SJR-94: Persatuan Islam (Persis) – Gerakan Purifikasi Islam dan Tokoh-Tokohnya
- account_circle mahadulmustaqbal
- calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar

SJR-94: Persatuan Islam (Persis) – Gerakan Purifikasi Islam dan Tokoh-Tokohnya

🖼️ INFORMASI GAMBAR
Alt-text: Ilustrasi logo Persatuan Islam (Persis) dengan Al-Qur’an dan matahari, foto para tokoh pendiri (KH Zamzam, KH Ahmad Hassan, Oemar Said Tjokroaminoto, dan lainnya), suasana pengajian dan majelis ilmi Persis di Bandung.
Caption: Persatuan Islam (Persis): mengulas secara komprehensif tentang organisasi Islam modern puritan (Salafi) yang didirikan di Bandung pada tahun 1923, tokoh-tokoh utamanya (KH Zamzam, KH Ahmad Hassan, Oemar Said Tjokroaminoto, dan lainnya), serta peran Persis dalam gerakan pembaruan (purifikasi) Islam di Indonesia.
Description: Infografis tentang Persatuan Islam yang mencakup: (1) Latar belakang berdirinya Persis (keprihatinan terhadap praktik bid’ah, khurafat, syirik, taklid buta), (2) Tokoh-tokoh pendiri (KH Zamzam, KH Ahmad Hassan, Haji M. Yunus, Oemar Said Tjokroaminoto, Abdul Aziz, H.M. Sarbini), (3) Tanggal berdirinya (12 September 1923 / 1 Safar 1342 H), (4) Asas dan tujuan Persis (kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis, menolak taklid buta, membersihkan bid’ah dan khurafat), (5) Peran Persis dalam dakwah melalui majelis ilmi, penerbitan (Pembela Islam, Al-Mizan), dan pendidikan (Pesantren Persis), (6) Tokoh-tokoh besar Persis (KH Ahmad Hassan sebagai tokoh utama, Oemar Said Tjokroaminoto sebagai politisi, KH E. Abdurrahman, Dr. H. Abdul Qadir, dll), (7) Perkembangan Persis dari masa ke masa, (8) Persis di era kontemporer dan kontribusinya terhadap gerakan Salafi di Indonesia.
A. PENDAHULUAN: ORGANISASI PURITAN PELOPOR GERAKAN SALAFI
Persatuan Islam (Persis) adalah organisasi Islam modern puritan (Salafi) tertua di Indonesia yang didirikan pada tanggal 12 September 1923 M (1 Safar 1342 H) di Bandung, Jawa Barat. Persis lahir sebagai reaksi terhadap kondisi umat Islam yang dianggap masih banyak melakukan praktik bid’ah, khurafat, syirik, dan taklid buta, serta sebagai gerakan pemurnian (purifikasi) ajaran Islam agar kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis sesuai dengan pemahaman para salafus shalih (generasi terbaik umat Islam: sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in).
Berbeda dengan Muhammadiyah (1912) yang juga bergerak di bidang pembaruan (modernis) tetapi lebih fokus pada pendidikan dan sosial, Persis lebih menekankan pada dakwah bil lisan (ceramah) dan tabligh serta pemurnian akidah secara radikal. Persis juga sangat anti terhadap praktik tawasul, ziarah kubur berlebihan, maulid Nabi, tahlilan, dan berbagai tradisi yang dianggap bid’ah oleh NU dan sebagian tradisionalis. Persis sering disebut sebagai pelopor gerakan Salafi (Wahabi) di Indonesia, meskipun para tokohnya lebih suka menyebut diri sebagai “Ahlussunnah wal Jama’ah” dengan pemahaman yang berbeda dengan NU.
Artikel ini akan mengupas secara mendalam tentang sejarah berdirinya Persis, tokoh-tokoh utamanya (KH Zamzam, KH Ahmad Hassan, Oemar Said Tjokroaminoto, dan lainnya), asas dan tujuan organisasi, peran Persis dalam dakwah dan pendidikan, serta perkembangan Persis dari masa ke masa hingga era kontemporer.
“Jika kamu berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Hadis).” (QS. An-Nisa: 59)
Persis mengajak umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis dalam segala perselisihan.
