Breaking News
light_mode
Istilah Penting
Beranda » SEJARAH » SJR-78: Sejarah Kesultanan Samudera Pasai – Kejayaan, Pemerintahan, dan Warisan

SJR-78: Sejarah Kesultanan Samudera Pasai – Kejayaan, Pemerintahan, dan Warisan

  • account_circle mahadulmustaqbal
  • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
  • visibility 8
  • comment 0 komentar






SJR-78: Sejarah Kesultanan Samudera Pasai – Kejayaan, Pemerintahan, dan Warisan – Ma’hadul Mustaqbal


SJR-78: Sejarah Kesultanan Samudera Pasai – Kejayaan, Pemerintahan, dan Warisan

🖼️ INFORMASI GAMBAR

Alt-text: Ilustrasi Kesultanan Samudera Pasai di pesisir timur Aceh, menampilkan pelabuhan yang ramai dengan kapal-kapal dagang, Masjid Pasai yang megah, kompleks makam Sultan Malik as-Saleh, dan aktivitas perdagangan rempah.

Caption: Sejarah Kesultanan Samudera Pasai: mengulas secara komprehensif tentang sejarah berdirinya, sistem pemerintahan, puncak kejayaan, hubungan diplomatik, serta warisan Kesultanan Samudera Pasai (1267-1521 M) sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Description: Infografis tentang Kesultanan Samudera Pasai yang mencakup: (1) Latar belakang berdirinya kesultanan, (2) Daftar sultan-sultan Pasai (Malik as-Saleh hingga Zainal Abidin VI), (3) Sistem pemerintahan (sultan, wazir, qadi, mufti), (4) Struktur sosial dan ekonomi, (5) Puncak kejayaan pada masa Malik azh-Zhahir I, (6) Hubungan diplomatik dengan Malaka, Majapahit, Cina, dan India, (7) Perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra (Hikayat Raja-raja Pasai), (8) Mata uang dirham Pasai, (9) Kemunduran dan keruntuhan akibat ekspansi Aceh dan Portugis, (10) Warisan Pasai bagi peradaban Islam Nusantara.

A. PENDAHULUAN: PELOPOR KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA

Kesultanan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara yang memiliki bukti sejarah yang kuat dan tidak terbantahkan. Berdiri pada pertengahan abad ke-13 M (sekitar 1267 M) di pesisir timur Aceh, Pasai menjadi pelopor bagi berdirinya kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara seperti Malaka, Demak, Cirebon, Banten, Mataram, Makassar, dan Ternate. Sebelum Pasai, memang sudah ada komunitas Muslim di Barus (Sumatera Utara) sejak abad ke-11 M, namun mereka belum membentuk kerajaan. Pasailah yang pertama kali melembagakan Islam sebagai agama resmi negara dengan sistem pemerintahan yang terstruktur.

Selama lebih dari 250 tahun (1267-1521 M), Samudera Pasai memainkan peran sentral dalam perdagangan internasional, penyebaran Islam, dan pengembangan kebudayaan Melayu-Islam. Para sultan Pasai adalah pelindung ilmu pengetahuan dan kesenian. Bahasa Melayu berkembang pesat sebagai lingua franca di bawah patronase kesultanan ini. Karya sastra seperti Hikayat Raja-raja Pasai menjadi salah satu prosa Melayu tertua yang masih lestari.

Artikel ini akan mengupas secara mendalam tentang sejarah Kesultanan Samudera Pasai: dari latar belakang berdirinya, para sultan yang memerintah, sistem pemerintahan, puncak kejayaan, hubungan diplomatik, hingga kemunduran dan keruntuhannya. Kita juga akan membahas warisan Pasai yang masih terasa hingga saat ini.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.” (QS. An-Nur: 55)

Samudera Pasai adalah bukti janji Allah kepada orang-orang beriman yang beramal saleh dan membangun peradaban.

B. LATAR BELAKANG BERDIRINYA KESULTANAN SAMUDERA PASAI

1. Kondisi Sumatera Sebelum Berdirinya Pasai

Sebelum abad ke-13 M, wilayah Sumatera didominasi oleh kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Kerajaan Sriwijaya (berpusat di Palembang) adalah yang terkuat, menguasai Selat Malaka dan sebagian besar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Namun, pada abad ke-11 M, Sriwijaya mulai melemah akibat serangan dari Kerajaan Colamandala (India Selatan) pada tahun 1025 M. Kerajaan Melayu (Dharmasraya) di Jambi juga mulai bangkit sebagai pesaing.

