Breaking News
light_mode
Istilah Penting
Beranda » SEJARAH » SJR-95: Peran Kiai dalam Politik di Masa Awal Kemerdekaan

SJR-95: Peran Kiai dalam Politik di Masa Awal Kemerdekaan

  • account_circle mahadulmustaqbal
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 26
  • comment 0 komentar






SJR-95: Peran Kiai dalam Politik di Masa Awal Kemerdekaan – Ma’hadul Mustaqbal


SJR-95: Peran Kiai dalam Politik di Masa Awal Kemerdekaan

🖼️ INFORMASI GAMBAR

Alt-text: Ilustrasi para kiai dan ulama sedang bermusyawarah di BPUPKI dan PPKI, foto KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH M. Hasyim, KH Bisri Syansuri, serta suasana sidang kabinet pertama Indonesia yang melibatkan tokoh-tokoh agama.

Caption: Peran Kiai dalam Politik di Masa Awal Kemerdekaan: mengulas secara komprehensif tentang keterlibatan para kiai dan ulama dalam kancah perpolitikan Indonesia pasca-proklamasi kemerdekaan (1945-1950), termasuk dalam BPUPKI, PPKI, kabinet-kabinet awal, pembentukan Masyumi, serta perjuangan mempertahankan kemerdekaan melalui Resolusi Jihad.

Description: Infografis tentang peran kiai dalam politik awal kemerdekaan yang mencakup: (1) Keterlibatan ulama dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), (2) Peran kiai dalam perumusan Pancasila dan UUD 1945, (3) Resolusi Jihad NU (22 Oktober 1945) sebagai landasan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, (4) Kiai sebagai anggota kabinet (KH Wahid Hasyim sebagai Menteri Agama pertama), (5) Pembentukan Masyumi (Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia) sebagai wadah politik ulama, (6) Tokoh-tokoh kiai yang aktif di politik (KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Bisri Syansuri, KH A. Wahid Hasyim, dll), (7) Peran kiai dalam mempertahankan NKRI dari agresi militer Belanda, (8) Warisan perjuangan politik kiai bagi bangsa Indonesia.

A. PENDAHULUAN: KIAI DAN POLITIK, SEBUAH KENISCAYAAN SEJARAH

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, para kiai (ulama) tidak hanya berperan sebagai pemimpin spiritual dan pendidik di pesantren, tetapi juga sebagai pemimpin politik dan negarawan yang turut menentukan arah bangsa. Pada masa awal kemerdekaan (1945-1950), peran kiai dalam politik menjadi sangat krusial. Mereka tidak hanya duduk di badan-badan kenegaraan seperti BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), tetapi juga menjadi menteri dalam kabinet, mendirikan partai politik, serta menggerakkan massa untuk mempertahankan kemerdekaan melalui fatwa jihad.

Keterlibatan kiai dalam politik pada masa awal kemerdekaan adalah keniscayaan sejarah. Para kiai memiliki basis massa yang besar (melalui pesantren dan jamaah pengajian), legitimasi moral-spiritual, serta pengalaman organisasi yang matang. Tanpa dukungan para kiai dan santri, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 mungkin tidak akan bertahan menghadapi agresi militer Belanda yang dilancarkan pada 1947 dan 1948.

Artikel ini akan mengupas secara mendalam tentang peran kiai dalam politik di masa awal kemerdekaan: keterlibatan dalam BPUPKI dan PPKI, peran dalam perumusan Pancasila dan UUD 1945, Resolusi Jihad NU (22 Oktober 1945) sebagai landasan perjuangan, kiai sebagai anggota kabinet (termasuk KH Wahid Hasyim sebagai Menteri Agama pertama), pembentukan Masyumi (Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia), serta tokoh-tokoh kiai yang aktif di politik (KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Bisri Syansuri, dll).

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 104)

Para kiai mengartikan “amar makruf nahi munkar” tidak hanya dalam ranah ibadah, tetapi juga dalam ranah politik dan kenegaraan.