B. LATAR BELAKANG BERDIRINYA PERSATUAN ISLAM
1. Kondisi Umat Islam di Awal Abad ke-20 (Jawa Barat)
Pada awal abad ke-20 M, umat Islam di Jawa Barat (khususnya Bandung) menghadapi berbagai masalah serupa dengan di Jawa Tengah dan Timur:
- Praktik keagamaan yang bercampur dengan bid’ah, khurafat, dan syirik: Banyak umat Islam yang masih melakukan tawasul berlebihan (meminta doa kepada orang mati), ziarah kubur dengan ritual yang berlebihan, memuja benda-benda keramat (keris, batu, pohon), dan mempercayai dukun.
- Taklid buta (mengikuti pendapat ulama tertentu tanpa dalil): Masyarakat cenderung mengikuti pendapat ulama tertentu tanpa memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Hadis.
- Keterbelakangan pendidikan: Sebagian besar umat Islam hanya mengenyam pendidikan pesantren tradisional yang kurang memberikan keterampilan modern.
- Penjajahan Belanda dan misi Kristen (Zending): Belanda mempersulit umat Islam, sementara misionaris Kristen aktif menyebarkan agama.
2. Pengaruh Gerakan Modernisme Islam Timur Tengah
Seperti halnya KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), para pendiri Persis juga terpengaruh oleh gerakan modernisme Islam di Timur Tengah (Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridha), serta gerakan Salafi (Wahabi) di Arab Saudi. Mereka mengajarkan bahwa:
- Umat Islam harus kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis (tidak taklid buta).
- Pintu ijtihad harus dibuka kembali.
- Praktik-praktik bid’ah, khurafat, syirik, dan taklid buta harus dihapuskan.
- Ilmu pengetahuan modern (sains, teknologi) tidak bertentangan dengan Islam.
3. Keprihatinan Para Ulama Bandung
Para ulama di Bandung (KH Zamzam, KH Ahmad Hassan, dll) merasa prihatin dengan kondisi umat Islam yang masih banyak terjerumus dalam praktik syirik dan bid’ah. Mereka juga melihat bahwa organisasi Islam yang sudah ada (seperti Muhammadiyah dan NU) belum sepenuhnya menjangkau masyarakat Bandung. Maka, mereka memutuskan untuk mendirikan organisasi sendiri yang lebih fokus pada dakwah purifikasi.
🗓️ Garis Waktu Berdirinya Persis
- 1920 M: KH Zamzam dan H. M. Yunus mulai mengadakan pengajian rutin di Bandung.
- 1922 M: Ide pendirian organisasi mulai mengemuka. KH Zamzam bertemu dengan KH Ahmad Hassan (yang baru kembali dari Mekkah).
- 12 September 1923 (1 Safar 1342 H): Persatuan Islam (Persis) resmi didirikan di Bandung (di rumah H. M. Sarbini).
- 1923-1925 M: Persis mulai mengadakan pengajian mingguan dan menerbitkan majalah Pembela Islam.
- 1925 M: KH Ahmad Hassan ditunjuk sebagai “wakil talqin” (penceramah utama) Persis.
- 1930 M: Persis mulai mendirikan pesantren (Pesantren Persis Bandung).
- 1935-1942 M: Masa keemasan Persis di bawah KH Ahmad Hassan.
- 1945-1950 M: Persis aktif dalam perjuangan kemerdekaan.
- 1950 M: KH Ahmad Hassan wafat.
- 1970-2000 M: Persis berkembang ke seluruh Indonesia.
C. TOKOH-TOKOH PENDIRI DAN PENGEMBANG PERSIS
🌿 1. KH Zamzam (1875-1952) – Pendiri Utama Persis
Lahir: 1875 di Cianjur, Jawa Barat.
Pendidikan: Belajar agama di pesantren-pesantren tradisional di Jawa Barat, kemudian belajar di Mekkah (beberapa tahun).
Peran: Ketua Umum pertama Persis (1923-1930). Ia adalah inisiator dan pendiri utama Persis. Ia sangat prihatin dengan praktik bid’ah dan syirik di masyarakat. Ia juga seorang pedagang yang sukses, sehingga ia mendanai kegiatan Persis di awal-awal berdirinya.
Wafat: 1952 di Bandung.
🌿 2. KH Ahmad Hassan (1887-1958) – Tokoh Utama Persis
Nama asli: Ahmad Hassan. Ia lahir di Singapura dari keluarga keturunan India (Tamil) yang merantau ke Singapura. Ia kemudian pindah ke Surabaya dan belajar agama di pesantren.
Lahir: 1887 di Singapura (ada sumber menyebut di India).