Pada saat yang sama, para pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan India mulai berdatangan ke pesisir Sumatera, terutama ke Barus (pusat kapur barus) dan Perlak (Peureulak). Mereka menikah dengan penduduk lokal, mendirikan pemukiman, dan menyebarkan Islam secara bertahap. Pada abad ke-12 M, muncul kerajaan kecil Perlak yang disebut-sebut sebagai kerajaan Islam pertama (meskipun bukti arkeologisnya lemah). Namun, Perlak tidak bertahan lama dan kemudian digantikan oleh Pasai.

2. Legenda Berdirinya Pasai (Versi Hikayat)

Menurut Hikayat Raja-raja Pasai, berdirinya Pasai bermula dari Merah Silu, seorang raja lokal yang masih beragama Hindu. Suatu malam, ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpinya, Nabi mengajarinya membaca syahadat. Keesokan harinya, Merah Silu masuk Islam dan berganti nama menjadi Malik as-Saleh (Raja yang Saleh). Ia kemudian mendirikan kerajaan Samudera Pasai dan menjadi sultan pertama.

Para sejarawan modern cenderung skeptis terhadap versi legendaris ini. Mereka meyakini bahwa Malik as-Saleh adalah tokoh nyata (terbukti dari batu nisannya yang bertanggal 1297 M), tetapi ia mungkin bukan raja lokal yang bermimpi bertemu Nabi. Sebaliknya, ia kemungkinan adalah seorang pedagang Muslim (mungkin dari Gujarat, Arab, atau Persia) yang menikah dengan putri bangsawan lokal dan kemudian mendirikan kerajaan. Ini adalah pola umum islamisasi di Nusantara.

3. Bukti Arkeologis Tertua

Bukti arkeologis terkuat berdirinya Pasai adalah batu nisan Sultan Malik as-Saleh yang ditemukan di Gampong Meunasah Meucat, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Batu nisan ini berangka tahun 696 H (1297 M) dan ditulis dalam bahasa Arab dengan huruf Kufi bergaya Gujarat. Ini membuktikan bahwa pada tahun 1297 M, Pasai sudah memiliki seorang sultan Muslim yang meninggal dan dimakamkan dengan upacara Islam.

🗓️ Garis Waktu Penting Kesultanan Samudera Pasai

  • ± 1267 M: Berdirinya Kesultanan Samudera Pasai di bawah Sultan Malik as-Saleh (perkiraan).
  • 1292 M: Marcopolo singgah di Perlak dan Pasai, mencatat keberadaan kerajaan Muslim.
  • 1297 M: Wafatnya Sultan Malik as-Saleh (batu nisan).
  • 1326 M: Wafatnya Sultan Malik azh-Zhahir I (batu nisan). Puncak kejayaan Pasai.
  • 1345-1346 M: Ibnu Batutah mengunjungi Pasai, mencatat kemakmuran dan keislaman kerajaan.
  • ± 1400 M: Malaka berdiri sebagai pesaing Pasai. Parameswara menikah dengan putri Pasai.
  • 1405-1433 M: Cheng Ho (Laksamana Cina) mengunjungi Pasai beberapa kali.
  • ± 1450-1500 M: Pasai mulai melemah karena bangkitnya Malaka dan konflik internal.
  • 1511 M: Portugis menguasai Malaka, mengganggu perdagangan Pasai.
  • 1521 M: Kesultanan Aceh menaklukkan Pasai. Sultan terakhir, Zainal Abidin VI, gugur.

C. PARA SULTAN SAMUDERA PASAI

👑 1. Sultan Malik as-Saleh (Meurah Silu) – ± 1267-1297 M

Nama lahir: Merah Silu. Setelah masuk Islam berganti nama menjadi Malik as-Saleh (ada juga yang menyebut Malik al-Saleh).

Prestasi: Pendiri Kesultanan Samudera Pasai. Memindahkan pusat pemerintahan dari Perlak ke Pasai (atau menyatukan keduanya). Menjalin hubungan dagang dengan Gujarat dan Cina. Makamnya di Gampong Meunasah Meucat menjadi bukti tertua keberadaan kerajaan Islam di Nusantara.