B. KIAI DALAM BPUPKI DAN PPKI (1945)

1. Latar Belakang BPUPKI dan PPKI

Pada tanggal 1 Maret 1945, Jepang mengumumkan pembentukan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Junbi Cosakai. BPUPKI bertugas untuk menyelidiki dan mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kemerdekaan Indonesia. BPUPKI beranggotakan 62 orang (ditambah 7 anggota tambahan), terdiri dari tokoh-tokoh nasional, termasuk para kiai dan ulama.

Setelah BPUPKI menyelesaikan tugasnya (menyusun rancangan UUD dan Pancasila), dibentuklah PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Junbi Inkai pada tanggal 7 Agustus 1945. PPKI bertugas untuk mempersiapkan pelaksanaan kemerdekaan Indonesia. PPKI beranggotakan 21 orang (kemudian ditambah menjadi 27 orang), yang juga mencakup para kiai.

2. Kiai yang Menjadi Anggota BPUPKI

  • KH Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) — salah satu anggota BPUPKI yang paling disegani. Ia mewakili golongan Islam tradisionalis.
  • KH Abdul Wahid Hasyim (putra KH Hasyim Asy’ari) — anggota BPUPKI yang mewakili golongan muda NU.
  • KH Mas Mansur (tokoh Muhammadiyah) — anggota BPUPKI yang mewakili golongan Islam modernis.
  • KH Bisri Syansuri (Pendiri Pesantren Denanyar) — anggota BPUPKI.
  • KH M. Hasyim (tokoh NU) — anggota BPUPKI.
  • Kiai Haji Abdul Halim (tokoh Persatuan Umat Islam) — anggota BPUPKI.

3. Kiai yang Menjadi Anggota PPKI

  • KH Hasyim Asy’ari (Rais Akbar NU) — anggota PPKI (salah satu dari 21 anggota awal).
  • KH Abdul Wahid Hasyim — anggota PPKI.
  • KH Mas Mansur — anggota PPKI.
  • KH Bisri Syansuri — anggota PPKI (pengganti).

🌿 KH Hasyim Asy’ari (1871-1947) – Rais Akbar NU di BPUPKI/PPKI

Peran di BPUPKI/PPKI: KH Hasyim Asy’ari adalah tokoh kunci dalam perumusan dasar negara. Ia adalah penghubung antara golongan Islam dan golongan nasionalis. Ia mendukung Pancasila sebagai dasar negara, dengan syarat bahwa sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dipahami sebagai kewajiban bagi umat Islam untuk menjalankan syariat Islam secara pribadi (bukan negara Islam). Ia juga mengusulkan bahwa Presiden Indonesia haruslah seorang Muslim (yang kemudian disetujui dalam PPKI).

🌿 KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1953) – Putra KH Hasyim Asy’ari

Peran di BPUPKI/PPKI: Ia adalah anggota termuda di BPUPKI (usia 31 tahun). Ia menjadi juru bicara golongan Islam dalam sidang BPUPKI. Ia berjuang agar Islam menjadi dasar negara (Piagam Jakarta), tetapi akhirnya menerima kompromi dengan penghapusan “tujuh kata” (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya) demi persatuan bangsa.

📖 Peran Kiai dalam Perumusan Pancasila dan Piagam Jakarta

Pada tanggal 22 Juni 1945, BPUPKI membentuk Panitia Sembilan yang bertugas merumuskan dasar negara. Panitia Sembilan beranggotakan 4 orang dari golongan Islam (termasuk KH Abdul Wahid Hasyim, KH Hasyim Asy’ari? dan KH Mas Mansur) dan 5 orang dari golongan nasionalis. Panitia Sembilan menghasilkan Piagam Jakarta (Jakarta Charter) yang mencantumkan sila pertama: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Namun, pada tanggal 18 Agustus 1945, dalam sidang PPKI, tujuh kata (“dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”) dihapus dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” atas usulan tokoh nasionalis (terutama dari Indonesia Timur) dan persetujuan KH Hasyim Asy’ari serta tokoh Islam lainnya demi persatuan bangsa. Keputusan ini kontroversial, tetapi dianggap sebagai kompromi yang bijaksana untuk menjaga keutuhan NKRI.