Pendidikan: Belajar agama di pesantren di Surabaya (Pesantren Langitan?), kemudian belajar di Mekkah (1919-1922) dan bertemu dengan pemikiran modernisme Islam.
Peran: Tokoh utama Persis setelah KH Zamzam. Ia menjabat sebagai “Wakil Talqin” (penceramah utama) dan pengasuh Pesantren Persis. Ia adalah orator ulung dan penulis produktif. Ia menulis ratusan artikel di majalah Pembela Islam dan buku-buku (seperti Al-Furqan, At-Tauhid, Al-Irsyad ila Sabilirrasyad). Ia dikenal sangat keras dalam mengkritik praktik bid’ah (tahlilan, maulid, ziarah kubur berlebihan) dan taklid buta. Ia juga menolak mazhab-mazhab fikih (termasuk Syafi’i) dan mengajak umat Islam kembali langsung ke Al-Qur’an dan Hadis.
Kutipan terkenal: “Tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an atau Hadis yang memerintahkan kita untuk mengadakan tahlilan (kenduri) pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan seterusnya. Semua itu adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya.”
Wafat: 1958 di Bandung. Makamnya di kompleks Pesantren Persis Bandung.
🌿 3. Oemar Said Tjokroaminoto (1882-1934) – Pendiri Sarekat Islam, Tokoh Persis
Lahir: 1882 di Ponorogo, Jawa Timur.
Peran: Pendiri Sarekat Islam (SI) (1911) dan tokoh pergerakan nasional. Ia juga aktif di Persis (meskipun lebih dikenal sebagai tokoh SI). Ia menjadi penasihat Persis dan sering mengisi pengajian di Persis. Ia juga membantu pendanaan Persis. Ia wafat pada 1934. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional (1961).
🌿 4. Haji M. Yunus (1880-1950) – Pendiri Persis
Peran: Salah satu pendiri Persis. Ia juga seorang pedagang yang sukses. Ia menjadi Bendahara Persis pertama.
🌿 5. Abdul Aziz (1890-1960) – Pendiri Persis
Peran: Salah satu pendiri Persis. Ia juga seorang ulama yang aktif berdakwah.
🌿 6. H.M. Sarbini (1885-1960) – Pendiri Persis
Peran: Salah satu pendiri Persis. Rumahnya di Bandung digunakan sebagai tempat pendirian Persis (12 September 1923).
🌿 7. KH E. Abdurrahman (1900-1970) – Penerus KH Ahmad Hassan
Peran: Murid KH Ahmad Hassan, kemudian menjadi pimpinan Persis setelah KH Ahmad Hassan wafat. Ia mengembangkan pesantren Persis dan memperluas dakwah Persis ke seluruh Indonesia.
🌿 8. Dr. H. Abdul Qadir (1920-2000) – Tokoh Persis Modern
Peran: Tokoh Persis yang berpengaruh pada era 1970-1990-an. Ia memperkenalkan pendekatan dakwah yang lebih moderat dan mengembangkan pendidikan formal di lingkungan Persis.
📖 KH Ahmad Hassan: “Rasyid Ridha-nya Indonesia”
KH Ahmad Hassan sering dijuluki “Rasyid Ridha-nya Indonesia” karena pemikirannya yang sangat terpengaruh oleh Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935), murid Muhammad Abduh. Rasyid Ridha adalah tokoh modernisme Islam yang sangat keras mengkritik praktik bid’ah dan taklid buta. KH Ahmad Hassan juga sangat mengagumi Ibnu Taimiyah (1263-1328), ulama besar yang menjadi rujukan gerakan Salafi/Wahabi.
D. ASAS, TUJUAN, DAN AJARAN PERSIS
1. Asas Persis
Asas Persis adalah “Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis” (ar-Ruju’ ila Al-Qur’an wa As-Sunnah). Persis menolak taklid buta (mengikuti pendapat ulama tanpa dalil) dan mewajibkan setiap Muslim untuk merujuk langsung kepada Al-Qur’an dan Hadis dalam segala persoalan.
2. Tujuan Persis
- Memurnikan akidah (tauhid): Menghapuskan segala bentuk syirik (menyekutukan Allah), termasuk tawasul berlebihan, ziarah kubur berlebihan, meminta doa kepada orang mati, dan memuja benda-benda keramat.
- Menghapuskan bid’ah dan khurafat: Menolak semua praktik keagamaan yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, seperti tahlilan (kenduri untuk orang meninggal pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, tahunan), maulid Nabi (perayaan kelahiran Nabi), dan upacara-upacara yang tidak sesuai sunnah.