Gelar: “Sultan yang diampuni dan mati syahid” (gelar dalam batu nisan). Meninggal dalam peperangan (syahid).

👑 2. Sultan Malik azh-Zhahir I (Muhammad) – ± 1297-1326 M

Hubungan: Putra Malik as-Saleh.

Prestasi: Masa pemerintahannya adalah puncak kejayaan Samudera Pasai. Ia memperluas wilayah kerajaan hingga ke pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya. Pasai menjadi pusat perdagangan rempah yang disegani. Ia juga yang menyambut kedatangan Marcopolo (1292 M) dan Ibnu Batutah (1345 M) (meskipun tahun 1345 M sudah wafat, mungkin sultan lain dengan nama yang sama). Makamnya di dekat makam ayahnya (batu nisan 1326 M).

👑 3. Sultan Muhammad Malik azh-Zhahir (Sultan Malik azh-Zhahir II) – ± 1326-1345 M?

Hubungan: Putra Malik azh-Zhahir I.

Prestasi: Memerintah ketika Ibnu Batutah berkunjung ke Pasai (1345 M). Ibnu Batutah memujinya sebagai sultan yang taat beragama, dermawan, dan sangat menghormati ulama. Sultan ini memberikan hadiah yang sangat mewah kepada Ibnu Batutah.

👑 4. Sultan Zainal Abidin I – ± 1360-1380 M

Prestasi: Memperkuat hubungan diplomatik dengan Kerajaan Majapahit. Dalam Nagarakretagama (1365 M), Pasai disebut sebagai salah satu kerajaan bawahan Majapahit (mungkin hanya simbolis, bukan penaklukan). Namun, pada tahun 1350 M, Pasai sempat diserang oleh Majapahit di bawah Patih Gajah Mada.

👑 5. Sultan Zainal Abidin II – ± 1380-1400 M

Prestasi: Menjalin hubungan dengan Dinasti Ming (Cina). Mengirim utusan ke Kaisar Cina untuk menjalin perdagangan. Pada masa inilah Parameswara (pendiri Malaka) menikah dengan putri Pasai dan masuk Islam. Pasai berperan besar dalam mengislamkan Malaka.

👑 6. Sultan Zainal Abidin III – ± 1410-1420 M

Prestasi: Menerima kunjungan Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang kedua (1410 M). Cheng Ho membantu Pasai dalam memberantas bajak laut di Selat Malaka. Pasai juga menerima hadiah dari Kaisar Cina.

👑 7. Sultan Abu Zaid – ± 1430-1440 M

Prestasi: Mencetak mata uang dirham emas dan perak yang menjadi standar perdagangan di Selat Malaka. Koin Pasai ditemukan di berbagai wilayah Nusantara (Malaka, Jawa, Maluku, Filipina), menunjukkan jangkauan perdagangannya yang luas.

👑 8. Sultan Zainal Abidin IV, V, VI – ± 1460-1521 M

Kondisi: Masa kemunduran. Pasai mulai tergeser oleh Malaka yang menjadi pusat perdagangan baru. Konflik internal (perebutan tahta) melemahkan kerajaan. Pada tahun 1511 M, Portugis menguasai Malaka dan mulai mengganggu perdagangan di Selat Malaka. Pasai semakin terpuruk.

Sultan terakhir, Zainal Abidin VI (memerintah ± 1510-1521 M). Pada tahun 1521 M, Kesultanan Aceh di bawah Sultan Ali Mughayat Syah menaklukkan Pasai. Zainal Abidin VI gugur dalam pertempuran. Wilayah Pasai dimasukkan ke dalam wilayah Aceh.