C. RESOLUSI JIHAD NU (22 OKTOBER 1945)

1. Latar Belakang Resolusi Jihad

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sekutu (Inggris) dan Belanda (NICA) datang kembali ke Indonesia. Belanda ingin menjajah kembali, sementara Sekutu bertugas melucuti tentara Jepang. Pada bulan Oktober 1945, pasukan Sekutu mendarat di Surabaya dan mulai mempersenjatai kembali tentara Jepang serta mengibarkan bendera Belanda di hotel-hotel.

Pada tanggal 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari (Rais Akbar NU) mengeluarkan Resolusi Jihad yang isinya:

  • Hukum memerangi Sekutu dan Belanda adalah fardhu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim laki-laki dewasa yang mampu).
  • Orang yang mati dalam pertempuran adalah syahid.
  • Umat Islam wajib mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan seluruh jiwa dan raga.

📖 Isi Lengkap Resolusi Jihad (22 Oktober 1945)

“Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka wajib bagi setiap Muslim, terutama yang tinggal di daerah-daerah yang telah diduduki musuh, untuk mengangkat senjata melawan musuh dan mempertahankan tanah air dan agama. Hukum memerangi musuh (Belanda dan Sekutu) adalah fardhu ‘ain. Barang siapa yang mati dalam pertempuran, ia mati syahid.”

2. Dampak Resolusi Jihad: Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Resolusi Jihad NU menjadi pemicu Pertempuran Surabaya (10 November 1945). Ribuan santri, pemuda, dan rakyat Surabaya, yang dipimpin oleh Bung Tomo (tokoh NU), Arek-arek Suroboyo, serta para kiai dan santri, bangkit melawan Sekutu. Pertempuran berlangsung sengit selama 3 minggu (27 Oktober – 20 November 1945). Ribuan pejuang gugur, termasuk ribuan serdadu Inggris.

Tanggal 10 November kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tanpa Resolusi Jihad, mungkin semangat perlawanan rakyat Indonesia tidak akan sebesar itu.

🗓️ Garis Waktu Peran Kiai di Awal Kemerdekaan

  • 1 Maret 1945: BPUPKI dibentuk. Para kiai menjadi anggota.
  • 22 Juni 1945: Piagam Jakarta dirumuskan oleh Panitia Sembilan (termasuk kiai).
  • 17 Agustus 1945: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
  • 18 Agustus 1945: PPKI mengesahkan UUD 1945 (dengan perubahan Piagam Jakarta).
  • 22 Oktober 1945: Resolusi Jihad NU dikeluarkan.
  • 10 November 1945: Pertempuran Surabaya (Hari Pahlawan).
  • 3 Januari 1946: KH Wahid Hasyim diangkat sebagai Menteri Agama pertama.
  • 7 November 1945: Masyumi (partai politik) didirikan.
  • 1947-1948: Agresi Militer Belanda I dan II; kiai aktif memimpin perlawanan gerilya.

D. KIAI SEBAGAI ANGGOTA KABINET (MENTERI)

1. KH Wahid Hasyim: Menteri Agama Pertama Indonesia (1946-1949)

KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1953) adalah Menteri Agama pertama Republik Indonesia. Ia menjabat dalam Kabinet Syahrir II (1946-1947) dan beberapa kabinet berikutnya. Sebagai Menteri Agama, ia berjasa dalam:

  • Mendirikan Kementerian Agama (3 Januari 1946) sebagai lembaga yang mengurus urusan agama Islam dan agama lainnya di Indonesia.
  • Mengirimkan delegasi haji Indonesia pertama ke Mekkah (1947).
  • Memperjuangkan pendidikan agama di sekolah-sekolah umum.
  • Mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) di Yogyakarta (cikal bakal UIN/IAIN).
  • Memperjuangkan hak-hak umat Islam di parlemen.

🌿 KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1953) – Menteri Agama Pertama

Lahir: 1914 di Jombang, Jawa Timur (putra KH Hasyim Asy’ari).

Pendidikan: Pesantren Tebuireng, kemudian belajar di Mekkah.