- Menghapuskan taklid buta: Mewajibkan setiap Muslim untuk mempelajari dalil dari Al-Qur’an dan Hadis, tidak hanya mengikuti pendapat ulama tertentu.
- Menegakkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh): Dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, bernegara.
- Menyatukan umat Islam (persatuan Islam): Menghilangkan perpecahan yang disebabkan oleh perbedaan mazhab dan tradisi.
3. Ajaran Khusus Persis
- Anti mazhab: Persis tidak mengikuti mazhab tertentu (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali). Mereka berpendapat bahwa seorang Muslim boleh langsung mengambil hukum dari Al-Qur’an dan Hadis tanpa harus melalui mazhab. Mereka mengkritik ta’assub mazhab (fanatisme mazhab) yang dianggap menghambat ijtihad.
- Menolak tahlilan: Persis berpendapat bahwa tahlilan (pembacaan doa untuk orang meninggal pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, tahunan) tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan Hadis. Yang diajarkan Nabi hanyalah mendoakan orang meninggal secara umum, tidak terikat waktu-waktu tertentu.
- Menolak maulid Nabi: Persis berpendapat bahwa perayaan maulid Nabi (peringatan kelahiran Nabi Muhammad) adalah bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabat. Mereka menganggap bahwa mencintai Nabi cukup dengan mengikuti sunnahnya, bukan dengan merayakan maulid.
- Menolak ziarah kubur yang berlebihan: Persis membolehkan ziarah kubur (sesuai hadis Nabi), tetapi melarang ziarah kubur yang disertai dengan perbuatan syirik (meminta doa kepada mayat, meminta kesembuhan, dll).
- Menolak tawasul (perantara) dalam berdoa: Persis berpendapat bahwa umat Islam harus langsung berdoa kepada Allah, tidak boleh melalui perantara (wasilah) berupa orang mati atau wali.
⚖️ Kontroversi Persis dengan NU dan Tradisionalis
Ajaran Persis (terutama tentang tahlilan, maulid, ziarah kubur, tawasul) sangat kontroversial di kalangan NU dan masyarakat tradisionalis. NU menganggap bahwa tradisi-tradisi tersebut adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) karena bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menghormati Nabi serta para wali. Persis menganggap semua itu bid’ah dhalalah (bid’ah yang sesat). Konflik antara Persis dan NU (serta masyarakat tradisionalis) pernah terjadi, termasuk bentrok fisik di beberapa daerah (misalnya di Jawa Barat). Namun, saat ini hubungan antara Persis dan NU lebih baik, dengan saling menghormati perbedaan.
E. AMAL USAHA PERSIS (DAKWAH, PENDIDIKAN, PENERBITAN)
1. Majelis Ilmi (Pengajian) dan Tabligh
Persis sangat fokus pada dakwah bil lisan (ceramah) dan tabligh. KH Ahmad Hassan adalah orator ulung yang mampu menarik ribuan jamaah dalam setiap pengajiannya. Pengajian Persis biasanya diadakan di masjid-masjid, surau, atau di halaman rumah. Materi pengajian adalah tentang:
- Pemurnian tauhid (larangan syirik, tawasul, dll).
- Larangan bid’ah (tahlilan, maulid, dll).
- Kewajiban mengikuti Al-Qur’an dan Hadis, tidak taklid buta.
- Kritik terhadap praktik keagamaan tradisionalis.
2. Penerbitan (Majalah dan Buku)
Persis sangat aktif dalam penerbitan. Majalah-majalah yang pernah diterbitkan Persis:
- “Pembela Islam” (1925-1942): Majalah utama Persis yang dieditori oleh KH Ahmad Hassan. Majalah ini berisi artikel-artikel tentang tauhid, bid’ah, kritik terhadap tradisi, dan pembahasan dalil-dalil. Majalah ini sangat populer di kalangan umat Islam Indonesia.
- “Al-Mizan”: Majalah terbitan Persis setelah kemerdekaan.
- “Suara Persis”: Majalah modern Persis.
Selain majalah, Persis juga menerbitkan puluhan buku oleh KH Ahmad Hassan, seperti Al-Furqan, At-Tauhid, Al-Irsyad ila Sabilirrasyad, An-Nur, dan Al-Bayan.
3. Pendidikan (Pesantren Persis)
Persis mendirikan Pesantren Persis (Pondok Pesantren Persatuan Islam) di Bandung pada tahun 1930. Pesantren ini mengajarkan:
- Al-Qur’an dan Hadis (langsung, tanpa mazhab).