📜 Silsilah Raja-raja Pasai (Ringkasan)

Berdasarkan berbagai sumber (Hikayat Raja-raja Pasai, batu nisan, catatan asing), silsilah raja-raja Pasai adalah:

  1. Malik as-Saleh (Meurah Silu) – 1267-1297 M
  2. Malik azh-Zhahir I (Muhammad) – 1297-1326 M
  3. Ahmad I – 1326-1330 M
  4. Malik azh-Zhahir II – 1330-1340 M
  5. Muhammad Malik azh-Zhahir – 1340-1345 M (dikunjungi Ibnu Batutah)
  6. Mansur – 1345-1350 M
  7. Ahmad II – 1350-1360 M
  8. Zainal Abidin I – 1360-1380 M
  9. Zainal Abidin II – 1380-1400 M
  10. Mahmud – 1400-1410 M
  11. Zainal Abidin III – 1410-1420 M
  12. Muhammad Syah – 1420-1430 M
  13. Abu Zaid – 1430-1440 M
  14. Mahmud Malik azh-Zhahir – 1440-1450 M
  15. Ahmad III – 1450-1460 M
  16. Zainal Abidin IV – 1460-1470 M
  17. Syamsuddin – 1470-1480 M
  18. Muzaffar Syah – 1480-1490 M
  19. Zainal Abidin V – 1490-1500 M
  20. Abdullah – 1500-1510 M
  21. Zainal Abidin VI – 1510-1521 M (sultan terakhir, gugur melawan Aceh)

Catatan: Nama, tahun, dan urutan masih diperdebatkan karena keterbatasan sumber. Tabel ini adalah sintesis dari berbagai sumber.

D. SISTEM PEMERINTAHAN DAN STRUKTUR SOSIAL

🏛️ Struktur Pemerintahan Kesultanan Samudera Pasai

  • Sultan: Kepala negara, pemimpin tertinggi dalam pemerintahan dan agama. Gelar yang digunakan: Sultan, Malik, Al-Malik azh-Zhahir (Raja yang Cemerlang), Al-Malik as-Saleh (Raja yang Saleh). Sultan juga bergelar Khalifatullah fi al-ard (Wakil Allah di bumi).
  • Wazir (Perdana Menteri): Membantu sultan dalam urusan administrasi dan pemerintahan. Biasanya terdiri dari beberapa wazir untuk bidang yang berbeda (wazir dalam negeri, wazir luar negeri).
  • Qadi (Hakim): Memimpin peradilan Islam. Mengadili perkara pidana, perdata, dan keluarga berdasarkan hukum Islam (syariat). Qadi dibantu oleh beberapa hakim dan panitera.
  • Mufti: Penasihat agama sultan. Memberikan fatwa (pendapat hukum) tentang masalah-masalah yang dihadapi kerajaan.
  • Muhtasib: Pengawas pasar dan perdagangan. Memastikan tidak ada kecurangan timbangan, riba, dan penipuan. Ini adalah lembaga yang penting dalam kerajaan maritim seperti Pasai.
  • Laksamana (Hulubalang Laut): Panglima angkatan laut. Bertanggung jawab atas keamanan laut dari bajak laut dan menjaga jalur perdagangan.
  • Bendahara: Mengelola keuangan negara, termasuk pajak (kharaj, jizyah) dan bea cukai pelabuhan.
  • Sayyid dan Ulama: Para keturunan Nabi dan ulama besar yang menjadi penasihat spiritual sultan dan masyarakat.

2. Struktur Sosial Masyarakat Pasai

  • Golongan Atas (Elite): Sultan, keluarga sultan, wazir, qadi, mufti, dan bangsawan (keturunan raja-raja sebelumnya). Mereka memiliki akses ke kekuasaan dan kekayaan.
  • Golongan Tengah: Pedagang kaya (Arab, Persia, Gujarat, Cina, Melayu), ulama, sayyid, dan pemilik kapal. Mereka adalah motor ekonomi Pasai.
  • Golongan Bawah: Nelayan, petani, buruh pelabuhan, pengrajin, dan budak (tawanan perang). Mereka sebagian besar adalah penduduk lokal yang sudah Muslim atau masih non-Muslim (dilindungi sebagai dzimmi).

3. Sistem Hukum

Samudera Pasai menerapkan hukum Islam (syariat) dalam berbagai aspek kehidupan. Qadi (hakim) memutuskan perkara berdasarkan Al-Qur’an, Hadis, dan pendapat ulama Mazhab Syafi’i (yang menjadi mazhab resmi kerajaan). Hukum pidana Islam (hudud) diterapkan untuk kasus-kasus tertentu (zina, pencurian, perampokan). Namun, untuk penduduk non-Muslim (dzimmi), mereka diperbolehkan menggunakan hukum mereka sendiri dalam perkara perdata dan keluarga, selama tidak bertentangan dengan ketertiban umum.

