masuk Islam. Ia mengakui kebenaran ajaran Nabi Muhammad SAW setelah mendengar pidato Ja’far dan membaca surat Maryam. Meskipun ia tidak berhijrah dan tetap memerintah di Habasyah, ia dianggap sebagai salah seorang sahabat yang mulia. Doa Rasulullah SAW untuknya adalah bukti keislamannya.

💡 Teladan dari Najasyi: Keadilan Lintas Agama

Kisah Najasyi menunjukkan bahwa Islam mengajarkan toleransi dan keadilan kepada siapapun, tanpa memandang agama. Najasyi yang beragama Kristen justru menjadi pelindung umat Islam ketika mereka teraniaya. Ini menjadi bukti bahwa hubungan antar agama bisa dibangun di atas prinsip keadilan dan kemanusiaan.

F. BAB V: HIKMAH DAN PELAJARAN DARI HIJRAH KE HABASYAH

1. Mencari Perlindungan Adalah Sunnah

Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Ketika kondisi semakin sulit, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk mencari perlindungan di negeri lain. Ini menunjukkan bahwa umat Islam diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk meninggalkan tempat yang membahayakan demi menjaga agama dan keselamatan.

2. Diplomasi dan Komunikasi yang Baik

Pidato Ja’far bin Abi Thalib di hadapan Najasyi adalah contoh komunikasi yang efektif. Ia menjelaskan ajaran Islam dengan jujur, menyebutkan persamaan dengan ajaran Nabi Isa AS, dan tidak mencela agama lain. Ini adalah strategi dakwah yang bijaksana.

3. Keadilan Akan Menang Meski Berat

Najasyi memilih kebenaran meskipun harus menolak hadiah dari Quraisy. Keadilannya menjadi sebab ia dihormati oleh Rasulullah SAW dan umat Islam hingga hari ini.

4. Jangan Putus Asa dari Pertolongan Allah

Meskipun siksaan Quraisy sangat berat, Allah memberikan jalan keluar berupa perlindungan dari Najasyi. Ini adalah bukti bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan.

5. Ukhuwah Islamiyah Melampaui Batas Wilayah

Hijrah ke Habasyah memperkenalkan Islam ke luar Jazirah Arab. Ini adalah langkah awal penyebaran Islam ke berbagai penjuru dunia.

G. BAB VI: PERBANDINGAN HIJRAH PERTAMA DAN KEDUA KE HABASYAH

Aspek Hijrah Pertama Hijrah Kedua
Waktu Tahun ke-5 kenabian (sekitar 615 M) Tahun ke-6-7 kenabian (setelah hijrah pertama)
Jumlah 12 laki-laki, 4 perempuan (16 orang) 83 laki-laki, 18 perempuan (101 orang)
Pemimpin Utsman bin Affan (tidak resmi, kelompok kecil) Ja’far bin Abi Thalib sebagai pemimpin rombongan
Latar Belakang Siksaan Quraisy terhadap kaum muslimin yang lemah Siksaan semakin berat, perlindungan Abu Thalib mulai melemah
Peristiwa Penting Pengiriman utusan Quraisy (Amr bin Al-Ash) dan pidato Ja’far Pidato Ja’far yang lebih detail, perlindungan Najasyi semakin kuat

Dr. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum berkata: “Hijrah ke Habasyah adalah langkah cerdas Rasulullah SAW untuk menyelamatkan dakwah Islam. Dengan berhijrah, kaum muslimin mendapatkan perlindungan, sementara dakwah Islam juga mulai dikenal di luar Jazirah Arab. Ini adalah awal dari penyebaran Islam ke berbagai penjuru dunia.”

H. KESIMPULAN

Hijrah ke Habasyah adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menjadi eksodus pertama umat Islam mencari perlindungan dari siksaan Quraisy. Dari peristiwa ini dapat disimpulkan: (1) Hijrah pertama terjadi pada tahun kelima kenabian, terdiri dari 12 laki-laki dan 4 perempuan; (2) Mereka menyeberangi Laut Merah menuju Habasyah yang dipimpin oleh Najasyi yang adil; (3) Quraisy mengirim utusan (Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah) untuk membawa mereka kembali, namun Najasyi menolak setelah mendengar pidato Ja’far bin Abi Thalib; (4) Pidato Ja’far yang membacakan surat Maryam membuat Najasyi menangis dan mengakui kebenaran Islam; (5) Najasyi kemudian masuk Islam dan menjadi pelindung kaum muslimin hingga wafat; (6) Hikmah dari peristiwa ini meliputi: mencari perlindungan adalah sunnah, pentingnya diplomasi, keadilan akan menang, dan jangan putus asa dari pertolongan Allah. Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai umat yang teguh dalam iman seperti para sahabat, dan selalu mendapatkan perlindungan-Nya di manapun kita berada. Aamiin.

📌 Renungan Akhir

Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41). Hijrah adalah bukti kesungguhan dalam mempertahankan iman, dan Allah pasti memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang berhijrah karena-Nya.

وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Dan barangsiapa keluar dari rumahnya dengan berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah.” (QS. An-Nisa’: 100)

I. DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (n.d.). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Al-Fikr.

Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj. (n.d.). Shahih Muslim. Beirut: Dar Al-Fikr.

Ahmad bin Hanbal. (n.d.). Musnad Ahmad. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah.

Ibnu Hisyam, Abdul Malik. (1990). Sirah Nabawiyyah. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (1999). Al-Bidayah wa An-Nihayah. Beirut: Dar Al-Fikr.

Ibnu Sa’d, Muhammad. (1995). Thabaqat al-Kubra. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

Al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman. (2002). Ar-Rahiq al-Makhtum. Riyadh: Dar as-Salam.

Al-Asqalani, Ibnu Hajar. (2000). Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. (1999). Riyadhus Shalihin. Kairo: Dar Al-Hadits.

Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: LPMQ.

NU Online. (2023). “Kisah Hijrah ke Habasyah: Perlindungan Pertama Umat Islam.” https://islam.nu.or.id/

Ma’hadul Mustaqbal. (2025). Kurikulum Sirah Nabawiyyah: Materi Hijrah ke Habasyah. Artikel internal.

Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, Tim Pengembangan Konten Pondok Pesantren Online Masa Depan Ma’hadul Mustaqbal dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.

🏷️ 30 TAGS ARTIKEL

hijrah ke habasyah
hijrah pertama islam
najasyi
ja’far bin abi thalib
utsman bin affan
ruqayyah binti rasulullah
habasyah etiopia
asmah bin abjar
amr bin al ash
pidato ja’far
surat maryam
perlindungan najasyi
muhajirin pertama
sejarah islam awal
sirah nabawiyyah
ibnu hisyam
ar rahiq al makhtum
abu salamah
ummu salamah
abdurrahman bin auf
zubair bin awwam
mus’ab bin umair
suhaib ar rumi
abdullah bin mas’ud
hijrah karena allah
toleransi islam
keadilan najasyi
ma’hadul mustaqbal
pondok pesantren
sirah nabi


  • Penulis: mahadulmustaqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less