- Bahasa Arab (kitab kuning, tetapi tidak terbatas pada mazhab Syafi’i).
- Ilmu pengetahuan umum (matematika, fisika, biologi, dll).
Pesantren Persis menghasilkan banyak ulama dan dai yang kemudian menyebarkan ajaran Persis ke seluruh Indonesia. Saat ini, Persis memiliki puluhan pesantren dan madrasah di berbagai kota (Bandung, Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dll).
📖 Pesantren Persis dan Metode Pengajarannya
Pesantren Persis memiliki metode pengajaran yang khas: sistem klasikal (kelas) dengan kurikulum terpadu, mirip dengan pesantren modern. Namun, yang membedakan adalah penekanan pada kajian langsung Al-Qur’an dan Hadis, serta penolakan terhadap fanatisme mazhab. Santri Persis diwajibkan untuk menghafal hadis-hadis tertentu dan memahami ilmu musthalah hadis (ilmu untuk menilai keotentikan hadis).
F. PERKEMBANGAN PERSIS DARI MASA KE MASA
1. Masa Awal (1923-1942)
- Persis tumbuh pesat di Jawa Barat (Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cianjur, Bogor, Jakarta).
- Konflik dengan NU dan tradisionalis mulai terjadi (bentrokan di beberapa daerah).
- Majalah Pembela Islam menjadi sangat populer.
2. Masa Pendudukan Jepang dan Revolusi (1942-1949)
- Persis mengalami tekanan dari Jepang (karena Jepang melarang organisasi politik).
- Anggota Persis aktif dalam perjuangan kemerdekaan (bergabung dengan laskar-laskar pejuang).
3. Masa Orde Lama dan Orde Baru (1950-1998)
- Setelah KH Ahmad Hassan wafat (1958), Persis dipimpin oleh KH E. Abdurrahman dan tokoh-tokoh lainnya.
- Persis mengembangkan pesantren dan madrasah di seluruh Indonesia.
- Persis (secara organisasi) tidak berafiliasi dengan partai politik tertentu, tetapi tokoh-tokoh Persis aktif di Masyumi (partai Islam), kemudian di PPP, PBB, dan Partai Keadilan (PKS).
- Pada era 1970-1990-an, Persis mulai lebih moderat (di bawah pengaruh Dr. H. Abdul Qadir).
4. Masa Reformasi (1998-Sekarang)
- Persis terus berkembang dengan pesantren dan majelis taklim di berbagai kota.
- Persis menjadi salah satu organisasi yang mempengaruhi gerakan Salafi (Wahabi) di Indonesia, bersama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), dan lainnya.
- Tokoh-tokoh Persis yang terkenal di era modern: KH Abdurrahman Wahid? (bukan, Gus Dur dari NU). Tokoh Persis modern: Prof. Dr. K.H. Aceng Zakaria, Dr. H. Jejen Zainuddin, dll.
📖 Persis dan Gerakan Salafi (Wahabi) di Indonesia
Persis sering dianggap sebagai pelopor gerakan Salafi (Wahabi) di Indonesia. Ajaran Persis (anti-bid’ah, anti-khurafat, anti-syirik, anti-taklid, kembali ke Al-Qur’an dan Hadis) sangat mirip dengan ajaran Salafi. Namun, Persis membedakan diri dengan tidak mengaku sebagai “Salafi” dan lebih memilih istilah “Ahlussunnah wal Jama’ah” (dengan interpretasi yang berbeda dengan NU). Persis juga lebih moderat dibandingkan kelompok Salafi ekstrem yang sering mengkafirkan kelompok lain (takfiri).