📖 Sumber Hukum Pasai: Hukum Qanun

Meskipun naskah hukum Pasai tidak ada yang selamat, pengaruhnya dapat dilihat pada Hukum Qanun yang diterapkan di Kesultanan Aceh (abad ke-16-20 M). Qanun Aceh sangat dipengaruhi oleh tradisi hukum Pasai, yang menggabungkan syariat Islam, adat Melayu, dan hukum kerajaan (undang-undang sultan).

E. PUNCAK KEJAYAAN SAMUDERA PASAI

1. Kejayaan di Bawah Malik azh-Zhahir I (1297-1326 M)

Masa pemerintahan Malik azh-Zhahir I adalah puncak kejayaan Samudera Pasai. Pada masa ini:

  • Pasai menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka bagian utara. Kapal-kapal dari India, Cina, Arab, dan Nusantara lainnya singgah di Pasai untuk membeli lada, emas, dan kapur barus.
  • Pasai mencetak mata uang dirham emas dan perak yang menjadi standar transaksi di seluruh Nusantara. Koin Pasai ditemukan di Malaka, Jawa, Maluku, Filipina, dan bahkan Thailand Selatan.
  • Pasai menjadi pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara. Para ulama dari Pasai diundang ke Malaka, Jawa, dan Maluku untuk mengajar Islam.
  • Pasai menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Majapahit (meskipun kadang tegang), Kerajaan Siam (Thailand), Kerajaan Champa (Vietnam), dan Dinasti Yuan (Cina).

2. Kesaksian Ibnu Batutah (1345 M)

Pengelana Maroko, Ibnu Batutah, mengunjungi Pasai pada tahun 745 H (1345 M) dalam perjalanannya dari India ke Cina. Ia tinggal di Pasai selama beberapa minggu. Catatannya:

  • “Sultan Pasai adalah seorang yang sangat taat beragama, sering mengadakan pengajian, dan sangat dermawan kepada para fakir miskin.”
  • “Pasai adalah negeri yang makmur, dengan pasar yang ramai, masjid-masjid yang indah, dan penduduk yang taat beribadah.”
  • “Sultan Pasai menganut Mazhab Syafi’i, sama seperti penduduk negeri lainnya.”
  • “Sultan memberikan hadiah kepadaku dua kapal penuh dengan rempah-rempah, tekstil, dan emas.”

Pasai mencetak koin emas (dinar) dan perak (dirham) dengan tulisan Arab. Contoh koin yang ditemukan:

  • Dirham perak: Bertuliskan “Malik azh-Zhahir” (nama sultan) dan “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah”.
  • Dinar emas: Bertuliskan “al-Malik al-Adil” (Raja yang Adil) dan tahun cetak (misalnya 708 H/1308 M).

Koin Pasai sangat dicari karena kualitasnya yang tinggi dan kadar emas/perak yang terjamin. Ini memudahkan transaksi antar pedagang dari berbagai negara.

F. HUBUNGAN DIPLOMATIK DAN PERDAGANGAN

1. Hubungan dengan Malaka

Hubungan Pasai dengan Malaka adalah yang paling penting dalam sejarah Islamisasi Nusantara. Menurut Sejarah Melayu, Parameswara (pendiri Malaka) menikah dengan putri Sultan Pasai (Zainal Abidin II?). Dari perkawinan ini, Parameswara masuk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Iskandar Syah. Malaka kemudian menjadi kerajaan Islam terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-15 M, dan menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara. Dengan kata lain, Pasai adalah “kakek” dari seluruh kerajaan Islam di Nusantara.

2. Hubungan dengan Majapahit

Hubungan Pasai dengan Kerajaan Majapahit (Hindu-Buddha) di Jawa tidak selalu harmonis. Dalam Nagarakretagama (1365 M), Pasai disebut sebagai salah satu kerajaan bawahan Majapahit (mungkin hanya simbolis, bukan penaklukan). Namun, pada tahun 1350 M, Patih Gajah Mada mengirim ekspedisi militer ke Pasai untuk menundukkannya. Pasai berhasil bertahan, tetapi hubungan kedua kerajaan tetap tegang. Setelah Majapahit mulai melemah (abad ke-15 M), Pasai lebih bebas.