Peran: Anggota BPUPKI/PPKI, Menteri Agama pertama (1946-1949), pendiri Masyumi, tokoh NU yang sangat berpengaruh. Ia wafat dalam kecelakaan mobil pada tahun 1953. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2014.

2. Kiai Lain yang Menjadi Menteri di Awal Kemerdekaan

  • KH Mas Mansur (tokoh Muhammadiyah) — menjabat sebagai Menteri Negara dalam Kabinet Syahrir II (1946-1947).
  • KH Bisri Syansuri — pernah menjadi anggota parlemen (KNIP) dan terlibat dalam kabinet.
  • KH M. Hasyim — menjadi anggota KNIP dan terlibat dalam pemerintahan.

📖 Kementerian Agama: Warisan Perjuangan Kiai

Kementerian Agama didirikan pada tanggal 3 Januari 1946 atas usulan KH Wahid Hasyim dan disetujui oleh Presiden Soekarno. Tujuan pendirian Kementerian Agama adalah untuk mengurus urusan agama Islam (haji, wakaf, zakat, pendidikan agama, pengadilan agama) serta urusan agama-agama lain (Kristen, Katolik, Hindu, Buddha). Hingga saat ini, Kementerian Agama terus eksis dan menjadi salah satu kementerian terpenting di Indonesia.

E. PEMBENTUKAN MASYUMI (PARTAI MAJELIS SYURO MUSLIMIN INDONESIA)

1. Latar Belakang Berdirinya Masyumi

Pada tanggal 7 November 1945, di Yogyakarta, para tokoh Islam (termasuk kiai, cendekiawan, dan aktivis) mendirikan Masyumi (Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Masyumi adalah partai politik Islam terbesar pada masa awal kemerdekaan. Tokoh-tokoh Masyumi:

  • KH Hasyim Asy’ari (Rais Akbar NU) — sebagai Ketua Umum pertama Masyumi.
  • KH Abdul Wahid Hasyim — sebagai sekretaris atau wakil ketua.
  • KH Mas Mansur (Muhammadiyah) — sebagai tokoh utama.
  • Muhammad Natsir (tokoh Persis) — sebagai tokoh penting Masyumi.
  • Sukiman Wirjosandjojo (tokoh Islam) — sebagai tokoh Masyumi.
  • Kiai Haji Abdul Halim — tokoh Persatuan Umat Islam.

2. Tujuan Masyumi

  • Memperjuangkan Islam sebagai dasar negara (meskipun kemudian menerima Pancasila sebagai kompromi).
  • Memperjuangkan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  • Memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari agresi militer Belanda.
  • Menjadi wadah bagi semua golongan Islam (NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dll) untuk bersatu.

3. Peran Masyumi dalam Perjuangan Kemerdekaan

  • Masyumi mendukung penuh Resolusi Jihad dan menggerakkan laskar-laskar Islam (Hizbullah, Sabilillah, dll) untuk berperang melawan Sekutu dan Belanda.
  • Masyumi menjadi partai terbesar kedua dalam Pemilu 1955 (setelah PNI), meraih 20,9% suara.
  • Masyumi beberapa kali masuk dalam kabinet (koalisi) pada masa Demokrasi Liberal.
  • Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960 karena dituduh terlibat dalam PRRI/Permesta (pemberontakan daerah).

📖 Masyumi: Wadah Politik Ulama dan Cendekiawan Islam

Masyumi adalah partai Islam terbesar dalam sejarah Indonesia. Tokoh-tokohnya adalah para kiai, ulama, dan cendekiawan Muslim terkemuka: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Mas Mansur, Muhammad Natsir, Mohamad Roem, Prawoto Mangkusasmito, Burhanuddin Harahap, dan lain-lain. Masyumi juga memiliki sayap pemuda (Hizbullah, Sabilillah) dan sayap wanita (Muslimat). Sayangnya, Masyumi dibubarkan oleh Soekarno pada tahun 1960. Para tokoh Masyumi kemudian membentuk partai-partai baru (seperti Parmusi, PBB, PKS, dll).