G. PERBANDINGAN PERSIS DENGAN MUHAMMADIYAH DAN NU
| Aspek | Persis | Muhammadiyah | NU |
|---|---|---|---|
| Tahun berdiri | 1923 | 1912 | 1926 |
| Pendiri | KH Zamzam, KH Ahmad Hassan, dll | KH Ahmad Dahlan | KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah |
| Asas/ideologi | Salafi (purifikasi, kembali ke Al-Qur’an dan Hadis, anti-mazhab) | Modernis (pembaruan pendidikan, sosial, purifikasi) | Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA) — moderat, toleran, melestarikan tradisi |
| Sikap terhadap mazhab | Anti mazhab (langsung ke Al-Qur’an dan Hadis) | Tidak terikat mazhab (kembali ke Al-Qur’an dan Hadis) | Mengikuti mazhab Syafi’i (dengan toleransi mazhab lain) |
| Sikap terhadap tahlilan, maulid, ziarah kubur berlebihan | Menolak (dianggap bid’ah dan khurafat) | Menolak (dianggap bid’ah) | Menerima (sebagai bid’ah hasanah dan tradisi) |
| Fokus utama | Dakwah bil lisan (ceramah), tabligh, penerbitan | Pendidikan modern, kesehatan, sosial | Pendidikan pesantren, pelestarian tradisi ASWAJA, sosial |
| Jumlah anggota | Sekitar 1-2 juta (perkiraan) | 20-30 juta | 40-50 juta |
| Pesantren/sekolah | Puluhan pesantren, ratusan madrasah | Ribuan sekolah, 172 perguruan tinggi | Ribuan pesantren, ribuan madrasah |
🌿 Persis di Era Kontemporer
Saat ini, Persis tidak sebesar NU atau Muhammadiyah dalam hal jumlah anggota (diperkirakan 1-2 juta orang). Namun, pengaruh pemikiran Persis sangat besar terhadap gerakan Salafi di Indonesia. Banyak dai-dai Salafi (seperti Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Abdul Hakim bin Amir Abdat, dll) yang terpengaruh oleh ajaran KH Ahmad Hassan dan Persis. Persis juga aktif dalam dakwah melalui media sosial dan pengajian rutin di berbagai kota.
H. KESIMPULAN: PERSIS, PELOPOR GERAKAN SALAFI DI INDONESIA
Persatuan Islam (Persis) adalah organisasi Islam puritan (Salafi) tertua di Indonesia yang didirikan pada tanggal 12 September 1923 di Bandung oleh KH Zamzam, KH Ahmad Hassan, Oemar Said Tjokroaminoto, dan lainnya. Persis lahir sebagai reaksi terhadap praktik bid’ah, khurafat, syirik, dan taklid buta yang masih marak di kalangan umat Islam. Persis menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis, menolak taklid buta, dan menghapuskan tradisi-tradisi yang dianggap tidak sesuai dengan sunnah (tahlilan, maulid, ziarah kubur berlebihan, tawasul, dll).
Tokoh utama Persis adalah KH Ahmad Hassan (1887-1958), seorang orator ulung dan penulis produktif yang dijuluki “Rasyid Ridha-nya Indonesia”. Ia sangat berpengaruh dalam membentuk pemikiran Persis dan gerakan Salafi di Indonesia. Persis juga memiliki amal usaha di bidang dakwah (majelis ilmi), penerbitan (majalah Pembela Islam, Al-Mizan), dan pendidikan (Pesantren Persis).
Berbeda dengan Muhammadiyah (yang lebih fokus pada pendidikan dan sosial) dan NU (yang melestarikan tradisi ASWAJA), Persis lebih fokus pada dakwah purifikasi dan tabligh. Meskipun jumlah anggotanya tidak sebesar NU dan Muhammadiyah, pengaruh pemikiran Persis sangat besar terhadap gerakan Salafi di Indonesia.
Kita sebagai generasi penerus harus menghormati jasa para pendiri Persis yang telah berjuang memurnikan akidah umat Islam Indonesia, meskipun kita mungkin tidak sepakat dengan semua ajaran mereka. Perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah (cabang) adalah rahmat, selama tidak memecah belah persatuan umat Islam Indonesia.
“Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Persis mengajak dengan cara yang baik (bukan paksaan), meskipun kritik mereka terhadap tradisi seringkali terasa keras.
Wallahu a’lam bish-shawab.
I. DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim.
Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Bandung: Mizan.
Hamka. (1975). Sejarah Umat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Noer, Deliar. (1980). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES.
Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.
Hassan, Ahmad. (1950). Al-Furqan: Kumpulan Karangan. Bandung: Persis.
Steenbrink, Karel A. (1994). Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Jakarta: LP3ES.
Shihab, Alwi. (1998). Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah dan Persis terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia. Bandung: Mizan.
Mulkhan, Abdul Munir. (1990). Kiai Ahmad Dahlan: Jejak Pembaruan Sosial dan Keagamaan. Jakarta: Pustaka Pelajar.
PP Persis. (2013). Sejarah Perjuangan Persatuan Islam. Bandung: Penerbit Persis.
Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan “Pendidikan Pondok Pesantren Nonformal Ma’hadul Mustaqbal” dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, kami dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.
- Penulis: mahadulmustaqbal

Saat ini belum ada komentar