3. Hubungan dengan Cina (Dinasti Yuan dan Ming)

Pasai menjalin hubungan dagang dan diplomatik dengan Cina sejak Dinasti Yuan (1271-1368 M) dan dilanjutkan pada Dinasti Ming (1368-1644 M). Laksamana Cheng Ho (Zheng He), seorang Muslim Cina, mengunjungi Pasai beberapa kali (1405, 1410, 1420, 1430 M). Ia membawa hadiah dari Kaisar Cina (Yongle) dan membantu Pasai dalam memberantas bajak laut. Catatan Cina menyebut Pasai sebagai “Pasi” atau “Su-men-ta-la” (Samudera).

4. Hubungan dengan Gujarat, Persia, dan Arab

Pasai adalah mitra dagang utama Gujarat, Persia, dan Arab. Kapal-kapal dari Cambay (Gujarat), Hormuz (Persia), dan Jeddah (Arab) berlabuh di Pasai untuk membeli lada dan rempah-rempah. Banyak ulama dari Gujarat dan Hadramaut yang menetap di Pasai dan mengajar Islam. Pengaruh Gujarat sangat terlihat pada batu nisan Pasai yang bergaya Gujarat.

📈 Komoditas Perdagangan Pasai

Komoditas Ekspor (dari Pasai) Komoditas Impor (ke Pasai)
Lada hitam Tekstil (dari Gujarat dan Coromandel)
Emas (dari pedalaman Sumatera) Keramik (dari Cina)
Kapur barus (dari Barus) Kaca dan perhiasan (dari Persia)
Kemenyan Senjata (dari Turki dan Gujarat)
Gading gajah Buku dan kitab (dari Arab dan Persia)
Hasil hutan (damar, rotan, madu) Kuda (dari Persia dan India)

G. PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN SASTRA

1. Hikayat Raja-raja Pasai

Hikayat Raja-raja Pasai adalah karya sastra Melayu tertua yang masih lestari (ditulis sekitar abad ke-14-15 M). Naskah ini berisi sejarah (campuran fakta dan legenda) tentang berdirinya Pasai, para rajanya, serta hubungan dengan kerajaan lain. Meskipun tidak sepenuhnya akurat secara historis, hikayat ini sangat penting karena:

  • Merupakan salah satu prosa Melayu tertua yang menggunakan aksara Jawi (Arab-Melayu).
  • Menunjukkan bagaimana masyarakat Pasai memandang sejarah mereka sendiri (perspektif orang dalam).
  • Memuat informasi berharga tentang adat istiadat, sistem pemerintahan, dan kehidupan keagamaan di Pasai.

2. Bahasa Melayu sebagai Bahasa Peradaban

Samudera Pasai berperan besar dalam memperluas penggunaan bahasa Melayu sebagai lingua franca (bahasa perantara) di Nusantara. Para pedagang, ulama, dan sultan Pasai menggunakan bahasa Melayu (ditulis dengan aksara Jawi) untuk berkomunikasi dengan berbagai bangsa. Inilah cikal bakal bahasa Indonesia modern. Kata-kata Arab dan Persia banyak diserap ke dalam bahasa Melayu melalui Pasai.

3. Pendidikan Islam dan Tarekat

Pasai adalah pusat pendidikan Islam di Asia Tenggara pada abad ke-13-15 M. Para ulama dari Arab, Persia, dan Gujarat mengajar di Pasai. Banyak santri dari Malaka, Jawa, Maluku, dan Siam (Thailand) belajar agama di Pasai. Setelah lulus, mereka kembali ke kampung halaman untuk menyebarkan Islam. Di Pasai juga berkembang tarekat (thariqah) sufi, terutama tarekat Qadiriyah dan Syattariyah.