F. KIAI DALAM PERANG MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN (1947-1949)

1. Agresi Militer Belanda I dan II

Belanda melancarkan dua kali agresi militer untuk merebut kembali Indonesia: Agresi Militer I (21 Juli 1947) dan Agresi Militer II (19 Desember 1948). Pada masa ini, para kiai dan santri berperan aktif dalam perang gerilya melawan Belanda.

2. Peran Kiai dalam Gerilya

  • Para kiai memimpin laskar-laskar santri (Hizbullah, Sabilillah, Lasykar Ansor, dll) dalam pertempuran di berbagai front (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, dll).
  • Pesantren-pesantren menjadi basis perlawanan dan tempat persembunyian pejuang.
  • KH Wahid Hasyim dan tokoh Masyumi lainnya menjadi koordinator perlawanan di Yogyakarta (ibu kota RI saat itu).
  • Para kiai mengeluarkan fatwa jihad kembali untuk memerangi Belanda.

📖 Serangan Umum 1 Maret 1949: Peran Santri dan Kiai

Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta adalah salah satu operasi militer terbesar yang melibatkan pasukan TNI, laskar santri, dan rakyat. Serangan ini diprakarsai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tetapi didukung penuh oleh para kiai dan santri. Tujuan serangan adalah untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia masih ada dan mampu melawan Belanda. Serangan ini berhasil dan menjadi salah satu faktor yang mendorong Belanda untuk mengakui kedaulatan Indonesia (KMB 1949).

G. TOKOH-TOKOH KIAI YANG AKTIF DI POLITIK AWAL KEMERDEKAAN

🌿 KH Hasyim Asy’ari (1871-1947) – Rais Akbar NU

Anggota BPUPKI/PPKI, perumus Pancasila, pengusul Resolusi Jihad, Ketua Umum Masyumi pertama. Ia adalah arsitek utama keterlibatan NU dan kiai dalam politik. Wafat 1947, dianugerahi Pahlawan Nasional (1964).

🌿 KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1953) – Menteri Agama Pertama

Anggota BPUPKI/PPKI, Menteri Agama pertama (1946-1949), pendiri Masyumi, tokoh NU. Ia berjasa dalam pendirian Kementerian Agama, pengiriman haji Indonesia pertama, dan pendidikan agama di sekolah. Wafat 1953, dianugerahi Pahlawan Nasional (2014).

🌿 KH Mas Mansur (1896-1946) – Tokoh Muhammadiyah

Anggota BPUPKI/PPKI, Menteri Negara (1946), tokoh Masyumi. Ia wafat pada 1946 (usia 50 tahun).

🌿 KH Bisri Syansuri (1886-1980) – Pendiri Pesantren Denanyar

Anggota BPUPKI/PPKI, anggota parlemen (KNIP), tokoh NU yang sangat berpengaruh. Ia juga mertua dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

🌿 Muhammad Natsir (1908-1993) – Tokoh Persis

Tokoh Masyumi, Perdana Menteri Indonesia (1950-1951), Menteri Penerangan (1946). Ia adalah kiai modernis yang sangat berpengaruh. Ia juga pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).

🌿 KH A. Hasyim (1900-1970) – Tokoh NU

Anggota BPUPKI, anggota KNIP, tokoh Masyumi.

📖 Warisan Perjuangan Politik Kiai bagi Indonesia

  • Pancasila dan UUD 1945: Kiai berperan dalam perumusan dasar negara dan konstitusi.
  • Kementerian Agama: Lembaga yang mengurus urusan agama hingga saat ini.
  • Pendidikan agama di sekolah: Berkat perjuangan KH Wahid Hasyim, pelajaran agama menjadi wajib di sekolah-sekolah umum.
  • Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan: Fatwa jihad yang memicu Pertempuran Surabaya (10 November).
  • Partai-partai Islam: Masyumi, PKB, PPP, PBB, PKS, dll — semua berakar dari perjuangan politik kiai di masa awal kemerdekaan.
  • Persatuan Indonesia: Kiai memilih kompromi (menghapus tujuh kata dari Piagam Jakarta) demi menjaga keutuhan NKRI.