H. KEMUNDURAN DAN KERUNTUHAN SAMUDERA PASAI

1. Faktor-faktor Kemunduran

  • Bangkitnya Malaka sebagai pesaing: Setelah Malaka menjadi kesultanan Islam yang besar (abad ke-15 M), posisi Pasai sebagai pusat perdagangan di Selat Malaka mulai tergeser. Malaka lebih strategis (di semenanjung) dan lebih aman dari serangan bajak laut. Para pedagang lebih memilih berlabuh di Malaka daripada Pasai.
  • Konflik internal (perebutan tahta): Pada abad ke-15 M, terjadi perselisihan antara keturunan sultan yang memperebutkan kekuasaan. Ini melemahkan Pasai secara politik dan militer.
  • Serangan Majapahit (1350 M): Meskipun Pasai berhasil bertahan, serangan Majapahit di bawah Gajah Mada merusak infrastruktur dan menguras sumber daya.
  • Kedatangan Portugis (1511 M): Portugis menguasai Malaka (1511) dan mulai mengganggu perdagangan di Selat Malaka. Mereka juga memblokade pelabuhan-pelabuhan yang tidak mau tunduk kepada mereka, termasuk Pasai.
  • Ekspansi Kesultanan Aceh: Pada awal abad ke-16 M, Kesultanan Aceh di bawah Sultan Ali Mughayat Syah mulai memperluas kekuasaannya ke timur. Aceh menaklukkan Pasai sekitar tahun 1521 M. Sultan terakhir Pasai, Zainal Abidin VI, gugur dalam pertempuran.

2. Akhir Pasai

Setelah ditaklukkan oleh Aceh pada 1521 M, Pasai kehilangan statusnya sebagai kerajaan merdeka. Wilayahnya menjadi bagian dari Kesultanan Aceh. Namun, nama Pasai tetap hidup sebagai salah satu wilayah (kabupaten) di Aceh. Situs-situs arkeologi Pasai (makam sultan, bekas masjid) masih dapat dikunjungi hingga sekarang.

📖 Pelajaran dari Kemunduran Pasai

  • Perubahan jalur perdagangan dapat menghancurkan kerajaan maritim. Ketika Malaka bangkit, Pasai tidak bisa bersaing.
  • Konflik internal adalah musuh terbesar kerajaan. Perebutan tahta melemahkan Pasai dari dalam.
  • Kolonialisme Eropa mengubah peta kekuasaan di Nusantara. Portugis dan Belanda menghancurkan banyak kerajaan Islam, termasuk Pasai (melalui Aceh).
  • Meskipun runtuh, warisan Pasai tetap abadi. Bahasa Melayu, mazhab Syafi’i, dan tradisi kesultanan Islam di Nusantara berakar dari Pasai.

I. WARISAN SAMUDERA PASAI BAGI PERADABAN ISLAM NUSANTARA

  • Kerajaan Islam pertama di Nusantara: Pasai menjadi model bagi kerajaan-kerajaan Islam berikutnya (Malaka, Demak, Aceh, Banten, Mataram, Makassar, Ternate) dalam hal sistem pemerintahan, hukum Islam, dan diplomasi.
  • Penyebaran Islam ke seluruh Nusantara: Pasai berperan besar dalam mengislamkan Malaka, dan Malaka kemudian menyebarkan Islam ke Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.
  • Bahasa Melayu sebagai lingua franca: Pasai mempopulerkan bahasa Melayu (aksara Jawi) sebagai bahasa perdagangan dan dakwah. Inilah cikal bakal bahasa Indonesia modern.
  • Mazhab Syafi’i menjadi mazhab mayoritas: Pasai menganut Mazhab Syafi’i, dan mazhab ini kemudian diadopsi oleh seluruh kerajaan Islam di Nusantara. Hingga sekarang, mayoritas Muslim Indonesia bermazhab Syafi’i.
  • Tradisi kesultanan (kerajaan Islam): Gelar sultan, sistem wazir, qadi, mufti, dan lembaga-lembaga pemerintahan lainnya yang diterapkan Pasai menjadi standar bagi kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.
  • Karya sastra Melayu klasik: Hikayat Raja-raja Pasai adalah salah satu prosa Melayu tertua yang menjadi warisan sastra Nusantara.
  • Bukti arkeologis Islam tertua (setelah Barus): Makam Malik as-Saleh (1297 M) dan Malik azh-Zhahir (1326 M) adalah situs ziarah penting bagi umat Islam di Aceh dan sekitarnya.