H. KESIMPULAN: KIAI SEBAGAI NEGARAWAN

Peran kiai dalam politik di masa awal kemerdekaan (1945-1950) adalah sangat fundamental dan tidak dapat diabaikan. Para kiai tidak hanya duduk di BPUPKI dan PPKI, merumuskan Pancasila dan UUD 1945, tetapi juga menjadi menteri, anggota parlemen, pendiri partai politik, serta penggerak jihad melawan Sekutu dan Belanda. Resolusi Jihad NU (22 Oktober 1945) yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari menjadi pemicu Pertempuran Surabaya (10 November 1945) — yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kiai juga berjasa dalam mendirikan Kementerian Agama (3 Januari 1946) melalui KH Wahid Hasyim, yang menjadi Menteri Agama pertama. Kementerian ini hingga saat ini mengurus urusan haji, wakaf, zakat, pendidikan agama, dan pengadilan agama. Kiai juga membentuk Masyumi (1945), partai politik Islam terbesar pada masanya, yang menjadi wadah perjuangan umat Islam di parlemen.

Yang tidak kalah penting, para kiai memilih kompromi dalam perumusan Pancasila (menghapus tujuh kata dari Piagam Jakarta) demi menjaga persatuan bangsa. Mereka meletakkan kepentingan NKRI di atas kepentingan kelompok. Sikap kenegarawanan inilah yang patut diteladani oleh generasi penerus.

Kita sebagai generasi penerus harus menghormati jasa para kiai yang telah berjuang di jalur politik untuk mempertahankan kemerdekaan dan membangun fondasi negara. Semoga perjuangan mereka terus menginspirasi kita dalam menjaga keutuhan NKRI dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Para kiai tidak pernah lupa kepada Allah, meskipun sibuk dengan urusan politik dan kenegaraan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

I. DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim.

Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Bandung: Mizan.

Feillard, Andrée. (1999). NU Vis-à-vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk, dan Makna. Yogyakarta: LKiS.

Hamka. (1975). Sejarah Umat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Kahin, George McTurnan. (2005). Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Surakarta: UNS Press.

Noer, Deliar. (1980). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES.

Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.

Wahid, Abdurrahman. (2006). Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Jakarta: The Wahid Institute.

Madjid, Nurcholish. (1997). Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan.

Poesponegoro, M.D. & Notosusanto, N. (2008). Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.

Penulis: Artikel ini ditulis oleh Tim Pengembangan “Pendidikan Pondok Pesantren Nonformal Ma’hadul Mustaqbal” dengan menggunakan referensi kitab tradisional dan modern dengan bantuan article generator AI. Setiap artikel semata untuk kepentingan referensial dan bersifat edukatif baik bagi santri pondok pesantren maupun khalayak umum. Jika ada konten atau pandangan yang tidak berkenan, kami dengan senang hati menerima kritik, saran dan perbaikan yang konstruktif yang bisa dikirimkan ke alamat email resmi pondok di admin@mahadulmustaqbal.com atau hubungi langsung di kontak ini +6285136056172 / +6282342739583. Terima kasih.

🏷️ 30 TAGS ARTIKEL

Peran Kiai dalam Politik Kiai di BPUPKI Kiai di PPKI KH Hasyim Asy’ari KH Wahid Hasyim
KH Mas Mansur KH Bisri Syansuri Muhammad Natsir Resolusi Jihad 1945 Pertempuran Surabaya 10 November
Hari Pahlawan Menteri Agama Pertama Kementerian Agama RI Piagam Jakarta Jakarta Charter Panitia Sembilan
Masyumi Partai Islam NU dalam Politik Muhammadiyah dalam Politik Peran Ulama Kemerdekaan Fatwa Jihad Ulama
Agresi Militer Belanda Perang Gerilya Santri Serangan Umum 1 Maret 1949 Pahlawan Nasional Kiai Ma’hadul Mustaqbal
Sejarah Nusantara Kiai dan Pancasila Kiai dan UUD 1945 Ulama Indonesia Kiai Negarawan


  • Penulis: mahadulmustaqbal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less