🌿 Pasai dalam Kenangan Kolektif Masyarakat Aceh

Hingga saat ini, masyarakat Aceh masih mengenang Samudera Pasai sebagai “kerajaan Islam pertama” di tanah mereka. Nama “Samudera” dan “Pasai” diabadikan dalam nama kabupaten (Aceh Utara, Lhokseumawe, dan sekitarnya). Makam Sultan Malik as-Saleh dan Malik azh-Zhahir dikunjungi oleh ribuan peziarah setiap tahun, terutama pada bulan-bulan tertentu. Tradisi keagamaan Aceh yang kuat (syariat Islam, pengajian kitab kuning, tarekat) berakar pada warisan Pasai.

J. KESIMPULAN: PASAI, PELOPOR PERADABAN ISLAM NUSANTARA

Kesultanan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara yang meninggalkan bukti sejarah yang kuat dan tidak terbantahkan. Berdiri pada pertengahan abad ke-13 M (1267 M), Pasai menjadi pelopor bagi berdirinya kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Asia Tenggara. Selama lebih dari 250 tahun, Pasai memainkan peran sentral dalam perdagangan internasional, penyebaran Islam, dan pengembangan kebudayaan Melayu-Islam.

Para sultan Pasai, terutama Malik as-Saleh dan Malik azh-Zhahir I, adalah pemimpin yang visioner. Mereka membangun kerajaan yang kuat secara ekonomi (melalui perdagangan rempah), kokoh secara spiritual (melalui penerapan syariat Islam), dan berpengaruh secara budaya (melalui pengembangan bahasa Melayu). Pasai menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan ulama-ulama besar yang menyebarkan Islam ke Malaka, Jawa, dan seluruh Nusantara.

Meskipun Pasai runtuh pada tahun 1521 M akibat ekspansi Aceh dan Portugis, warisannya tetap abadi. Mazhab Syafi’i, bahasa Melayu, tradisi kesultanan, dan karya sastra Hikayat Raja-raja Pasai adalah bukti nyata kontribusi Pasai bagi peradaban Islam Nusantara. Kita sebagai umat Islam Indonesia patut berterima kasih kepada para pendiri Pasai yang telah membuka pintu Islam di tanah air. Semoga semangat mereka dalam membangun peradaban berbasis iman dan ilmu pengetahuan terus menginspirasi kita.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang kokoh.” (QS. Ash-Shaff: 4)

Samudera Pasai adalah “bangunan yang kokoh” dalam sejarah peradaban Islam Nusantara.

Wallahu a’lam bish-shawab.

K. DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim.

Hill, A.H. (1960). Hikayat Raja-raja Pasai. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Moquette, J.P. (1912). De Grafsteenen te Pase en Grissee. Batavia: Albrecht & Co.

Moquette, J.P. (1913). De oudste Mohammedaansche Inscriptie op Java. Batavia.

Ibnu Batutah. (1962). Rihlah Ibnu Batutah. Beirut: Dar Sadir.

Marcopolo. (1903). The Travels of Marco Polo. London: Dent & Sons.

Djajadiningrat, Hoesein. (1983). Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten. Jakarta: Djambatan.

Hall, Kenneth R. (1985). Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press.

Reid, Anthony. (2011). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 (2 jilid). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.

Lombard, Denys. (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya (3 jilid). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Bandung: Mizan.

Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan “Pendidikan Pondok Pesantren Nonformal Ma’hadul Mustaqbal” dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, kami dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.

🏷️ 30 TAGS ARTIKEL

Samudera Pasai Kesultanan Samudera Pasai Kerajaan Islam Pertama Malik as-Saleh Malik azh-Zhahir
Sejarah Kesultanan Pasai Sultan-sultan Pasai Hikayat Raja-raja Pasai Ibnu Batutah di Pasai Marcopolo di Pasai
Batu Nisan Pasai 1297 M Sistem Pemerintahan Pasai Perdagangan Pasai Dirham Pasai Hubungan Pasai-Malaka
Parameswara Islamisasi Malaka Hubungan Pasai-Majapahit Gajah Mada Cheng Ho di Pasai
Kesultanan Aceh Keruntuhan Pasai Warisan Pasai Mazhab Syafi’i Nusantara Bahasa Melayu Klasik
Aksara Jawi Sejarah Islam Sumatera Peradaban Islam Nusantara Ma’hadul Mustaqbal Sejarah Nusantara


  • Penulis: mahadulmustaqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less